
Erlang mendengar suara Yura yang menangis terisak di kamarnya, betapa pilu dan menyayat hati. Erlang yang merasa khawatir, segera mendatangi gadis itu.
Tanpa mengetuk pintu, seperti biasa, Erlang langsung masuk dan benar saja, dia mendapati Yura menangis duduk di lantai, dengan setengah tubuhnya di atas tempat tidur.
"Apa yang terjadi? Ada apa?" tanya Erlang panik mendekati gadis itu.
"Aku sudah memperingatkanmu, sewaktu-waktu Jessica bisa saja mengatakan semuanya pada Om Roy dan hari ini apa yang aku takutkan itu terjadi!" teriak Yura, hatinya begitu sedih, pelupuk matanya masih mengingat bagaimana cara Roy memandangnya.
Rasa sakit dan kecewa itu membekas di wajah pria itu.
"Apa sebenarnya yang terjadi aku tidak paham!"
"Harusnya kau bersikap baik terhadap Jessica, agar gadis itu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Om Roy. Kau tahu, ayahmu sudah mengetahui semuanya, dia sudah mengetahui apa yang sudah kita lakukan dan dia begitu marah dan membenciku," ucap Yura masih dengan suara tinggi.
Tubuh Erlang merosot, ikut duduk di samping Yura, walaupun dia menginginkan hal itu terjadi namun, ketika membayangkan ayahnya akan begitu sedih dan kecewa kepadanya membuat keberaniannya menciut.
"Jangan menangis lagi, aku mohon. Aku akan bicara pada papa. Aku siap menerima konsekuensi yang akan dia berikan padaku atas kesalahan yang aku perbuat, tapi satu hal, mencintaimu bukan suatu kesalahan dan aku tidak malu mengakuinya. Aku mohon padamu, Yura kau juga harus memperjuangkan cintamu. Aku tidak melarangmu untuk menghargai dan menyayangi ayahku tapi aku tahu di dalam sini, hanya ada aku!" seru Erlang menunjuk dada Yura dengan telunjuknya.
Setelah mengatakan hal itu, Erlang mencium kening Yura lalu bangkit meninggalkan gadis itu. Dia tidak ingin membuat Yura semakin sedih, ini juga kesalahannya, jadi dia yang akan maju dan berbicara kepada ayahnya.
Erlang mencari ayahnya ke kamar, tapi pria itu tidak ada di sana. Erlang tebak Roy mungkin sedang mengurung diri di ruang kerjanya, segera Erlang menuju ke sana dan benar saja pria itu sedang termenung di atas meja kerjanya. Tidak usah ditanyakan lagi pasti sedang memikirkan masalah mereka.
"Papa, boleh aku masuk?" tanya Erlang mengagetkan Roy, menarik pria itu kembali ke alam sadarnya.
Tatapan Roy yang terluka melihat ke arah Erlang membuat putranya itu semakin bersalah.
Karena tidak ada jawaban dari Roy, Erlang melangkah masuk duduk di depan Roy yang melihat dirinya acuh tak acuh. Keinginan pria itu ingin sekali memaki, bahkan memukul Erlang, tapi entah mengapa, setiap melihat wajah Erlang, maka dia juga melihat Aran. Sakit sekali ingin membenci, tapi tidak bisa. Ingin memaafkan, namun sakit.
__ADS_1
"Papa, aku-"
"Kau tidak perlu mengatakan apapun!"
"Tapi Papa harus mendengarkan penjelasanku," ujar Erlang memaksa.
Namun, rasa sakit Roy membuatnya benar-benar tidak ingin bicara dengan Erlang. Dia belum siap membahas hal menyakitkan ini.
Erlang tetap bersikeras agar menjelaskan semuanya pada sang ayah, meski pria itu tidak mau mendengarkan.
"Ketika pertama kali Papa membawa Aran ke rumah ini, aku sama sekali tidak punya perasaan apapun padanya. Awal, aku justru ingin mengusirnya dari rumah ini, tapi setelah berjalannya waktu, entah sejak kapan, aku pun gak tahu, aku jatuh cinta padanya!"
"Cukup! Papa bilang cukup! Apa sedikitpun kau tidak bisa menghargai perasaan Papa?" bentak Roy memukul meja dengan dengan tangannya. Geram, emosi dan muak. Dia semakin tidak ingin bicara pada Erlang.
"Papa harus terima! Yura juga mencintaiku, Papa. Awalnya dia menolakku, tapi dengan jahatnya aku memperdaya nya hingga dia tidak kuasa untuk menolak ku. Aku bahkan pernah menawarkan untuk lari, pergi dari mu, tapi Yura menolak, dia tidak ingin meninggalkan mu, karena kau sudah sangat baik padanya!"
Perkataan Erlang jelas bisa ditangkap indra pendengaran Roy, tapi masih menolak untuk memberikan perhatiannya pada Erlang.
Roy jadi ingat saat dia menawarkan untuk menceraikan jodoh bagi Yura, gadis itu dengan cepat menolak. Ternyata dia memang sudah memiliki tambatan hati.
"Keluarlah Erlang! Aku tidak mau bicarakan ini lagi. Terserah kalian mau apa!"
Seandainya mengikuti kata hatinya, Erlang akan membawa Yura pergi dari rumah itu, tapi masalahnya, Yura tidak akan mau ikut dengan nya dan meninggalkan Roy.
"Maafkan lah kami, Papa. Seandainya saja aku bisa membuang perasaan ini, pasti aku lakukan. Aku juga tidak ingin menyakiti hatimu. Kalau aku bisa memerintahkan hatiku, aku akan bilang jangan jatuh cinta pada Yura, tapi aku gak bisa Papa. Terlebih setelah aku tahu, kalau Yura lah gadis yang sudah aku renggut kegadisannya malam saat aku mabuk, aku jadi semakin ingin bersamamu, menebus kesalahanku."
"Apa yang kau bicarakan? Jadi, kau pria yang sudah memperkosanya di hotel itu?"
__ADS_1
"Iya, tapi bisakah jangan menggunakan istilah diperkosa? Aku sama sekali tidak memperkosanya, Papa. Please...."
Amarah Roy semakin tak terkendali, dia tidak bisa lagi memaafkan Erlang. "Keluar! Aku malu punya anak seperti mu! Pergi kau dari rumah ini!"
Seketika wajah Erlang berubah, terlihat begitu terkejut dan sedikit terperangah melihat amarah Roy. Selama ini pria itu tidak pernah menunjukkan amarahnya, bahkan Erlang pikir Roy tidak tahu bagaimana cara marah.
"Papa..."
"Aku bilang keluar!"
Rahang Erlang mengeras. Dia juga merasa marah karena Roy mengusirnya dari rumah itu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Erlang balik badan dan pergi dari sana. Yura sejak tadi mondar-mandir menunggu Erlang keluar dari ruang kerja Roy, ingin mengetahui hasil pembicaraan mereka.
"Apa kata Om Roy? Apa dia mau memaafkanmu?" cercal Yura ingin memastikan apakah kemarahan Roy sudah menyusut dan mau memaafkan mereka atau tidak.
Erlang menggeleng. "Yura, ikut denganku. Bawa Kaisar, aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan juga anak itu. Aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri. Aku mohon, ikutlah denganku," pinta Erlang menggenggam tangan Yura. Harapannya tinggal Yura, karena ayahnya sudah tidak mau melihatnya lagi.
"Ikut denganmu? Kemana?" Yura dilanda kebingungan. Kalau Erlang saja yang menjadi anaknya tidak mendapat maaf dari Roy, apa lagi dirinya.
"Kita pergi dari sini. Tinggalkan rumah ini, tinggalkan Papa," jawabnya dengan deru napas mengejar.
Yura paham sekarang. Erlang kembali mengajaknya kabur. Dia tidak mau meninggalkan Roy, kecuali Roy sendiri yang mengusirnya. Dengan setengah hati, Yura menarik tangan dari genggaman Erlang.
"Aku gak bisa. Aku gak mungkin meninggalkan Om Roy. Dia suamiku yang sah. Aku gak akan kemana-mana, sampai dia sendiri yang mengusirku."
"Jadi kau memilih untuk tetap bersamanya? Meskipun kau mencintaiku?"
__ADS_1
"Sebaiknya kita memang lebih baik berpisah. Hubungan ini terlarang, tidak akan mungkin bisa bersama. Lupakan lah semua tentang kita. Cukuplah sudah kita mengkhianati ayahmu," ucap Yura dengan suara bergetar, lalu pergi dari hadapan Erlang yang masih belum bisa menerima semua keputusan Yura.
"Apakah sedikit saja kau tidak melihat keseriusan ku padamu? Aku sangat mencintaimu, Yura!"