
Kenali nama gue Jung Han Gita. Kalian enggak asing sama marga Jung? Jelas itu marga dari kakek gua Jung Daddy gue yang super duper badboy itu.
Hari ini gue berangkat kampus dan menatap kolom meja gue. Lagi-lagi gue dapat bunga mawar. Sialan banget yang memberi gue bunga mawar.
Gue enggak sama seperti cewek lain yang akan tersipu saat diberikan bunga. Gue itu alergi sama bunga.
“Hacciimmm ... haccimmm ... akhhhh Yohaaaaan!” Gue berteriak memanggil Yohan. Dia ketua kelas di sini dan dia memutar bola matanya jengah. Dia selama ini yang gue minta bantuannya singkirkan bunga-bunga di kolom meja gue.
Jika saja Gata belum menikah, mungkin gue bisa meminta tolong sama dia. Tapi, gue maklum karena Kakak gue itu lagi mengurus suami dan juga keponakan gue Arga.
“Cepetan, ih,” sungut gue kesal.
“Repot banget gue tiap hari bersihin meja lo,” dengus Yohan. Gue acuh dan duduk sambil mengusap hidung gue yang gatal. Awas saja kalau ketemu sama orangnya gue mau cekik.
Hari ini gue belajar dengan malas. Gue harus sebentar lagi wisuda tetapi kemalasan gue semakin bertambah. Apalagi gue kecanduan untuk ikut balapan motor.
Sudah setahun berlalu dan gue belum ketemu dengan Randa. Pria itu hilang ditelan Bumi. Gue kadang memikirkan dia. Entah alasannya apa, gue terus memikirkan perasaannya yang ditinggal Sela.
Sela Sakir wanita hebat yang bertahan sejauh ini dan pergi dengan damai.
“Melamun lo, kesambet entar,” ujar seseorang dan duduk di dekat gue. Nah, ini dia yang masuk di kampus yang sama dengan gue. Dia adalah Alex.
__ADS_1
Kalian ingat Alex enggak? Dia cowok yang gua kalah waktu balapan hahaha. Kasihan banget rekornya pertama kali di kalah sama gue.
“Nanti malam jadi keluar?” tanya. Jadi, kami mau balapan dan kali ini gue lawan cowok dari kampus sebelah. Namanya enggak gue tahu.
“Pasti gue keluar,” jawab gue mantap. Dia mengangguk dan menyimpan tasnya. Alex memperhatikan gue intes. Kebiasaannya sudah lama.
“Lex, gue lagi-lagi dapat bunga. Gue alergi banget sama bunga,” keluh gue membuat dia terbahak-bahak.
“Aneh lo, enggak pernah berubah dan selalu ada keunikan lo yang gue temui,” ujar Alex sambil mengacak rambut panjang Gita.
“Selamat pagi anak-anak!” Datanglah Dosen dan kami menjawab serentak, ”Pagi, Bu!”
Belajar lagi dan gue enggak bisa bolos, karena gue harus memenuhi nilai IPK gue. Bisa-bisa gue enggak wisuda kalau bolos terus.
Di sebuah kantin kampus dengan hidangan makanan berbagai menu, gue dan Alex langsung makan. Banyak cewek menatap ke arah kami. Wajah Alex tampan dan di atas rata-rata.
“Gila! Ada senior baru di Kampus! Dia lanjutkan S3-nya. Aaaaa ... pokoknya ganteng banget.” Samar-samar gue dengar gosip alay cewek-cewek di sini.
“Iya, ganteng banget!” Gue langsung menyelesaikan minuman gue dan menyuruh Alex membayar. Dompet gue tebal, sih, Cuma kalau ada teman tajir, kenapa enggak minta traktiran saja? Hehehe.
“Sekali-kali lo yang traktir gue, Gita,” kata Alex dan gue mengangguk malas.
__ADS_1
“Gue traktir lo minum saja,” ujar gue membuat dia mendengus. Dia tahu gue traktir dia minum soda.
“Ayo,” ajaknya dan merangkul pundak gue. Gue sama Alex sudah seperti sahabat. Gue dan dia sama-sama punya hobi yang sama dan kami juga nyambung banget.
“Mau ke mana habis ini?” tanyanya. Gue menatap yang melingkar di tangan gue. Baru jam tiga sore. Gue malas pulang dan ketemu Ryuka di Rumah.
“Jalan saja, yuk. Malas banget kalau pulang ke rumah,” ujar gue dan Alex tampak berpikir. Dia menarik gue ke tempat parkir.
“Kita ke Time Zone saja.” Ajaknya. Asyik gue kuras habis lagi dompet Alex. Dia menatap gue datar saat melihat wajah gue menatapnya antusiasi.
“Kali ini yang bayar lo,” ujarnya membuat gue mencibir ke arahnya.
“Kali ini yang bayar lo~” cibir gue mengulang ucapannya. Dia menarik pipi gue keras.
“Alex ...! Sakit anjir!” Gue mengusap pipi gue dan menatap dia tajam. Alex bukan takut malah memasang helmnya dan melajukan motornya.
Aku cepat-cepat memasang helm gue dan mengejar itu bocah tengik.
“Andai kamu tahu, Gita, aku mencintaimu,” batin Alex.
Tbc
__ADS_1
Up crazy enggak? 😂