
Happy Readeing, so please vote dan tinggalkan jejak dan jangan lupa follow.
Pagi ini Gita datang ke kampusnya tidak mendapati bunga mawar seperti setahun belakangan ini. Yohan pun berserta teman kelasnya bingung karena biasanya pagi-pagi pasti gadis itu akan bersin dan mengomel.
“Tumben enggak ada bunga,” ujarnya sambil melihat kolom mejanya.
Alex datang dan melihat Gita tanpa cibiran keras gadis itu. “Tumben enggak bersin,” ejek Alex. Dia duduk dan meletakkan tasnya. Gita menyengir dan menyilangkan kakinya.
“Pagi ini enggak ada bunga mawar. Ini hari bersejarah buat kebebasan gue,” ujar Gita dengan nada semangat. Alex merangkul pundak Gita.
“Ingat nanti malam lo siapain diri buat tanding,” ujar Alex membuat Gita teringat akan pesan semalam. Hampir ia melupakan pesan itu.
“Apa karena itu dia tidak memberiku bunga lagi? Dia ingin menemuiku di area balap,” Batin Gita.
“Melamun saja lo,” sentak Alex membuat Gita kembali sadar dari lamunannya. Ia hanya menyengir saja. Lalu, datang Dosen yang mengajar mereka.
***
Gita POV
Malam ini gue ajak Ryuka sekalian ikut ke Area balap. Mommy dan Daddy tidak ada di rumah, mereka pergi mengunjungi Kak Gata.
Gue melihat Ryuka sudah siap-siap di depan dan gue menghampirinya. “Ka, Yk,” ajak gue.
“Lo berangkat duluan saja, gue mau ke Rumah cewek gua sekalian gua ajak teman-teman gua,” ujarnya. Gue mengangguk dan menaiki si Merah.
__ADS_1
Tiba di sana gue melihat Alex duduk tenang di sana, sementara gue cepat ganti baju dan melihat motor hitam dengan seorang pemuda di atasnya.
“Siapa dia?” tanya gue penasaran. Gue masuk ke sana dengan motor kebanggaan gue. Orang itu menoleh ke arah gue tetapi gue tidak tidak bisa melihat wajahnya terhalang helm full face.
“A you ready?!” Kami berdua mengangguk.
“1 ....”
Brummm ... brummm .....
“2 ... 3!”
“Hoooooooo!” Sorakan mereka terdengar menggema saat kami melajukan motor dengan cepat. Gue fokus ke depan dan berusaha memblock jalanan agar dia tidak bisa mendahului gue.
Dia hilang di pandangan gue sejurus kemudian. Gue panik dan menambah kecepatan gas motor gue. Baru kali ini ada orang yang mengalahkan gue setelah Ryuka dan Daddy.
“Akhhh!”
Brak!
Anjir ... gue jatuh dan gue ketinggalan semakin jauh. Gue yakin dia pasti sudah sampai di sana. Gue bangkit dan tertatih-tatih mengangkat motor gue yang jatuh.
Gue melajukan kembali motor gue dan gue lihat orang itu sudah sampai di sana. Gue lihat tatapan khawatir mereka sama gue. Sialan gue memang sakit jatuh tetapi sakit lagi liat si Merah lecet-lecet.
“Hufghhhh ....” Gue membuka helm gue dan membiarkan rambut gue yang gue ikat asal begitu saja. Gue menoleh ke samping dan melihat orang itu menoleh ke arah gue.
__ADS_1
“Ah, dia pasti menunggu gue ucapin selamat karena menang. Harusnya gue yang bawa pila itu pulang,” batin gue sedih.
“Selamat,” kata gue sambil ulurin tangan. Dia Cuma natap tangan gue. Songong banget, sih.
Dia beranjak dari atas motornya dan membuka jaketnya di depan gue. Dia mengeluarkan bunga di depan gue.
What the hell! Ini bunga mawar yang persis di kolom meja gue. Gue akan tonjok dia.
“Eh, lo itu orang yang buat gue bersin-bersin selama ini! Gue tersiksa tahu enggak gara-gara lo!” bentak gue marah. Seketika suasana jadi ricuh karena emosi gue naik.
Dia diam tanpa kata. Gue beranjak dari motor dan menatap dia tajam. Gila enggak sih ini orang. Sudah sombong, mana dia yang buat gue bersin-bersin.
Kini kami jadi kerumunan orang dan Ryuka menatap gue buat gua enggak marah. Ini moment yang gue tunggu buat kasih dia pelajaran.
“Teriksa mana gue yang menahan rindu sama lo atau lo yang bersin-bersin sebentar setelah bunga gue lo buang begitu saja,” ujarnya dan badan gue seketika menengan. Suaranya mirip ... jangan bilang pikiran gue benar.
Dia membuka helmnya dan membuat mata gue membulat sempurna.
“Randa!” peikik gue kaget. Dia tersenyum membuat semua wanita histeris. Yang gue lakuin setelah melihat dia adalah memeluknya erat.
“Hikss lo kok enggak datang-datang,” isak gue. Randa cowok pertama yang gue tangisi setelah keluarga gue.
Sementara itu, Alex menatap nanar di hadapannya.
TBC
__ADS_1