Garis Finis

Garis Finis
26


__ADS_3

Di sore hari saat gerimis melanda. Gadis itu duduk termenung di atas kasurnya. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia termenung.


Sejak kejadian ia meminta putus dengan kekasihnya, harinya semakin suram. Benar kata lelaki itu.


'Sekali kulepas takkan kekejar kembali'


Tidak ada batang hidungnya sama sekali. Hilang bak ditelam bumi. Semua itu karena kalimat fatal yang meluncur pada bibir manisnya.


"Andai aku bisa jalan, aku tidak akan memintamu pergi. Aku cacat," gumamnya hambar.


Benar.


Saat Alex memukul kakinya, kini ia mengalami lumpuh. Entah permanen atau tidak. Dokter pun mengatakan jika dia lebih dari tiga bulan tidak mengalami perubahan maka ia akan lumpu total.


Tentang vidio Randa dengan Maura, ia hanya menebaknya saja jika itu bagian dari rencana Alex.


"Gita," panggil  seseorang.


Gita menoleh dan tersenyum tipis. Adiknya datang dan duduk di sampingnya.


"Apa kamu tidak mau menjelaskan padanya?" tanya Ryuka.


"Apa gadis cacat sepertiku bisa bersama dengannya?" tanya Gita sedih.


"Daddy akan membawamu pergi ke luar negeri pengobatan. Kakimu akan berfungsi kembali," ujar Ryuka.


"Bagaimana dengan mental yang aku miliki?" tanya Gita sedih, "aku hiks mencintainya. Aku tidak akan sanggup ketika dia mengusirku."


Ryuka memeluk kakaknya erat. Dia bisa melihat ketulusan di mata Randa.


"Kamu harusnya mau melalui ini bersamanya, suka maupun duka," ujar Ryuka.


Gita terdiam. Memikirkan kebencian dan tatapan jijik Randa bukan yang paling ia inginkan.


***

__ADS_1


Di tempat lain seorang pria masuk ke dalam lift dengan wajah dinginnya. Tatanan rambut rapi dan stelan jas mahal membalut tubuhnya.


Dia adalah Randa Sammuel. Pria yang kini kembali ke tanah kelahirannya Indonesia. Meninggalkan kepingan hatinya di Korea.


Dua kali gagal dalam percintaan membuat pria ini menjadi pemain wanita. Tidak ada lagi komitmen. Hanya mencari kepuasan batin semata.


Kantor dan club. Menjadi tempat terfavoritenya. Sela Sakir mediang kekasihnya yang ia cintai pergi, membuat ia terperuk, meski Tuhan mengirimkannya kembali wanita.


Sayangnya, wanita itu sama saja. Meninggalkannya. Hatinya kian semakin sakit.


"Pak Randa. Anda bisa menemui Pak Afkar di ruang meeting." Dela tarania adalah sekertarisnya.


"Ya." Randa berdiri dan berjalan ke ruang meeting.


***


"Gita!" panggil Ryuka.


"Iya?!" teriak Gita tak kalah keras.


Dua kakak-beradik ini tengah menghabiskan waktu di taman belakang.


"Taraaaaaa!" Ryuka memperlihatkan kupu-kupu kepada Gita.


"Aaaaaaaaa!" Sontak gadis itu menjerti ketakutan. Ryuka terbahak-bahak sampai Eunbi datang dari belakang dan menjewernya.


"Akh! Mom," rengekknya.


"Jangan jahil dengan Kakakmu," tegur  Eubi dan dia melepas jewerannya.


"Baju-bajumu sudah lengkap?" tanya Eunbi.


"Iya, Mom." Mimik wajah Ryuka berubah muram. Dia sendirian di rumahnya  tiga bulan penuh ini.


Yap.

__ADS_1


Mereka berada di Singapura. Tinggal di rumah yang dibeli Ryung dan Eunbi. Mereka memutuskan membawa Gita untuk pengobatan kakinya.


"Jangan sering keluyuran malam, Ryuka," pesan Eunbu, "dan kamu harus makan tepat waktu."


Ryuka manggut-manggut. Dia pamit untuk mandi.


"Sayang, bagaimana trapimu hari ini?" tanya Eunbi.


"Lancar, Mom. Hanya saja aku cepat lelah," ujar  Gita.


"Mom yakin, Nak. Kamu pasti bisa berjalan normal," ujar Eunbi.


Terlihat raut wajah Gita sendu. Matanya menatap kosong ke depan. Ingatannya selalu berputar tentang Randa.


"Apa kabar?" batinnya.


Eunbi menghela napas. Ketika putrinya yang nakal harus berubah muram, rasanya menyedihkan.


Sekuat apa pun gadis itu mencoba tersenyum. Dia tetap terlihat rapuh. Kini untuk berdiri saja, ia butuh pegangan.


"Kamu mau Mommy masakin kue kesukaanmu?"  tanya Eunbi mencoba menghilangkan kesedihan putrinya.


"Baiklah, Mom. Aku mau!" ujar Gita semangat.


Eunbi mendorong kursi roda putrinya. Mengajak Gita mengobrol. Setidaknya teralihkan dari kedihannya senbentar saja.


"Mom," panggil Gita saat dia memotong bawang.


Eunbi menoleh. "Sayang," ujarnya saat melihat mata Gita berkaca-kaca.


"Aku ... aku merindukannya hika." Eunbi memeluk putrinya. Mengusap surai hitam putrinya dengan sayang.


"Jika ingin bertemu dengannya. Maka cepat sembuh, Sayang. Jangan lelah dan jangan menyerah."


Gita mengangguk.

__ADS_1


"Tunggu aku kembali."


TBC


__ADS_2