Garis Finis

Garis Finis
12


__ADS_3

Pagi 😁


Perkenalan antara keluarga Gita dan Randa terasa lancar. Mereka akhirnya percaya meski Ryuka tetap mengejek Nunanya jika Randa hanya kasihan kepadanya.


"Pagi, Mom! Dad!" sapa Gita dan dia sengaja tidak menyapa Ryuka.


"Ekhmmmm!" Ryuka berdehem keras. Gita mengacuhkannya membuat Eunbi geleng-geleng kepala.


"Tidak terihat," ujar Gita.


"Mahluk alien," dengus Ryuka.


"Ini di depan makanan," tegur Eunbi.


Mereka cepat makan dan pamit. Gita pergi ke kampus dengan motor kesayangannya.


Setiba di sana ia melihat Alex lebih dulu datang. Gita menyapa Alex seperti biasa.


"Pagi!" sapanya.


"Pagi," balas Alex. Dia menatap Gita dengan tatapan datarnya.


"Lex, hari ini kita akan mengurus persiapan kita 'kan?" tanya Gita.


"Tentu," jawab Alex. Ia akan jadikan kesibukan ini sebagai kesempatan untuk mencuci otak Gita.


"Ah," desah Gita. Dia tidak suka belajar, tetapi mau bagaimana lagi? Ini risiko yang harus ia tanggung.


Ia dan Alex semakin sibuk dan bahkan melewati jam makan siang. Randa pun sudah tahu jika Gita sibuk.


Dia hanya mengingatkan agar kekasihnya  makan dan tetap jaga kesehatan.


"Sepertinya aku akan ke kantor saja," gumam Randa. Dia segera ke kantornya dan meninggalkan kampus. Sejujurnya, ia sangat ingin bertemu dengan Gita.


***


Gita POV


Hari ini nyaris semua waktuku kugunakan untuk mengurus ke tempat magangku.


Aku merasa perutku mulai keroncongan. "Lex, gue lapar," ujarku.


"Aigo, kita melewatkan jam makan siang," ujar Alex. Kami segera ke kantin dan lumayan sepi.


Alex pergi mengambil makanan dan Gita menunggunya di meja makan.


"Silakan dinikmati," ujar Alex sambil meletakkan nampan berisi makanan.

__ADS_1



Gita segera melahapnya karena perutnya mulai perih. Mungkin maagnya sedang kambuh.


"Pelan-pelan," tegur Alex. Akan tetapi, Gita tidak menghiraukan teguran Alex.


"Hem," dehem Gita. Ia tidak peduli yang penting kenyang.


"Ahhh kenyang," ujarnya sambil memengang kepalanya. Ia tersenyum saat Alex menatapnya.


"Bayar, gih, Lex," ujarnya tanpa dosa.


"Iya-iya ... yang banyak duit tapi ngaku kere," sindirnya membuat  Gita terbahak.


"Bhuahhahaha!"


"Aigoo ... Ini anak enggak kenal tempat kalau mau ketawa, toa banget," batin Alex.


Setelah Alex membayar, Gita dan dia kembali bertemu dosen pembimbing mereka.


"Jadi, Lex lo mau bawa apa saja?" tanya Gita.


"Bawa hal yang penting saja." Gita manggut-manggut.


***


Sorenya Gita kembali dan bersantai di kamarnya. Biasanya dia keluar untuk balapan, tetapi Randa akan marah besar.


Tutttt ....


Belum ada yang menjawab.


"Ah, Ke mana Randa?" Dia mendialnya sekali lagi.


Tuttt ....


"Halo."


"Randaaaaaa! Aish ke mana, sih? Aku menelepon kamu sudah puluhan kali--"


"Baru sekali," koreksi Randa saat kekasihnya mulai mengada-ngada. Gita terbahak.


"Ketemuan, yuk," ajak Gita tanpa basa-basi.


"Mau kencan?" tanya Randa.


"Enggak, aku mau ajak kamu balapan." Randa memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1


"Iya, sebentar lagi aku pulang. Ini masih di kantor," ujar Randa.


"Aku tunggu kamu di Apartemen kamu saja," usul Gita.


"Iya," jawab Randa. Gita mematikan teleponnya dan bergegas ganti baju.


"Enggak usah dandan, gini-gini juga gue cakep, dah tanpa alat make up," ujarnya percaya diri. Dia segera keluar.


"Mau ke mana?" tanya Ryung saat ia mengambil air es dan melihat putrinya tergesa-gesa.


"Mau kencan, Dad," ujar Gita mengedipkan mata.


"Kencan di mana? Elah, gayaan kencan," timpal Ryuka.


"Bocah enggak usah ikut campur. Lagi mau kencang balapan!" Gita meninggalkan Ryung dan Ryuka yang cengo.


"Semoga saja Randa betah sama Gita," gumam Ryuka.


"Gita benar-benar anak gua banget," gumam Ryung sambil merangkul pundak Ryuka.


"Dia benar-benar Nuna gua banget, Dad."


***


Randa POV


Aku cepat menyelesaikan tugasku dan memakai jasku kembali. Hari ini Gita mengajakku balapan.


Aku mau-mau saja, dan tidak akan melarang dia balapan jika bersamaku.


"Bahkan baru jam 5," gumamku. Aku tetap keluar dan pulang.


Aku cukup terjebak macet. Rasanya tidak sabar sampai di Apartemen karena hari ini aku tidak pernah melihatnya


Aku sampai di sana setelah menempuh selama 1 jam lebih. Di sama aku melihat motor Gita terparkir rapi.


Aku masuk ke dalam lift dan segera ke kamarku. Untung saja dia sudah tahu password kamarku.


"Gita," panggilku. Dia menoleh.


"Randa, lama banget," gerutunya.


"Terjebak macet, Sayang. Aku mau mandi dulu, terus makan dan kita berangkat," ujarku. Dia mengangguk.


"Aku pesan makan apa saja, Randa!" teriaknya saat aku mandi.


"Iya!"

__ADS_1


Aku tersenyum di bawha guyuran air. Beruntungnya aku memiliki kekasih seperti Gita. Dia begitu ceria dan tidak jaim di depanku, memudahkanku mengenal dirinya.


TBC


__ADS_2