Garis Finis

Garis Finis
24


__ADS_3

Selamat sore 😌


Author baru update😌


Semua terdiam di luar menantikan kabar dari Dokter yang menangani Gita. Eunbi bersandar di dada suaminya dengan mata bengkak.


Di ruangan serba putih itu dengan beberapa orang memakai jas putih tengah menangani Gita.


Gadis itu pucat pasi dengan mata terpejam. Tak ada tawa khasnya dan cengiran tak berdosanya setelah membuat sekitarnya kesal.


Bahkan tingkah konyol dan blak-blakkannya harus sirna ketika ia harus berbaring di atas bangkar.


"Ini semua salahku," lirih Ryuka. Dia mengurai rambutnya ke belakang. Matanya berkaca-kaca.


"Sayang, sudah, Nak. Sekarang kamu tenang dulu," ujar Eunbi serak. Ia menarik dirinya dan memeluk putranya.


Soal keluarga Ryuka begitu lemah. Di dekatnya Gata pun menangis memikirkan kembarannya. Untung Ardan selalu menemaninya.


Setelah melewati hampir 5 jam, Dokter keluar. Ryung menghampirinya dan ikut ke ruangan Dokter tersebut.


***


Brak!


"Brengsek! Are you crazy?!" bentak Randa. Ia dengan sengit mendorong kasar tubuh Maura.


"Lihat ... keringat dalam tubuhmu sudah keluar. Jangan berpura-pura menolakku," ujar Maura. Bahkan tanpa busana, ia melangkah dengan santai.


"Aku akan membunuhmu!" teriak Randa marah. Ia mengambil celana dan bajunya. Memakainya tergesa-gesa.


Brak!


Dia mendorong kasar Maura. Meski tenaganya harus terkuras habis karena pengaruh obat itu.


"Akhhh," ringis Maura.


"Aku ingatkan untuk menjauh!" teriak Randa, "atau kau akan menyesal!"


Dia meninggalkan kamar itu dengam hati yang panas. Tubuhnya masih dalam kabut gairah. Jalannya semponyongan.


"Ah," deshanya yang merasa frustrasi. Randa meninggalkan Hotel dan menelepon bawahannya. Ia akan pulang memakai taksi.

__ADS_1


Sesampai di Apartemennya, Randa segera ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Bibirnya membiru berada di bawah guyuran air dingin di tengah malam.


Demi hasrat yang ingin ia padamkan. Walau ia harus tersiksa setengah mati. Dia membayangkan wajah Gita. Walau ia sama sekali tidak mau berbuat cabul kepada kekasihnya.


Itu jalan satu-satunya agar ia mencapqi puncaknya. Cukup berhasil dan sampai dini hari baru ia meninggalkan kamar mandi.


Dia membuka seluruh pakaiannya yang basah kuyup. Mengambil handuk dan melilitkan di pinggangnya.


Dia berjalan ke kasur dan menarik selimut. Tanpa sadar ia jatuh tertidur karena kelelahan.


Belum beberapa menit ia memejamkan mata, ponselnya berdering. Randa membuka matanya dengan enggan.


Nomor asing tertara di ponselnya. Ia mengabaikannya dan kembali berdering.


"Ahhhhh!" Dia begitu kesal dan mengangkatnya.


"Halo!" bentaknya.


" ...." Randa menyerit. Dia segera mematikan ponselnya.


Batinnya bertanya-tanya. Namun, ia tetap meneruskan tidurnya. Matanya begitu mengantuk.


***


Setelah tidur seharian ini. Aku memutuskan untuk menelepon Gita. Aku ingin bertemu dengannya.


Sejak tadi aku meneleponnya dan ia tidak menjawab teleponku. Apakah dia marah?


Aku mendesah kasar. Menghadapi Gita ketika dia merajuk atau marah, sejujurnya aku bingung. Pasalnya dia wanita tomboy.


Meski dia tomboy, tetapi kadang sikap seperti wanita pada umumnya. Dia juga cantik dan sangat unik. Ah, membiacarakannya saja membuatku semakin rindu.


Aku memutuskan untuk datang ke rumahnya. Di sana aku disambut ramah oleh satpam.


Ding-dong!


Aku memencet bel sampai muncul seorang pria. Dia adalah Ryuka. Adik Gita dan tatapannya begitu datar.


"Ada Gita?" tanyaku.


"Dia tidak ada di sini." Dia begitu dingin dan kenapa juga Gita tidak ada di sini? Bukannya dia pulang dari Mokpo tadi malam?

__ADS_1


"Apa dia belum pulang dari Mokpo?" tanyaku.


"Dia sedang ikut dengan keluargaku. Ada rangkaian acara," ujarnya, "ke mana kau tadi malam?"


"Di pesta Hotel GV HH," ujarku.


"Kupikir kau sedang bersama wanita," sinisnya. Aku mengerutkan kening.


Bugh!


Tonjokan yang aku dapatkan begitu mendadak. Aku terhuyung ke belakang dengan bibir sobek.


"Apa yang kau lakukan?!" tanyaku.


"Membuatmu terluka. Kau beraninya bermain di belakang Kakakku!" bentaknya, "dan kau menikmati percintaan panas sedangkan Gita ham--"


Aku menunggu ucapannya. Dia hanya menggantung kalimatnya. Jarinya menunjukku begitu tegas. Sorot mataya setajam elang.


"Kamu salah paham. Aku dijebak tadi malam. Semua ini rencana Maura dan Alex," ujarku. Dia hanya tertawa sinis.


"Pergi!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Ryuka!" teriak  seseorang dengan panik. Ia menghampiri kami.


"Sebaiknya kamu pergi," ujar gadis itu. Aku mengangguk dan pergi sebelum kalimat akhir dari Ryuka.


"Gita sangat membencimu telah bercinta dengan wanita lain," desis Ryuka.


"Untuk apa kamu datang ke sini, Na?" tanya Ryuka kepada sepupunya.


Aku akan menjelaskan kepada Gita. Dia tidak boleh salah paham dan aku harus mencari tahu, tentang siapa yang memberitahu Ryuka mengenai ini.


Yang harus aku lakukan adalah menjelaskan semua kepada Gita. Aku yakin dia akan mengerti.


TBC

__ADS_1


__ADS_2