
Hari demi hari, teror semakin sering Randa dapatkan. Ia tahu jika ini adalah perbuatan Alex. Pria itu membuat ia semakin memperluas pelacakannya, tetapi Alex lihai menyembunyikan keberadaannya.
Sementara Gita semakin senang karena dia hanya menunggu seminggu lagi untuk pulang ke Seoul. Dia semakin semangat dan menjalani hari-harinya. Gadis itu juga banyak berubah. Meski ia tetap tomboy, tetapi pakaiannya mulai feminim.
Segalanya mengubah ia menjadi gadis yang semakin cantik. Walau pun demikian, blak-blakan tetap melekat dalam diri Gita. Dia membuat Randa kadang harus melakukan pelepasan akibat sikap polosnya.
“Ini apa?” gumam Gita dan melihat sebuah kotak di depan kamarnya. Ia mengambilnya dan kaget melihat fotonya berlumuran darah.
~Kamu akan mati.
“Dasar orang iseng!” gerutunya. Ia mengambil kotak itu dan membuangnya. Ia tidak peduli dan mengira jika itu hanya orang iseng saja. Dia mulai berangkat dan saat keluar, motor melaju kencang ke arahnya. Ia terserempet.
“Akhhh! Anjir! Woy! Hati-hati, dong, enggak ada mata apa?!” teriaknya marah. Ia melihat pakaiannya jadi kotor dan lututnya berdarah. Gita berdiri dengan kesal dan berjalan pincang.
“Strong woman!” Dia menyemangati dirinya.
***
Di lain tempat, seorang pria sedang menyesap nikotinnya. Ia tersenyum puas mendengar jika rencananya mulai berjalan mulus. Randa akan dikacaukan dengan serangan teror yang ia berikan dan Gita?
Gadis itu akan mulai merima terornya. Dia akan menghabisi gadis itu secara perlahan. Jika ia tidak bisa memilikinya, lebih baik gadis itu mati.
Alex. Ya, lelaki itu tidak lain adalah Alex mantan sahabat Gita. Obsesinya membuat ia gelap mata. Ia akan membunuh Gita hingga Randa akan sakit hati, selanjutnya Randa akan mati mengenaskan menyusul kekasihnya.
__ADS_1
“Lapor Bos! Kami sudah melakukan apa yang Bos perintahkan,” ujar anak buahnya. Alex menyeringai. Dia bahkan tahu jika Gita belum merasakan ketakutan saat diteror.
“Aku perlu turun tangan, Sayang,” batin Alex. Ia akan menculik Gita dan membuat Randa sakit hati. Mereka pantas mendapatkannya. Tidak pernah sekali pun, mereka berpikir tentang perasaannya?
“Malam gadis itu kembali ke Seoul, kita culik dia,” ujar Alex penuh tekad.
“Siap, Bos!” jawab mereka serentak.
Alex keluar dari ruangan itu dan mulai melihat CCTV di ruangan pribadinya. Ia melihat Gita sedang duduk di kamarnya sambil mengerjakan laporannya.
“Kamu harusnya bersamaku, maka aku tidak akan membunuhmu,” ujar Alex. Dia mencintai Gita dan seperti ucapannya, jika Gita tidak bisa menjadi miliknya maka lebih baik gadis itu mati.
Alex menghubungi seseorang. Dia adalah Maura Josh, gadis asal Los Angel. Dia akan meminta gadis itu datang ke sini dan membantunya.
“Maura, aku butuh bantuanmu.”
“Apakah ini menguntungkanku?” Alex menyeringai.
“Sangat. Dia bisa menjamin seluruh keinginanmu, cukup kam buat dua menjadi milikmu. Aku rasa kau mengenal Randa Sammuel, pengusaha dari Indonesia,” ujar Alex.
“Wah ... mangsa yang sangat bagus,” ujar Maura.
“Kalau perlu buat dia menghamilimu,” ujar Alex. Dia mematikan sambungan teleponnya. Dia menatap di layar monitor itu. Gita terlihat menelepon seseorang.
__ADS_1
“Kamu lihat ... sekarang, kamu boleh tertawa bersamanya sebelum kalian menangis bersama. Aku akan membuat kalian menderita,” ujar Alex penuh amarah. Ia patah hati dan begitu tidak rela jika Gita bahagia bersama pria lain.
***
“Aku takut, rasanya aku begitu khawatir. Aku merasa akan ada sesuatu,” ujar Gita kepada Randa di telepon.
“Sayang, kamu harus yakin, kita akan tetap bersama. Kamu hanya perlu menguatkan ikatan cinta kita. Aku cinta sama kamu dan kamu cinta sama aku. Kita sama-sama cinta. Aku dan kamu adalah kata ‘kita’ yang tidak akan pernah jadi ‘aku’ dan ‘kamu’,” ujar Randa membuat Gita sedikit lega.
“Iya, tetapi kenapa wajahmu begitu pucat? Kantung matamu juga terlihat jelas? Apakah kamu sakit?” tanya Gita dengan banyak pertanyaan yang ia miliki.
“Tidak, Sayang. Aku hanya kurang istirahat, akhir-akhir ini banyak pekerjaanku,” ujar Randa tidak sepenuhnya berbohong. Dia menutupi jika selama ini dia mendapat serangan teror.
“Kamu sendiri baik-baik saja ‘kan?” tanya Randa. “Ya, hanya ada insiden kecil, ada pengendara motor yang tidak hati-hati, akhirnya aku terserempet,” ujar Gita.
“Kamu hati-hati, Sayang. Kabari aku jika ada apa-apa.”
“Iya, sudah, ya. Aku mau tidur. Nigth,” ujar Gita.
“Nigth.” Randa menatap sambungan teleponnya dan mengeraskan rahangnya. Ia tahu, jika Gita pasti sedang mendapat teror, tetapi gadis itu tidak menyadarinya.
“Aku berharap, aku dan kamu selamanya jadi ‘kita’,” batin Randa.
TBC
__ADS_1
Jejak