
Assalamualaikum ....
Selamat sore semua
Setelah insiden ciuman keduanya menjadi canggung. Gita yang tidak biasanya mendadak malu. Randa **** senyum melihat kekasihnya malu-malu.
“Randa, aku mau pulang,” ujar Gita. Randa kali ini mengangguk dan melihat kekasihnya terlihat mengantuk. Randa membelai pipi Gita.
“Yuk,” ajak Randa dan menggenggam tangan kekasihnya. Mereka akhirnya keluar dari Apartemen Randa dan menuju lift. Randa menekan angka satu. Tidak ada percakapan di antara keduanya.
Gita POV
Aku malu setelah insiden itu. Mungkin karena ini pertama kali untukku dan aku cukup terkejut dengan aksi Randa. Aku tidak tahu cara bersikap.
Aku yang enggak jaim tiba-tiba jadi jaim. Sejujurnya aku bingung kenapa semua orang menyukai pacaran sementara aku merasa pacaran itu ibaratkan lagi sidang wisuda. Begitu mendebarkan setiap detik.
Aku bahkan suara jantungku terdengar oleh Randa. Aku memegang kausnya erat. Rasanya ada sesuatu yang harus aku sampaikan.
“Kenapa?” Randa mengangkat alisnya sebelah. Dia sangat tampan dengan cahaya temaram menyinari wajah tampannya.
“Ak—aku ingin mengatakan sesuatu,” ujarku gugup.
“Katakan, Sayang.” Ah, shit. Aku tambah gugup karena panggilan sayangnya. Sering kali aku mengejek sepupu-sepupuku tatkala mereka sayang-sayang saat VC, lalu sekarang aku merasakannya.
“Aku tidak tahu cara pacaran,” lirihku, aku rasa pipiku memanas. Dia **** senyum di depanku. Aku menunggu semburan tawanya yang akan membuatku semakin malu tetapi tidak kuduga dia malah mencium keningku lama.
“Tampil apa adanya di depanku.” Aku bernapas lega. Seketika aku merasa berat yang ada di pundakku tersapu bersih.
__ADS_1
“Lega banget,” godanya. Aku hanya menyengir dan menariknya ke mobilnya. Waktunya pulang ke rumah.
“Kamu sebentar lagi wisuda ‘kan?” tanya Randa. Aku mengangguk membenarkan. “Iya, tetapi aku kesulitan dalam belajar. Rasanya menghadapi ribuan timah panas yang akan menembus kepalaku,” ujarku terlalu mendramatis keadaan.
“Hahaha, maka rajin belajar dan berhenti balapan liar. Cukup kemarin malam menjadi akhir untuk hobimu,” ujarnya membuatku murung. Aku ingin menolak dan entah apa yang akan dikatakan Randa.
Tidak terasa aku dan Randa mengobrol sepanjang jalan. Aku dan dia tiba di rumah dan aku segera turun. Aku menawarinya mampir, tetapi dia bilang lain kali saja.
“Enggak mampir dulu,” tawarku.
“Lain kali, Sayang.” Aku mengangguk. “Hati-hati di jalan dan kabari kalau sudah sampai,” ujarku.
“Iya.” Dia menutup kaca jendela mobilnya.
Ting ....
“Ekhm.” Deheman itu membuatku menoleh dan melihat Daddy sedang duduk bersama Mommy. Aku jadi canggung melihat Mommy menaikkan alisnya.
“Tumben pulang cepat,” ujar Mommy membuatku menatap Mommy dengan pandangan kesal. Pulang cepat salah, tidak pulang cepat juga salah.
“Kamu itu kalau dibilangi malah suka memutar bola matamu,” omel Mommy. Aku mendekat ke sana dan memeluk Daddy. Aku menyandarkan kepalaku di dada Daddy.
“Apa yang membuat anak Daddy jadi senyum-senyum sendiri?” Aku menimang-nimang apakah aku beritahu kedua orang tuaku tentang hubunganku dengan Randa?
“Dda,” ujarku sambil melonggar sedikit pelukan Daddy. Mommy ikut menatapku dan menunggu aku berbicara.
“Gita kalau pacaran boleh?” tanyaku dengan pandangan polos. Suara tawa kencang itu menjadi jawaban pertanyaanku. Bukan Mommy atau Daddy yang tertawa melainkan pria yang mengenakan kaus gucci hitam dengan jeans hitam itulah yang terbahak-bahak.
__ADS_1
“Hahahah lo---“ Dia menunjukku dengan wajah mengejeknya. “—Lo pacaran, buhahaa,” lanjutnya dan masih tertawa keras. Aku menatapnya tajam. Kini satu lawan satu.
“Ryuka, tidak sopan sekali memanggil Nunamu dengan sebutan lo,” tegur Eunbi. Ryuka menggaruk kepalanya sedangkan Gita meletkan lidahnya.
“Habisnya humornya anjlok banget, Mom,” sinisnya dan duduk di dekat Mommy. Tangannya merangkul lengan Mommy.
“Apa yang salah?!” tanyaku kesal.
“Sudah-sudah, memangnya kamu mau pacaran, Nak?” lerai Mommy. Aku mengangguk dan melihat Ryuka menahan tawa. Aku menjulurkan kakiku siap menendangnya tetapi Daddy malah menahan kakiku dengan kakinya.
Awas saja kamu Ryuka. Adek laknat.
“Pria mana yang mau dengan gadis sepertimu?” tanya.
Apa? Gadis sepertimu, ck benar-benar adik laknat.
“Gadis sepertimu?” ulangku membuat Ryuka mengangguk malas. Aku siap mencakar wajahnya.
“Gita,” tegur Daddy. Dia malah memelukku erat. Untung saja ada Daddy, dia hampir berakhir di tanganku.
“Kalian ini selalu bertengkar, giliran enggak ada di rumah pada saling tanya keberadaan dan khawatir,” ujar Mommy.
“Ryuka yang mulai, Mom,” ujarku. Daddy mengusap suraiku. “Lanjutkan saja, apakah kamu memang berniat pacaran?”
Aku mengangguk dan membuat keluargaku cengo dengan ucapanku. “Sebenarnya Gita sudah pacaran,” ujarku.
“Sebaiknya kamu ke kamar, Sayang. Mandi biar pikiran kamu fresh,” ujar Mommy. Sepertinya mereka tidak percaya dan aku angkat bahu cuek. Aku segera ke kamar. Besok-besok aku mau paksa Randa mampir ke sini, biar mereka percaya.
__ADS_1
TBC