
Gita berhasil membuat Randa yang mempelajari bisnis beralih mempelajari teknik motor. Gadis itu juga yang membuatnya datang ke Korea. Jika dulu dia datang untuk mengantar kepergian median kekasihnya Sela Sakir, sekarang ia datang untuk menjemput calon wanita dalam hidupnya.
"Gita, sedekat apa hubungan kamu sama Alex?" tanya Randa. Gadis itu terlihat menimang-nimang dan menatap kekasihnya.
"Sedekat pengait Bra, kalau putus aduh kelimpungan sendiri," ujarnya polos. Randa melongo dan meneguk ludahnya secara kasar. Tidak adakah majas lain yang bisa pacarnya gambarkan selai perumpamaan privasi itu? Randa mengacak rambutnya frustrasi.
"Aku tidak suka kamu dekat sama Alex," ujar Randa membuat Gita memicing ke arahnya. Gadis itu dengan santai malah merangkul bahu Randa dan menepuknya pelan.
"Begini-begini aku juga setia," ujarnya membuat Randa tertawa. "Jangan khawatir, mau tikungan berapa pun enggak akan bisa," lanjutnya membuat Randa semakin terbahak-bahak.
"Hahahaha ... benar banget. Kamu lurus-lurus terus, pokoknya kalau ada yang mau tikung jangan berikan jalan," ujar Randa. Gita mengangguk dan mengepalkan tangannya. Ia menyodorkan ke arah Randa. Pria itu tersenyum dan mengepal tangannya juga.
Tos.
"Hahahaha." Mereka berdua tertawa keras melihat tingkah konyol mereka.
"Gita, bagaimana kalau nikah," ujar Randa membuat gadis itu berhenti tertawa dan menatap Randa bingung. Dia menyengir karena tidak paham.
"Aku sedang bertanya kepadamu," dengus Randa.
"Aku tidak tahu. Memangnya kamu mau menikah?" tanya Gita yang dihadiahi tarikan keras di hidung mancungnya. Gita memekik sakit dan menarik tangan Randa.
"Akhhh! Sakit bego!" gerutunya. Hidung memerah seperti badut membuat Randa tertawa. Pria itu kemudian merasa bersalah melihat Gita keasikitan.
__ADS_1
"Sakit banget, ya, Sayang?" Randa mendekatkan dirinya dan menangkup wajah Gita. Belum sempat Gita bertanya sapuan lembut membuat bibir apelnya bungkam.
"Fuhhhhhh." Randa meniup hidung Gita. Pria itu memajukan wajahnya dan 'cup' kecupan mendarat begitu mulus di hidung Gita.
"Sameone please help me!" jerit Gita dalam hati. Dia merasakah permukaan wajahnya pasti bak terbakar sinar matahari. Dia menunduk malu membuat Randa menggigit bibir bawahnya.
"Mau ke suatu tempat?" tanya Randa. Gita mengangguk dan mengajak Randa ke tempat di mana Ryung mengajarinya cara naik motor. Hanya tempat itu ia dan Ryung tahu, tetapi dia ingin Randa juga tahu.
"Randa ... aku tidak mengerti tentang cinta. Namun, aku merasa sangat jatuh cinta. Aku ingin boros kata dalam menyampaikan cintaku kepadamu," batin Gita.
"Mobil kamu ditinggal saja, nanti naik motor." Randa menolak dan mengajak Gita ke Apartemennya. Motor Gita di bawa pulang oleh suruhan Randa.
"Kita naik ini," ujar Randa. Gita tercengang melihat motor Randa. Sejujurnya ia tahu jika motor itu yang mengalahkannya tempo hari. Biar kalah balapan dan tidak bisa juara di garis finis, tetapi setidaknya dia mencapai cintanya Randa.
Sepanjang perjalanan Gita mengoceh. Dia berubah jadi pacar super bawel dan tentunya kepolosannya sering kali membuat pria asal Indonesia itu tertawa keras.
"Ahhhh sejuknya!" Gita merentangkan tangannya dan membiarkan lembayu memainkan helai surainya. Wajahnya begitu cantik diterpa corak senja.
"AAAAAA! Cinta itu gila!" jeritnya membuat Randa kaget.
"Segila-gilanya cinta lebih gila lagi kamu yang merasakannya," balas Randa yang dihadiahi pelukan Gita. Gadis itu menyandarkan kepalanya di punggung lebar Randa.
__ADS_1
"Kamu suka senja?" tanya Randa.
"Awalnya enggak, karena menurutku warnanya biasa-biasa saja, tetapi saat bersamamu, bahkan mendeskripsikan warna senja saja aku tidak mampu," ujarnya lugu.
"Hahaha ... kamu enggak mau tanya balik sama aku?" tanya Randa membuat Gita sejenak berpikir.
"Kamu suka senja?" tanya Gita dengan usil. Dia mengangkat wajahnya dari punggung Randa dan menatap kekasihnya di kaca spion.
Saat Randa meliriknya di kaca spion dia mengangkat alisnya menggoda. Dia akan mengerjai kekasihnya.
"Aku lebih suka sama kamu."
Blush.
Randa tersenyum manis membuat ita yang menatapnya di kaca spion merona malu. "Gita ada senja," ujar Randa.
"Di mana?" Gita menoleh ke samping.
"Di pipi kamu. Senjanya lebih cantik," goda Randa membuat Gita menyembunyikan wajahnya. Dasar Gita habis malu-maluin sekarang malu-malu, hehehe.
TBC
Jejak :)
__ADS_1