
Akhirnya ia tiba di Mokpo. Gita menuju penginapan bersama teman-temannya.
"Wah, sejuknya!" teriaknya.
Aelx tersenyum mendengar teriakan sahabatnya.
"Jalan-jalan nanti, Lex," ajak Gita.
"Iya," ujar Alex. Ia tersenyum miring. Ia akan membuat Gita menjadi miliknya selama tiga bulan ini.
Perlahan ia akan menyingkirkan Randa. Ia tahu pria itu bahkan telah bergerak untuknya.
"Gita, gua mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Alex.
"Mau ngomong apa?" tanya Gita. Ia menatap Alex dengan alis terangkat.
Alex mendekat ke arah Gita dan menangkup wajah Gita. Gita menatap Alex dengan tatapan polosnya.
"Lo begitu cantik, sejak awal kita bertemu, rasanya lo berbeda. Gua semakin menyukai lo," ujar Alex membuat Gita semakin bingung.
"Gue tahu, lo juga menyenangkan. Gue menyukai lo, itu sebabnya gue mau berteman dengan lo," ujar Gita membuat Alex menarik Gita ke kamarnya.
"Alex," panggil Jihwan.
"Iya." Jihwan menatap keduanya dengan dahi mengerut.
"Anak-anak mau ke pantai dan kalian tidak mau ikut? Sekalian perkenalan dengan warga sekitar," ujar Jihwan.
"Nanti saja, kalian duluan. Gua dan Gita akan menyusul, lagian masih terasa capai," ujar alex membuat Jihwan mengacungkan jempol.
"Lex, yuk, ikutan," ajak Gita. Alex menggelengkan kpalanya.
"Ada hal lebih penting dari pantai," ujar Alex.
"Baiklah, cepat! Gue enggak sabar buat rasakan deru ombak!"
__ADS_1
Alex menyeringai. Ia menarik Gita ke kamarnya.
"Gua mau buat minuman dulu," ujar Alex. Gita sama sekali tidak curiga dan duduk santai di sofa kamar Alex.
"Ini," ujar Alex dan Gita menerimanya. Gadis itu langsung menenguknya.
Alex menatap Gita yang mulai terlihat gelisah. Dahi gadis itu berkeringat. Matanya mulai bergerak gelisah juga.
"Lex, kok, panas banget?' tanyamnya polos. Alex menyeringai.
"Masa, gue malah dingin banget," ujar Alex. Dia telah menaruh obat perangsang di dalam minuman Gita.
"Tapi, gue merasa panas," ujar Gita. Ia merasa kepalanya mulai berkunang-kunang. Alex mendekat ke arahnya.
"Lo cantik," ujar Alex. Dia menangkup wajah Gita dan mulai mencium bibir Gita.
"Lex, lo apa-apaan, sih!" Gita memberontak dan mendorong dada Alex. Akan tetapi, tenaganya hilang saat ini.
"Alex!" jerit Gita. Dia mulai menangis saat Alex mencium lehernya. ia tidak menyangka Alex melecehkannya.
"Hiks ... gue enggak tahu! Lo *** anjing!" teriak Gita.
"Bibirmu memang perlu diberi hukuman, Sayang." Alex mencium bibir Gita secara kasar. Gadis itu menangis histeris.
Tangan Alex menjamah tubuhnya. Ia semakin histeris saat bajunya terlepas.
"Lepaskan! Hiks ... jangan lakukan ini padaku hiks! Alex!" teriak Gita memohon.
"Randa, Daddy hiks Ryuka!" teriak Gita dalam hati. Tubuhnya semakin panas dan merespons sentuhan Alex.
Gita semakin terlecehkan saat Alex **** payudaranya. Bahkan Alex kini menarik kasar rok Gita.
"Hiks ... Randa! Tolonggg!"
"Berteriaklah, tidak akan ada yang mendengar. Kamu pikir mereka akan datang?" Alex menyeringai.
__ADS_1
"Nikmati, sayang. Hanya cara ini agar kamu menjadi milikku. Jika benihku tertenam, maka Randa akan pergi," ujarnya membuat Gita ketakutan.
"Hikss lepaskan!"
Alex membuka lebar paha Gita dan menenggelamkan wajahnya. Ia membuat Gita merasa hancur. Setiap inchi tubuhnya sudah disentuh dan dijamah oleh laki-laki itu.
Gita memejamkan mata saat Alex membuka seluruh pakiannya sendiri. Ia tahu semua akan berakhir.
Laki-laki itu akan mengambil mahkotanya. Randa akan jijik kepadanya.
"Hikss ... aku kotor! Hiks aku kotor!" Gita merasa semua gelap saat ia merasakan junior Alex menyentuh titik miliknya.
Gadis itu pingsan dan semua gelap. Ia tahu dirinya sangat kotor. Ia jadi perempuan hina. Ia tidak menayangka Alex akan melakukan hal sekejam ini padanya.
Ia bahkan tidak tahu jika pria itu memendam perasaan kepadanya.
Bugh!
"***!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Sialan! Apa yang kau lakukan bajingan?!"
"Menikmati tubuhnya," ujar Alex santai. Pria itu semakin marah.
Bugh!
Sekali tendangan Alex ambruk di atas lantai. Pria itu menatap nanar Gita.
"Maafkan aku," lirihnya. Ia membuka jaketnya dan memasangkan di tubuh Gita.
__ADS_1
TBC