
Tinggal beberapa part saja, guys.
5 Tahun Kemudian.
Sosok wanita cantik keluar dari mobil biru laborigini miliknya. Bibirnya dipolesi dengan lipstik merah mudah. Kacamata bertengger manis di hidungnya.
“Silakan Nona Muda.” Dia berjalan dengan wajah tegasnya. Sekarang ia memasuki gedung yang memiliki 16 lantai itu.
“Silakan masuk,” ujar seorang pemuda dengan menunduk.
Gadis itu duduk dan melihat jam tangannya. Melirik gadis yang menunduk sopan di sampingnya. “Kenapa dia belum datang?” tanyanya dengan tegas.
“Ma—maaf, Miss. Bos kami ban mobilnya sedang bocor dan kami tidak bisa menghubunginya.” Gita tidak mengebal siapa yang akan ia temui, tetapi ia begitu marah karena keterlambatan pria itu.
Brak!
Gadis itu melepas vas bunga di atas meja. Sontak membuat semua yang ada di dalam ruangan itu kaget bukan main. Rasanya tidak sopan, tetapi siapa yang bisa melarangnya. Semua terjadi begitu saja sampai dia berdiri dengan wajah mengangkat ke atas.
“Sangat tidak sopan! Dia membuang-buang waktuku saja,” ujarnya ketus. Tanpa permisi dia pergi membuat beberapa orang berdecap kesal. Tentu setelah gadis itu tidak ada di ruangan.
Entah apa jadinya jika gadis itu masih di dalam ruangan. Bibir mereka pun akan terkunci rapat-rapat. “Miss Gita sangat arogan sekali,” bisik gadis yang ikut rapat.
__ADS_1
Ya, kini Gita sebagai salah satu penerus 3R Group. Dia awalnya tidak mau, tetapi Ryung membujuknya. Kini dia mau dan 3R group semakin sukses karena gadis ini. Tentu saja Gata tidak bisa ikut dengan Gita karena suaminya melarangnya bekerja.
Gita mengendarai mobilnya sendiri dan di tengah perjalanan dia melihat mobil hitam terparkir di sana. Jalanan di sini cukup sepi. Gita memarkirkan mobilnya dan menghampiri pemilik mobil itu yang sedang berada di bawa mobil memperbaiki mobilnya.
Gita berinisiatif membantunya karena hari sudah petang. Ia berjongkok dan memperhatikan pria itu meski ia tidak tahu siapa orangnya.
“Maaf, ada apa dengan mobilmu?” tanyanya. Pergerakan pria itu berhenti dan ia membuat Gita menyerit bingung karena tidak menyahut.
“Aku bisa membantumu,” ujar Gita lagi. Pria itu lagi-lagi diam. Dia keluar dari bawa mobil dan mata Gita membulat sempurna.
“Ra—Randa,” ujarnya terbata-bata. Suatu kebetulan saat merek bertemu di jalan atau memang ini takdir yang Tuhan gariskan untuk mereka.
Gita dan Randa sama-sama terdiam. Gita menatap Randa yang hanya menatap lurus ke depan tanpa menatapnya.
Randa mendengus keras. Ia menoleh kepada Gita. Menatap gadis yang berhasil membuat hatinya hancur. Lebih hancur saat Sela harus meninggalkannya.
“Tidak perlu,” ketusnya. Gita tersenyum kecut.
“Ak—“ Randa langsung menatapnya tajam. Gita mengurungkan niatnya untuk bicara.
“kamu tidak akan pernah bisa memperbaiki apa pun. Hati saja bisa kamu hancurkan,” ujar Randa menusuk. Mata Gita langsung berkaca-kaca.
__ADS_1
“Ak---“ Randa menoleh dan memotong ucapan Gita dengan berujar, “Aku sama sekali tidak membutuhkan penjelasan apa pun darimu.”
Randa berdiri dan Gita ikut berdiri. Ingin rasanya Gita memeluk Randa, tetapi ia sadar, lelaki itu kini membencinya.
“Hiks aku sayang sama kamu,” ujar Gita dengan isaknya, “ kamu pikir aku mau kita putus? Hiks semua beda—“
“Bohong! Jika kamu tidak pernah mengharapkan perpisahan, ini tidak akan pernah terjadi. Itu kamuflase jika terpaksa berpisah,” ujar Randa menusuk, “kamu akan menjelaskan tanpa aku minta pun!”
Randa melangkah pergi. Ia membuat Gita menangis hebat, Gita tahu Randa tidak akan pernah mau lagi dengannya. Ini salahnya dan dia bisa melihat pria itu tersakiti karenanya.
“Huwaaaaaaa!” Ia duduk di atas aspal dengan cucuran air mata. Beberapa kali ia menepuk dadanya.
“Maafkan gadis bodoh ini yang menyakitimu,” isaknya. Gita menyeret kakinya yang kadang masih berdenyut sakit.
Gita mendekati mobilnya dan kaget melihat Randa duduk di depan mobilnya. Ia diam. Hatinya meminta ia untuk tetap tenang, tetapi tubuhnya malah membawa ia melangkah mendekat.
“Randa,” panggilnya. Serak.
Randa menoleh, ”Aku sakit banget.” Randa memegang dadanya.
Pengakuan Randa membuat Gita menangis kian hebatnya. Tubuhnya bahkan bergetar melihat hasil perbuatannya. “Aku mencintaimu ... tetapi, kamu juga yang menyakitiku,” ujar Randa.
__ADS_1
TBC