
Keluarga Gita menatap Gita dengan pandangan penuh tanya. Gadis itu terlihat lebih baik daripada tadi. Penampilannya yang feminin membuat Eunbi diam-diam penasaran dengan sosok Randa.
“Apa hubungan keduanya hanya sekadar teman?” batin Eunbi.
“Bagaimana keadaan Grandma?” tanya Gita kepada Ibunya. Eunbi tersenyum lembut, dia tahu kekhawatiran anaknya tidak akan pernah surut.
“Berdoalah, Sayang. Grandma akan baik-baik saja,” ujar Eunbi membuat Gita mengangguk lesu.
“Sebaiknya kalian pulang dan Gita kamu harus kuliah, Sayang,” timpal Aeri. Dia tahu anak, menantu dan cucunya khawatir akan kondisi Jeneni.
“Tap—“
“Benar kata Mommy kalian. Pulanglah,” ujar Jungkook menyela ucapan anaknya. Mereka mengangguk dan Gita memutuskan mengecek kondisi Jeneni sebelum dia pergi.
“Semua akan baik-baik saja,” ujar Randa saat mereka berjalan bersisian menuju tempat parkir. Gita menoleh dan mengangguk.
“Gita!” panggil seseorang membuat keduanya menoleh. Gita tersenyum lebar melihat Alex datang.
“Apakah lo masih bersedih? Gua minta maaf karena gua baru tahu,” sesal Alex. Gita menyunggingkan senyum.
“It’s ok, gue baik-baik saja,” ujar Gita. Penampilan Gita membuat Alex berkali-kali memuji betapa cantiknya gadis itu. Dia menatap Randa yang menatapnya datar.
“Lex, gue pulang dulu,” pamit Gita. Alex mengangguk. Biarlah Gita pergi sementara waktu akan ada saatnya ia mengambil miliknya.
__ADS_1
Randa hanya mengeraskan rahangnya melihat tatapan Alex kepada Gita. Dia yakin pria itu diam-diam menaruh perasaan kepada Gita.
Di dalam mobil keduanya sama-sama bukam. Randa sibuk menyetir sedangkan Gita menebak kenapa Randa terlihat dingin kepadanya.
“Lo—Ah aku hampir melupakan jika aku tidak boleh ber-lo-gue sama dia.” Gita sudah sepakat dengan Randa menggunakan kata aku-kamu.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Gita. Randa tidak menoleh tetapi ia tetap menjawab pertanyaan kekasihnya yang baru beberapa jam lalu.
“Tinggal di Apartemen dekat Kantorku,” ujarnya membuat Gita mangut-mangut.
“Kamu mau mampir ke sana?” tanya Randa membuat Gita mengangguk. Randa melajukan mobilnya menuju kediamannya. Dia sampai di sana sudah petang.
Gita tertidur pulas membuat Randa tidak tega membangunkannya. Dia menggendong Gita dan berjalan melewati karyawannya. Dia menekan tombol lift menuju lantai 15.
Sesampainya di sana, dia berjalan ke kamarnya. Randa menurunkan Gita dari gendongannya dan menahannya, beruntung gadis itu pulas sekali. Ia menekan sandi masuk kamarnya.
Dia menggendong kembali Gita dan meletakkannya di atas kasur hati-hati. Dia memutuskan ke kamar mandi dan mandi.
Gita masih pulas sampai Randa keluar dari kamar mandi. Pria itu mengenakan handuk sebatas pinggang dan berjalan santai ke lemari.
“Enghhhh ....” Terdengar lenguh dari bibir manis Gita. Dia memperbaiki posisi tidurnya yang telentang menjadi menyamping. Dia memeluk guling erat.
Tingkahnya membuat Randa semakin gemas. Dia cepat-cepat mengenakan pakaiannya dan mendelivery makanan. Sambil menunggu pesanannya datang, ia menghampiri Gita.
__ADS_1
“Sayang,” panggilnya. Gita malah menutup telinganya dengan bantal tatkala tidurnya terasa diusik.
“Bangunlah,” ujar Randa sambil mengambil bantal Gita. Kelopak mata gadis itu terbuka dengan bibir merenggut tidak suka.
“Ah, aku masih mengantuk!” gerutu Gita.
“mandi dulu dan makan, setelah itu kamu bisa tidur sepuasmu,” ujar Randa. Gita terpaksa bangun dari tidurnya dan menatap sayu Randa. Matanya masih terasa berat. Dia hampir terjatuh jika saja Randa tidak menahan tubuhnya.
“Aku mengantuk,” rengeknya. Randa terperangah melihat sisi lain Gita. Benarkah gadis yang selalu tahunya balapan ini bisa manja juga? Jika saja Randa tahu kalau Gita kecil itu memang manja.
Gita dengan malas beranjak dari kasur dan dia memakai kemeja putih Randa yang tentunya kebesaran di tubuhnya. Randa menajamkan tatapannya. Dia meneguk ludah melihat penampilan Gita.
Gita yang notabenya gadis polos dan baru pacaran tidak tahu-menahu soal itu. Dia malah dengan santai duduk di dekat Randa. Dia langsung menyerbu makanan yang dipesan pacarnya.
“Bibirmu sampai berlepotan. Apakah kamu masih anak kecil, eoh?” Randa mengusap bibir Gita dengan tangannya. Gita berhenti mengunyah dan menatap Randa. Sesaat tatapan mereka beradu.
Perlahan tapi pasti bibir keduanya bertemu. Tentu yang memulai adalah Randa. Dia mencium bibir Gita. Ciuman itu membuat Gita mematung.
Ini first kissnya dan Randa telah mengambilnya.
TBC
Warning
__ADS_1
Cerita ini mengandung unsur dewasa. Harap berbijak dalam membaca :)