Garis Finis

Garis Finis
6


__ADS_3

Terjebak keheningan bersama di kantin. Lalu, terdengar helaan napas Randa. Dia menatap Gita yang hanya minum jusnya tanpa memakan makanannya.


“Ahjuma! Berikan aku daging,” ujar Randa.


“Ne!” Gita menatap Randa dengan tatapan kosong. Kesedihan Gita sama sekali tidak ditutupinya. Seolah membiarkan ruang kepada Randa untuk tahu kesedihannya.


“Aku tahu kamu bersedih. Pikirkan kondisimu juga, kamu bahkan belum mengobati lukamu,” ujar Randa menasihati Gita. Mata gadis itu berkaca-kaca.


“Sebenarnya siapa yang sakit?” tanya Randa lembut. Dia tahu jika Gita lemah bagian hatinya walau dia tahu gadis itu terlihat kuat dan siap bertualangan.


“Dia Grandmaku,” lirih Gita. Randa tidak bisa mencegah tangannya untuk tidak terulur mengusap setetes air mata yang mengalir dari pelupuk mata Gita.


Bibir Randa keluh untuk memberi semangat. Dia ingin mengatakan semua baik-baik saja, tetapi kesedihan Gita seolah menjelaskan keadaan nenek gadis itu.


“Makanlah,” ujar Randa setelah daging sapi sampai di depan mereka. Randa masih memanggang yang lain. Gita enggan memakannya tetapi Randa mendesaknya.


Setelahnya Randa mengajak Gita ke sebuah ruangan. Dia meminta Dokter mengobati luka Gita. “Randa aku tidak apa-apa,” ujar Gita yang tidak digubris  oleh Randa.


“Silakan berbaring, Bu.” Gita terpaksa menurut dan Randa keluar. Dia menelepon anak buahnya membawa pakaian wanita lengkap dengan dalamannya. Randa termasuk lelaki mesum dan itu wajar karena dia normal.

__ADS_1


Dia tahu ukuran milik Gita tanpa harus melihatnya. “Ini, Bos,” ujar anak buahnya. Randa mengangguk dan meminta anak buahnya pergi.


“Sudah selesai,” ujar Dokter. Randa bangkit dari tempat duduknya. Dia mengucapkan terima kasih dan masuk ke dalam. Dia melihat Gita duduk di bangkar.


“Ini untukmu,” ujar Randa sambil memberikan Gita bingkisan. “Itu baju,” imbuhnya.


“Baiklah, dan terima kasih,” ujar Gita. Ia ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Ia menatap aneh dress setengah lutut yang diberikan Randa kepadanya.


Dia terbelalak saat melihat pakaian dalam yang pas di tubuhnya. “Dasar lelaki mesum,” gerutunya dan mengganti pakaiannya cepat.


“Terima kasih Tuan Mesum,” sindir Gita membuat tawa Randa pecah. Dia menarik Gita ke dalam pelukannya membuat Gita merasa jantungnya lagi-lagi lari maraton.


“Gita, aku mencintaimu,” ujar Randa membuat tubuh Gita menenggang. Gita melepas pelukannya dan menatap Randa. Dia menadahkan kepala melihat tatapan Randa kepadanya.


“Apa ini? Kenapa perutku terasa digelitik dan kenapa hatiku terasa di penuhi jutaan bunga? Kenapa sehebat itu kata yang Randa lontarkan untukku? Apa itu cinta? Bahkan aku tidak tahu,” batin Gita dipenuhi tanda tanya.


“Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Aku juga tidak tahu cinta itu apa. Namun, aku tidak bisa berbohong, ada segelintir perasaan senang saat kamu menyatakan kata yang bahkan sampai saat ini tidak pernah aku tahu maknanya untukku,” ujar Gita polos. Dia jujur akan perasaannya.


“Jadikan aku yang pertama untuk mengajarimu makna cinta.” Randa membuat Gita semakin menatapnya dalam. “Apakah benar cinta membuatmu menderita? Kau tahu ... aku sangat takut saat melihatmu menangisi kepergian Sela. Aku pikir cinta itu menyakitkan,” ujar Gita.

__ADS_1


“Aku dan Sela memang saling mencintai, tetapi kami tidak ditakdirkan hidup bersama. Tuhan mengambil Sela dariku dan mengirimmu di waktu yang bersamaan. Apakah cinta harus dielak lagi?” tanya Randa.


“Aku tidak tahu. Jangan pernah pergi dan buat aku menunggu. Setiap saat aku melamunkanmu, memikirkan nasibmu di sana. Kadang aku bertanya, apakah kamu keluar dari kamar itu atau terkurung di sana,” ujar Gita mengeluarkan perasaan khawatir yang ia simpan sejak lama.


Dada Randa menghangat. Dia mengusap pipi Gita lembut. “Kamu mau ‘kan?” tanya Randa membuat Gita mengerjap lucu.  Dia mengangguk.


“Hm, Randa sebaiknya kita ke Ruangan Grandmaku.” Gita menjadi salting membuat Randa **** senyum. Dia mengangguk dan menatap Gita yang mengenakan dress. Ini pertama kalinya ia melihat Gita mengenakan dress.


“Apakah aku terlihat buruk memakainya?” tanya Gita. Randa menggelengkan kepalanya. Sama sekali tidak aneh yang ada dia terlihat cantik.


“Kamu cantik,” puji Randa membuat Gita tersenyum lebar. “Aku tahu, aku cantik,” ujarnya membuat Randa mengacak rambutnya gemas.


“Gita ... aku tidak akan melepaskanmu untuk siapa pun termasuk Randa,” batin pria itu yang sejak tadi mendengar percakapan mereka berdua. Hatinya sakit dan dipenuhi dengan perasaan terluka.


Perlahan perasaannya membuat ia berpikir egois dan akan melakukan cara apa pun untuk mendapatkan tambatan hatinya.  Cukup sudah ia memendam perasaan kepada Gita.


“Aku akan memilimu dengan cara apa pun,” batinnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2