
Tidak semudah apa yang ia bayangkan. Nyatanya keberadaan Gita bak ditelam bumi. Setiap kali ia menghubungi gadis itu, ponselnya tidak aktif.
Ia bahkan tidak bisa melacak keberadaan Gita. Datang ke rumah gadis itu pun hanya mendapati Ryuka dengan wajah dinginnya.
Meski Ryuka tidak mengusirnya seperti awal-awalnya. Pria tampan itu tak jua membuka mulut mengenai keberadaan Gita.
"Ryuka ... apa sesuatu telah terjadi pada Gita?" tanya Randa setelah sekian lama duduk di atas sofa.
"Dia baik-baik saja. Menurutmu ... setelah dia menyaksikanmu bercin--"
"Aku tidak bercinta! Wanita itu yang memaksaku dan tidak sedikit pun aku menyentuhnya," potong Randa cepat. Ryuka mendengus.
"Sebaiknya kamu lanjutkan hidupmu kembali. Jangan menunggu Gita," ucap Alex. Ryuka memandangnya tidak suka.
"Apa masalahnya? Dia kekasihku," ujar Ryuka marah.
"Sebentar lagi bukan." Mendadak mood Randa memburuk karena Ryuka. Setiap saat laki-laki itu akan selalu mengatakan bahwa hubungannya dengan Gita akan renggang.
"Sampai kapan pun dia akan tetap jadi milikku." Ryuka tersenyum kecut. Mata lelaki itu menerawang ke depan.
"Alex mati." Dua kata yang membuat Randa terkejut. Dia menatap Ryuka dengan pandangan sulit diartikan.
"Ada begitu banyak rahasia di sini. Sebaiknya kau pergi sebelum Uncelku datang dan membunuhmu. Mereka semua tahu kelakuanmu." Sesaat Ryuka terdiam dan melanjutkan ucapannya, "Kau telah bercinta. Vidio singkat itu memanipulasi."
Randa mengacak rambutnya frustrasi. Dia mengambil rokok di sakunya. Menyesap dan berpikir keras.
"Siapa yang membunuh Alex?" tanyanya, "dan apa ada kaitannya dengan Gita?"
"Sebaiknya kamu datang minggu depan saja. Kamu akan bertemu dengan Gita," ujar Ryuka.
Randa memijat keningnya. Pusing dengan keadaan yang begitu rumit. Kematian Alex dan kehilangan Gita mendadak menjadi sebuah teka-teki untuknya.
"Aku pulang," pamit Randa. Ryuka mengangguk dan menatap punggung Randa dengan nanar.
__ADS_1
Ia tahu lelaki itu mencintai Kakaknya. Namun, semua sudah terjadi. Andaikan malam itu ia menemani Gita. Ini tidak akan pernah terjadi.
***
Randa POV
Hampir dua minggu ini aku tidak bertemu dengan Gita. secercah harapan muncul saat Ryuka mengatakan aku bisa menemui Gita minggu depan.
Nyaris tidak percaya jika aku akan bertemu dengannya dan saat ini. Aku mengenakan jaket hitam dipadukan dengam kaus merah maron.
Menata rambutku sedemikian rapi. Setelah puas. Aku berangkat.
Tiba di rumah Gita. Suasana sepi. Aku masuk dan ternyata yang menyembutku adalah Aunty Eunbi.
"Selamat sore," sapaku kaku. Ia tersenyum tipis.
"Sore. Masuk," ajaknya. Aku mengekorinya dan di ruang keluarga ada Ryuka, Ryung dan err aku tidak tahu pria di sampingnya.
Aku hanya tahu dia suami dari Kakak Gita. Mendekat dan ikut duduk di sana. Helaan napas Ryung membuatku menatapnya
Deg.
Jantungku berdetak kencang. Aku mengentuk pintu kamarnya.
"Masuk," ujarnya.
Aku membuka pintu kamarnya dan masuk. Melihat ia duduk di atas kasur. Wajahnya terlihat pucat. Apakah dia sakit?
"Gita," panggilku. Ia menunduk.
"Hay," sapaku dan ikut duduk di sampingnya. Tanganku meraih dagunya. Kini kulihat matanya berkaca-kaca.
"Aku ... ingin putus," lirihnya. Aku diam. Tidak tahu harus bereaksi apa.
__ADS_1
"Jelaskan apa yang terjadi. Jangan ucapkan kalima--"
"Aku ingin putus," potongnya cepat.
"Sesuatu yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah aku lepas." Aku menatapnya tajam. Yang paling tidak aku sangka. Tangisnya pecah.
"Hiks ... hiks ... aku ingin putus," isaknya.
Dadaku sesak. Seingin itukah ia berpisah? Apa salahku?
"Sayang ... kamu tahu ... masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk dihindari," ujarku sambil mengusap air matanya.
"Hiks semua tidak sama lagi. Hiks ... hikss semua beda," isaknya.
"Apa yang beda?" tanyaku.
"Hikss pergilah. Aku mencintaimu hikss ... berat rasanya melepasmu, tetapi inilah jalannya," ujarnya parau. Hatiku semakin tidak tenang.
"Jangan buat kisah kita serumit ini, Gita. Kamu tahu ... ketika aku berjuang, akan kuperjuangkan walau aku harus mati," ujarku dan dia menatapku, "dan ketika kulepas, tidak akan kukejar kembali."
Dia menunduk.
"Pergilah," lirihnya.
"Kamu lebih memilih aku pergi daripada menjelaskan apa masalahmu," ujarku kecewa. Aku melepas genggaman tanganku.
Ketika aku melangkah pergi. Ia bahkan tidak beranjak dari kasur untuk mencengahku.
Kepergianku sangan diinginkannya.
Dan aku terluka.
TBC
__ADS_1
Jejak :) Vote :) and Follow :)
Vote karyaku ikut lomba 😌