
Mereka duduk di atas mobil. Hari sudah gelap gulita. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya suara hewan malam yang mengisi keheningan pada dua insan itu.
“Randa,” panggil Gita. Ia menoleh, tetapi pria itu hanya menatap bintang. Ia tahu Randa tidak akan mau dengannya.
“Aku minta maaf, walau aku tahu kata maaf tidak akan pernah mampu mengobati lukamu,” ujarnya sedih. Randa menoleh dan melihat Gita.
“Kamu tahu 5 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk patah hati. Berteman sepi dan ditemani duka lara setiap malamnya,” ujar Randa, “aku hampir gila. Melampiaskan perasaan sakitku dengan club, pekerjaan dan wanita.”
“Sekian banyak kata rindu hari itu yang ingin aku katakan, kenapa malah di pertemuan kita hanya ada kata perpisahan. Kamu bilang cinta sama aku, kamu bilang sayang sama aku, tetapi kamu malah memilih untuk menyimpan semua sendiri.” Randa mengeluarkan isi hatinya.
“Aku hanya meminta kejujuranmu.” Gita menunduk dan menangis kembali. Tidak tahu berapa air mata yang ia keluarkan hari ini. Randa menatap Gita yang menunduk dan tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk mata gadis itu.
“Andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih tidak menemukanmu.” Ucapan Randa membuat dada Gita sesak sekali.
“Aku akan pergi. Maaf hiks membuatmu sesakit ini,” ujar Gita yang tidak kuasa. Ia hendak turun, tetapi ditahan oleh Randa. Dia mendekap Gita. Tangis Gita kembali pecah.
Randa memejamkan matanya. Merasakan perasaan emosi dan senang dalam hatinya. Tangannya mengelus lembut suarai hitam gadis pujaannya.
“Maafkan aku yang telah menyakitimu,” isak Gita.
__ADS_1
“Iya,” ujar Randa. Gita menarik dirinya dan menatap Randa yang tersenyum kepadanya.
“Aku merindukan jingga di pipimu yang lebih indah dari senja,” ujar Randa sambil mengusap pipi Gita. Dia mengingat saat dia sedang bermotor dengan kekasihnya.
“Ciptakan jingga itu di pipiku,” lirih Gita. Randa menatap Gita dalam. Gadis ini banyak berubah. Baik dari cara pakaiannya kecuali keluguannya.
Cup.
Randa mengecup bibir Gita. Gita menggigit bibir bawahnya dengan tingkah spontan Randa. Rona merah menjalar di permukaan wajahnya. Randa tertawa melihat Gita yang mudah blushing karenanya.
“Jingganya muncul di malam hari,” goda Randa. Dia semakin tertawa saat Gita yang semakin tidak bisa berkutik.
Cup.
“Aku cinta sama kamu,” ujar Gita di sela ciuman mereka. Dia mengalungkan tangannya di leher Randa.
“Aku lebih cinta sama kamu dan kumohon cukup sekali kita putus,” ujar Randa membuat Gita menarik dirinya.
“Aku janji sama kamu. Tidak ada kata putus lagi di antara kita,” ujarnya.
__ADS_1
Randa mengusap bibir Gita, “Jelaskan apa yang terjadi selama 5 tahun ini.” Gita mengangguk dan menceritakan semua. Dada Randa sesak setiap mendengar cerita kekasihnya, Setelah selesai Gita bercerita ia mendekap erat pacarnya.
“Kenapa kamu enggak mau jujur, Sayang? Kamu memalui waktu yang sulit,” ujar Randa.
“Kamu juga melalui waktu yang sulit, Sayang,” balas Gita. Gita mendongak ke atas menatap Randa yang kini menunduk menatapnya. Gita yang berada di bawah pelukan.
“Aku enggak peduli apa yang telah aku lalui, yang aku peduli sekarang masa depan aku sama kamu,” ujar Gita membuat Randa menunduk dan menggesekkan hidung mereka.
“Hehhehe.” Gita tertawa geli.
“Will you marry me,” ujar Randa membuat Gita mengerjap lucu. Dia melihat Randa yang tatap menatapnya intens.
“Yes, I will,” ujarnya mantap.
Tidak ada hal paling membahagiakan untuk keduanya kecuali menjalani hubungan yang sempat terhenti ini. Tangis dan bahagia mengisi hidup mereka. Kini mereka akan memulai semua dengan cinta yang lebih kuat dari sebelumnya.
“Kiss me, Jingga” bisik Randa membuat Gita menciumnya lembut. Tidak ada nafsu di dalamnya, yang ada ciuman penuh cinta. Randa membalas ciuman kekasihnya.
“Garis Finis,” bisik keduanya. Ya, cinta mereka menyatu di perjalanan kembali.
__ADS_1
Tamat.
Terima kasih mengikuti Garis Finis sampai Tamat. Thanks for vote, comment dan follow guys. Love you all dan jangan lupa baca “Anaknya Dadddy Badboy” adiknya Gita cerita Ryuka.