Garis Finis

Garis Finis
2


__ADS_3

Malam ini gue siap-siap untuk ikut balapan. Gue sudah lengkap dengan kaus hitam polos dan celana jeans  robek-robek. Jaket bomber warna hitam membalut tubuh gue.


“Gita,” panggil Mommy. Gue menoleh dan menyengir.


“Mau ke mana kamu?” tanya dengan mata menatap penuh selidik. Begini, nih, kalau punya Mommy yang dulunya jadi Guru BK. Tahu saja tingkah nakal.


“Mommy ‘kan tahu Gita mau balapan,” ujarku. Dia memang tahu sifatku yang suka balapan. Terlihat Mommy menghela napas berat.


“Bisa enggak kamu berhenti balapan. Kamu tahu, kamu bisa kecelakaan,” ujarnya dengan nada mengingatkan. Gue tahu dia wanita yang paling menyayangiku.


“Mommy ... Gita selalu hati-hati,” ujar gue meyakinkan. Beliau menggelengkan kepala tanda tidak percaya. Memang, sih, mana ada balapan hati-hati yang ada gas full.


“Biarkan dia menekuni hobinya, Sayang. Gita akan berubah setelah dia menikah,” ujar Daddy. Ah, saranghae, Dad. Paling mengerti memang sama anak-anaknya.


“Kamu juga bukan melarang malah mendukung,” omel Mommy pada Daddy. Gue langsung mengacir setelah melihat kode mata Daddy menyuruh gue cepat pergi.


“Hihihi ... ayo Merah! Sekarang kita jalan!” ujarku semangat sambil melihat motor merah gue dengan binar antusiasi.


***


Author POV


Sesampai di arena balap, Gita menuju bersiap-siap. Dia memakai pakaian ala pembalapnya dan mengikat rambutnya asal. Dia memasang helmnya dan bersiap-siap.


“Gita! Semangat kalau lo menang gue traktir lagi,” ujar Alex dan Gita mengacungkan jempol. Seorang pria duduk jauh dari Gita. Dia tersenyum tipis melihat gadis itu tidak berubah sama sekali.

__ADS_1


“Gita! Gita! Gita!” Sorakan pendukung Gita membuat gadis itu menyeringai.


Brum ... brummmmm ....


Dia memutar-mutar gas motornya dan menatap tajam ke depan. Inilah Gita seorang yang mulai dari garis star menuju garis finis. Siapa sangka gadis secantik dia malah hobi membalap.


Saat gadis-gadis sibuk mengoleksi alat make up, dia malah sibuk memodifikasi motornya. Dia menghabiskan banyak uang untuk motor kesayangannya yang ia panggil si Merah.


“Aku yakin dia pasti menang dan jika dia menang malam ini, tandanya dia melawanku besok malam,” ujar seorang pria yang tak lain adalah Randa. Dia telah kembali ke Korea.


Randa sengaja tidak memberi tahu Gita. Dia ingin gadis itu terkejut melihat keberadaannya. Randa tersenyum  tipis.


“Sela ... aku sedang berada di sini kembali. Berada di sini seorang diri, dulu, kita di sini melihat Gita dan sekarang aku sendirian. Aku sangat mencintaimu dan aku menyimpanmu dalam sudut hati terdalamku. Aku akan mencintainya sepanjang jalan,” batin Randa.


“Huuuuuuuu yessss Gitaaaaaaaa!”


Prok ... prok ....


‘Garis finis’ Gita meraihnya dengan dia membuka helmnya. Ikat rambutnya terlepas hingga rambut indahnya tergerai. Dia tersenyum manis kepada Alex dan supoternya.


“Gue tahu lo pasti menang,” ujar Alex menghampiri Gita. Dia memberikan Gita sebotol air. Gita meneguknya sampai tandas.


“Siapa pria itu,” batin Randa. Mendadak ia panas melihat Alex melap keringat Gita. Cemburu? Randa menggelengkan kepalanya. Dia beranjak pergi dan Gita berbalik melihatnya.


“Punggung itu kenapa mirip seseorang,” batin Gita.

__ADS_1


“Ingat besok lo traktir gue,” ujar Gita membuat Alex mengangguk. “Gue deg-degkan masuk final, ini. Gue dengar lawan gue jago banget,” ujar gita membuat Alex menyemangatinya.


“Bagi gue lo pembalap sejati yang tidak kenal takut. Gue yakin besok lo pasti bisa sampai di garis finis,” ujar Alex. Gita tertawa dan mencoba mengusir rasa waswasnya.


“Kalau gue kalah besok, gue payah banget,” ujar Gita. Alex menarik tangan Gita hingga mereka duduk di kursi dekat penjual makanan.


“Gita ... gue enggak pernah menemukan cewek sehebat dan seberani lo selama gue hidup. Selama ini lo enggak pernah melepaskan garis finis. Lo hebat dan gue percaya itu,” ujar Alex dan Gita menatapnya intes.


“Lex ... gue beruntung banget miliki teman kayak lo. Selalu suport gue selama ini dan yang pastinya gua beruntung bisa kenal lo,” ujar Gita tulus. Tidak ada yang salah dengan ucapan Gita tetapi Alex merasa hatinya nyeri karena kata ‘teman’ tidak pernah melekang selama setahun kebersamaan mereka.


“Gue harap gue bisa suport lo terus dan selalu berada di samping lo,” gumam Alex yang didengar Gita. Gita menatap Alex dengan tatapan bertanya. Namun, Alex hanya tersenyum.


“Kenapa gue rasa Alex suka sama gue,” batin Gita. Ponsel Gita bergetar dan dia melihat nomor asing.


‘Besok malam gua akan temui lo di area balap. Gua yang memberi lo bunga selama ini.’


Secreat admire


“Awas saja kalau gue lihat dia besok gue akan kasih dia pelajaran. Gue tersiksa karena mawar dia dan sekarang gue akan buat hidung dia bengkok.” Gita menutup ponselnya dan batinnya penuh tekad ingin memberi pelajaran siapa biang kerok di balik bunga mawar yang ia terima selama ini.


TBC


Hayo besok Gita ketemu siapa di arena balap? Hehehe


Up crazy 'kan 😂

__ADS_1


__ADS_2