Garis Finis

Garis Finis
5


__ADS_3

Absennya Gita tanpa keterangan apa pun membuat Alex dipenuhi tanda tanya. Dia bahkan tidak bisa menghubungi ponsel Gita.  Rasanya sangat ganjal melihat gadis itu tidak datang.


Ia tahu kebiasaan buruk Gita adalah bolos, tetapi gadis itu mengatakan sendiri jika ia tidak akan bolos dan mengulang mata kuliahnya. Dia mau wisuda tahun ini juga.


“Yohan, apa Gita ada keterangan?” tanya Alex. Yohan mengalihkan tatapannya dari buku yang ia pengang dan menggeleng. Dia pun bingung dengan absennya Gita.


“Apa gara-gara semalam. Dia ‘kan jatuh,” gumam Alex. Akan tetapi, saat dia ingat-ingat lagi, Gita bukan gadis lembek yang terluka langsung mengeluh dan absen. Pasti ada sesuatu hal dan dia ingin akan mencari tahu itu.


Sementara di lain tempat, Randa sedang keluar dari kelasnya. Dia memang tidak memiliki jadwal mata kuliah yang padat. Apalagi otaknya sangat cerdas, jadi semua bisa ia selesaikan dengan baik.


Randa mengirim puluhan chat kepada Gita, tetapi gadis itu tidak membalasnya. Dia sama kelimpungan dengan Alex.


“Aku ke rumahnya saja,” putus Randa. Dia berjalan ke Parkiran dan melajukan mobil hitam laborigininya menuju rumah Gita.


Cukup memakan waktu yang lama baru ia sampai di sana. Mengingat jam istirahat, banyak orang yang keluar untuk mencari makan.


Dia sampai di rumah Gita dan dihampiri satpam. Randa menurunkan kaca mobilnya dan menatap Satpam itu. “Pak, apa di dalam ada Gita?” tanya Randa to the point.


“Maaf, Den. Non Gita dan keluarganya tidak ada di rumah, sejak semalam mereka keluar.” Randa mengerutkan kening, berarti semalam saat ia mengantar Gita pulang gadis itu langsung keluar lagi.

__ADS_1


Dia menjadi cemas apalagi Gita terluka. Dia tidak bisa menahan raut cemas di wajah tampannya. “Kalau boleh tahu dia ke mana, Pak?” tanya Randa.


“Ke Rumah Sakit, Den. Nyonya besar Jeneni masuk Rumah Sakit,” ujar Satpam membuat Randa mengangguk mengerti. Dia meminta Satpam menyebutkan alamatnya dan dia segera ke sana.


“Pasti dia sedih,” batin Randa. Dia mengingat dengan Sela saja gadis itu menangis, bagaimana jika keluarganya sendiri? Pasti dia semakin terpuruk.



Randa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi walau dia harus menggerutu karena terjebak macet. Dia menatap kosong jalanan saat ia terjebak lampu merah.


Saat lampu hijau dia melajukan mobilnya dan untung dia bisa sampai dengan selamat. Dia memarkir mobilnya dan berjalan ke resepsionis . “Permisi, saya ingin tahu ruang inap Ny. Jeneni,” ujar Randa.


“Kamar VVIP nomor 304,” ujar Resepsionis tersebut. Randa mengucapkan terima kasih dan bergegas ke kamar inap Jeneni.


“Permisi,” ujar Randa dengan bahas Korea. Dia tentu fasih berbahasa Korea.


“Ya, kamu siapa?” tanya Jungkook. Jungkook menatap Randa dengan tatapan intimidasi. Hingga Ryung dan Eunbi datang. Mereka bingung melihat keberadaan pria asing di sini.


“Saya Randa Sammuel, teman Gita,” ujar Randa saat melihat mereka kebingungan. Jungkook cukup kaget saat mendengar nama Sammuel. Bukankah Sammuel itu yang putranya sampaikan kemarin. Ryeong ingin menjalin kerja sama dengan Sammuel. Pengusaha dari Indonesia itu.

__ADS_1


“Gita di dalam,” ujar Eunbi. “Duduklah, aku akan memanggilnya,” lanjutnya dan bergegas memanggil Gita.


Randa, Jungkook dan Ryung terlibat obrolan. Untung mereka cepat akrab dan membuat Aeri dengan sabar mendengar bisnis yang ia tidak tahu selut-beluknya.


Gita keluar dan menatap Randa yang kini menatapnya. Mata memerah, hidung memerah dan mata Gita juga terlihat bengkak. Dia pasti menangis semalaman penuh.


Randa menghela napas pelan melihat Gita masih mengenakan baju yang sama semalam. Pasti luka gadis itu belum diobati. Dia melempar senyum tipis.


“Randa,” sapa Gita dan menghampiri Gita. Ryung dan Jungkook saling menatap dan mengerti lewat tatapan. Melihat Gita akrab dengan lelaki sudah hal biasa, tetapi melihat gelagat  aneh Gita saat bersama seorang pria itu baru rekor pertama.


“Bolehkan saya ke kantin rumah sakit bersama Gita?” tanya Randa meminta izin. Ryung mengangguk. “Bawalah,” ujarnya santai membuat istrinya menatapnya tajam. Ryung menggaruk kepalanya tidak gatal.


“Maksudku tentu saja boleh, kalian bisa pergi ke Kantin lagi pula Gita belum makan,” ralatnya cepat. Aeri **** senyum melihat  tingkah putranya yang tidak berubah. Pantas saja cucunya Ryuka makin menjadi-jadi, bapaknya saja begini.


TBC


Vote


Komentar

__ADS_1


Follow


Maka up crazy


__ADS_2