Garis Finis

Garis Finis
11


__ADS_3

Jumpa di sore hari 💜


Selamat membaca


Gita dan Randa memutuskan untuk pulang. Randa mengantar Gita sampai di rumah kekasihnya itu.


"Makasih, ya," ujar Gita. Randa mengangguk dan meminta Gita masuk.


"Masuk, gih," ujarnya. Gita memengan lengan Randa.


"Kamu ikutan masuk, ya. Mommy sama Daddy aku, masa enggak percaya kalau aku punya pacar," ujarnya. Randa mengangguk.


Randa memasuki pelataran rumah kekasihnya. Dia membuka helmnya dan ikut masuk bersama Gita.


"Mommy!" Gita berteriak keras membuat Randa menggelengkan kepala melihat pacarnya.


"Iya," sahut Eunbi dari arah dapur.


"Eh, kamu duduk dulu. Aku mau mandi sebentar," ujar Gita. Dia meninggalkan Randa sendirian. Eunbi sendiri masih sibuk di dapur, dia pikir putrinya hanya berteriak seperti biasa.


Randa menatap sudut-sudut rumah Gita. Dia melihat banyak foto keluarga mereka. Sampai datang seorang pria paruh bayah.


"Ekhm," dehemnya. Randa menoleh dan menatap Ryung.


"Kamu temannya Gita 'kan?" tanya Ryung. Dia baru saja pulang kerja.


"Iya, Om." Eunbi segera keluar dan terbelalak melihat Randa.


"Kalian datang bersama?" tanyanya.


"Tidak, By. Dia memang di sini sebelum aku pulang." Eunbi mengembuskan napasnya. Dia menatap Randa tidak enak.


"Maaf, ya, Nak. Kamu datang ke sini sama Gita?" tanya Eunbi.


"Iya, Tante," jawab Randa.


Gita, bener-bener tuh anak.


Eunbi meminta suaminya ke kamar terlebih dahulu. Dia ke dapur membuatkan minuman dan membawa kue untuk Randa.


"Maaf, Nak. Tante jadi enggak menyeduhkan apa-apa gara-gara Gita enggak bilang," ujar Eunbi tidak enak.


"Enggak apa-apa, Tante," ujar Randa.


Gita datang dengan baju putih kebesarannya dan celana pendek sebatas paha. Ia menghampiri Randa dan Mommynya.


"Kamu ini, masa teman kamu datang, malah kamu tinggal pergi," omel Eunbi. Gita menyengir.

__ADS_1


Eunbi meninggalkan mereka berdua karena harus menyiapkan air hangat untuk suaminya.


***


Gita POV


Aku langsung pergi saja karena gerah banget. Aku nelihat Randa masih pake jaket tadi dan dia keringatan.


Pasti dia gerah juga pengin mandi. Aku jadi merasa bersalah sama dia.


"Kamu buka jaket aja. Tuh, kamu kepanasan," ujarku sambil menyeka keringat di jidatnya pake tangan. Randa menahan tanganku.


"Jangan pake tangan. Kamu habis mandi," larangnya. Aku enggak peduli. Malah aku enggak jijik dan keringatnya juga enggak bau, kok.


"Aku sama sekali enggak jijik," ujarku. Dia membiarkan saja dan membuka jaketnya.


Baju kaus hitamnya melekat sempurna ditubuhnya akibat keringatan. "Kamu mau pulang? Pasti enggak enak banget keringatan. Maaf, ya, harusnya aku bilang dulu sama kamu," sesalku.


"Aku enggak masalah," ujarnya.


"Kamu mandi di sini saja. Lagian di sini ada adek aku cowok, dia segede kamu walau masih SMA," ujarku. Dia menolak dan aku tetap paksa sampai aku melihat Ryuka datang.


"Ryuka!" teriakku. Dia menoleh dan mengangkat alisnya. Lakna banget, sih, punya adek kayak dia.


"Pinjam baju kamu, dong." Dia menyerit. "Pinjam aja, tapi yang baru belum buka dan belum pernah kamu pake," ujarku. Dia memutar bola matanya.


"Sebentar, aku mau ambil baju Ryuka dulu, kamu mandi di kamarku," ujarku dan mengacir pergi. Aku cepat kembali dan membawa pakaian kasual untuk Randa.


"Kamu naik ke atas saja, nanti di ujung sana, ada pintu coklat depannya ada gambar motor," ujarku. Dia pergi dan aku ke dapur menemui Mommy.


"Mommy!" Kok, enggak ada. Ah, di kamarnya. Baru saja aku ingin mampir, tetapi Mommy datang lebih dulu.


"Teman kamu sudah pulang?" tanya Mommy.


"Dia lagi mandi di kamar Gita, Mom," ujarku membuat Mommy menatapku dengan penuh selidik.


"Dia pacarnya Gita," ujarku bangga. Mommy menghela napas.


"Kamu ngaur aja," ujar Mommy. Aku cemberut dan pergi. Aku menunggu Randa di sofa.


"Daddy," panggilku saat aku melihat Daddy dan Ryuka asyik menonton.


Daddy hanya memanggilku dengan isyarat tangan tanpa menoleh. Aku melihat dia sedang menonton pembalap motor.


"Ah, Daddy," panggilku dan duduk di dekatnya. Aku menagmbil remot dan klik.


"GITAAAAAAAAA!" Mereka berdua berteriak keras.

__ADS_1


"Hughhhh." Daddy menghela napas.


Ryuka menatapku tajam. Dia mendekat dan menekan pipiku kuat. Aku memberontak keras.


"Rrryyukahhhh!" Anjir sakit banget.


"Ryuka," tegur Daddy. Dia melepaskanku dan mengambil remote kembali.


"Ganggu aja," gerutunya.


Randa datang membuatku mengurungkan niat untuk membalas perkataan Ryuka.


"Daddy kenalin ini pacar Gita." Mereka menoleh dan Randa menggaruk kepalanya.


Ada apa? Apa ucapanku ada yang salah?


"Benarkah?" tanya Ryuka dengan wajah mencemoh.


"Randa~" panggilku dengan merengek.


"Kami memang pecaran," ujar Randa dan aku memeletkan lidah ke arah Ryuka.


"Jaga baik-baik putriku, jika kamu membuatnya menangis kamu akan kubunuh," ujar Daddy.


"Saya siap pertaruhkan nyawa saya demi melindungi Gita," ujar Randa.


"Nah ... denger, tuh. Terbukti jika dia pacarku" ujarku sombong.


"Tau ah, intinya kamu yang telat pacaran," ejek Ryuka.


"Daripada kamu jelek, enggak ada pacar," ejekku balik.


"Pacarku itu cantik, beda banget sama kamu yang burik," ejeknya. Aku menatap Ryuka tajam. Baru saja ingin kumaki tetapi Randa menggenggam tanganku.


"Ish," decakku kesal.


Daddy, Randa , Ryuka dan aku mulai mengobrol santai. Kami bahas seputar motor. Ah, senangnya kalau mereka suka semua tentang motor.


Kecuali Randa, dia enggak mau aku ikutan balapan liar lagi. Main balapan cukup sama dia saja atau sekadar jalan-jalan sama dia naik motor.


"Main game, yuk!" ajakku.


"Makan dulu," ujar Mommy datang dan menimpali.


"Baiklah, ayo makan!" Kami bergegas ke ruang makan dan menikmati masakan Mommy. Wah, enak banget. Masakan Mommy memang top enggak ada duanya, hehehe.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2