Garis Finis

Garis Finis
20


__ADS_3

Tidak terasa sudah seminggu ini Maura bekerja di Sammuel Group. Ia menunjukkan kemampuannya. Tidak ada tanda-tanda mencurgikan selama ini.


Ia membuat Randa tak curiga sedikit pun. Terlihat profesional. Kerjanya juga bagus dan selalu membuat Randa semakin menyukainya.


Pekerjaan laki-laki itu sedikit menemukan titik cerah.


"Selamat pagi, Pak," sapa Maura.


"Pagi." Randa menetap sekrestarisnya.


"Hari ini bapak ada pertemuan dengan Pak Bram dari Indonesia di ruang meeting. Malamnya Bapak menerima undangan di Hotel GH VV." Randa mengangguk.


"Baiklah." Maura tersenyum tipis.


"Semua akan berakhir dengan cepat," batin Maura.


Randa mengirim pesan kepada kekasihnya Gita. Ia tahu kepulangan gadisnya itu hari ini.


Setelah mengabari Gita, ia segera menonaktifkan ponselnya menuju ruang meeting.


Maura mengekori Randa dari belakang dengan laptop di depan dadanya.


"Selamat pagi, Pak Bram," sapa Randa sambil menyunggingkan senyum khasnya.


"Selamat pagi, Pak Randa." Mereka berjabat tangan, lalu duduk. Keduanya mulai membahas projek mereka serta masalah-masalah perusahaan yang sedanv ditangani Randa.


****


Seorang gadis telah mengemasi barang-barangnya. Hari terakhir berada di Mokpo.


Dia termenung di pembatas balkom. Beberap hari ini ia telah mendapat berbagai macam serangan teror.


Ia baru menyadari jika itu teror jika saja temannya tidak mengatakan jika itu adalah teror.


"*** banget, sih yang neror gue," gumamnya, "belum tahu kalau gue bisa kejam." Seringainya mencul.

__ADS_1


Matanya memicing melihat seorang pria di bawah sana dengan hoodie hitam serta topi yang melindungi kepala pria itu.


Brak!


Gita melakukam reflek cepat. Dia menunduk sampai batu yang dilempar ke arahnya melesat dan memecahkan kaca di kamarnya.


"***!" makinya. Ia melihat batu itu dan tulisan di sana.


Mata Gita memerah menahan amarah. Tangannya mengepal kuat saat ia melihat fotonya yang berada di gulungan itu robek-robek.


~Kedua kakimu akan hilang.


Napas Gita memburu. Ia memejamkan mata dan membuka matanya perlahan. Tangannya dengan sengit memungut semua benda teror itu dan membuangnya di tempat sampah.


"Im badgirl." Gita berjalan dengan cepat.Menemui Yohan.


"Yohan, kita ke Seoul jam berapa?" tanyanya.


"Nanti sore. Bersiap-siap saja," ujar Yohan. Gita mengacungkan jempol dan menyengir.


Bibirnya menyeringai tajam. Malam ini dia akan melepaskan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. Hanya ada dua orang yang tahu tentang rahasia terbesarnya.


Bahkan Ryung tidak tahu dan Eunbi pun tidak tahu. Ia terlalu apik dalam menyembunyikan rahasianya.


"Jika ini adalah jalan yang harus aku tempuh, maka aku akan melakukannya. Biar nyawaku melayang," gumamnya.


Drtttt ....


"Halo." Bibir Gita berkedut saat mendapat cibiran dari seberang sana.


"Aku ingin tahu teror ini dari mana?" Gita akan mencari tahu sumber terornya.


" ...."


"Kau yakin?" Dahinya mengerut. Sesekali kakinya yang menyilang ia goyangkan.

__ADS_1


"Aku akan mengurusnya." Gita menghela napas panjang.


Ia berdiri dan menganti pakiannya. Memakai kaus putih dan jaket kulit hitam. Celana panjang berwarna hitam dan juga sepatu both.


Ia akan menemui seseorang. Orang yang akan membantunya menjalankan rencananya.


"Kau ingin ke mana?" tanya Yohan. Ia melihat Gita tergesa-gesa.


"Aku ada urusan sebenatar dan ingin membeli beberapa oleh-oleh," ujarnya mengambil alasan.


"Baiklah. Jangan telat kembali," ujar Yohan.


"Ok." Gita mengacungkan jempol dan keluar dari penginapan. Matanya menatap tajam ke depan. Sampai sebuah mobil mewah berhenti di hadapannya.


"Jalan," perintahnya saat dia berada di samping kemudi.


"Kau yakin?" Orang itu memastikan keputusan wanita itu.


"Aku tidak akan main-main." Ucapan Gita begitu dingin.


"Hufgghhh ... aku rasa jika kekasihmu tahu, entah apa yang akan terjadi denganmu dan juga 'dia'." Gita hanya diam tanpa menimpali ucapan pria di sampingnya.


Sejujurnya dia lelah menahan rahasianya selama ini. Semua semakin terlihat jelas setelah ia mendapat serangan teror.


"Aku akan melakukan apa pun termasuk hal kotor," ujar Gita setelah lama terdiam.


"Jangan biarkan  emosi menguasaimu. Randa pria baik," ujar pria itu.


Gita membenarkan dalam hati.


TBC


Rahasia apa hayo? 😂


Kira-kira rencana Maura bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2