Garis Finis

Garis Finis
4


__ADS_3

Sejak tadi Gita tersenyum lebar tanpa menyembunyikan senyuman bahagianya. Randa benar-benar menemuinya di  garis finis.


“Lo juga balapan?” tanya Gita kepada Randa.


“Enggak, alasan gua belajar ini karena lo. Gua mau termu ilo di garis finis,” ujar Randa membuat Gita tertawa senang. Dia juga tidak mengerti perasaannya. Dia hanya ingin terus tertawa.


“Lo, kok jahat banget enggak kabari gue kalau datang ke Korea?!” sungut Gita kesal. Randa menghela napas. Dia menatap Gita dengan tatapan fokus.


“Gua sibuk dan gua ke sini juga ambil S3 gua.” Gita mengaga mendengar ucapan Randa. Jangan-jangan dia senior yang digosip oleh anak-anak kampus.


“Jadi, lo tinggal di Korea sekarang?” tanya Gita memastikan. Randa mengangguk membenarkan. Dia akan tinggal di Korea selama menempuh pendidikan S3-nya.


“Asyik!” teriak Gita tanpa malu.


“Senang banget,” sindir Randa membuat Gita menonjok bahu Randa pelan. “Akhhh!” Dia meringis.


“Eh, lo habis jatuh tadi. Gua sampai lupa. Mana yang sakit?” tanya Randa panik. Dia mengecek badan Gita membuat gadis itu mematung.


“Kok gue kayak lagi disetrum listrik?” batin Gita polos. “Gue enggak apa-apa,” jawabnya.


“Obati dulu luka lo. Gue takut luka lo infeksi,” resah Randa. Gita menarik Randa agar duduk.


“Gue masih penasaran sama keberadaan lo di sini. Lo sebenarnya bukannya sudah jadi CEO apa kuliah lagi?” tanya Gita.


“Gue mau ambil S3 gua, memangnya salah?” tanya Randa yang dibalas galengan kepala oleh Gita. “Maaf gua enggak bisa jujur sama lo, Git. Gua datang buat berjuang dapatkan lo,” lanjut Randa dalam hati.


“Ekhm, berarti lo senior gue di Kampus.” Mereka melanjutkan obrolan mereka sampai larut mala. Randa meminta Gita untuk segera pulang.


“Ya sudah, lo sekarang bali. Sudah malam banget, gua anter,” ujar Randa.


“Enggak usah, gue balik sendiri saja,” tolak Gita.


“Enggak, gua anter lo pulang,” kukuh Randa. Gita mengangguk mengizinkan.

__ADS_1


Mereka pulang bersama dan  sesekali Gita akan mencuri pandang ke arah Randa.


“Ahh ... gue kenapa sebenarnya?” batin Gita mulai resah.


***


Sesampainya di rumah Gita, Randa segera pamit. “Gua pulang dulu,” pamitnya.


“Hati-hati di jalan.” Randa mengangguk dan meminta Gita masuk ke dalam/ Dia pergi setelah Gita sudah masuk.


Gita mengendap-endap masuk dan dia menyengir saat lampu menyala. “Hehehe, Mommy,” ujar Gita menyengir lebar.


Terdengar helaan napas dari bibir Eunbi. Dia menatap anaknya dengan pandangan kalut. “Gita, kamu capek, Sayang?” tanya lembut. Gita mengerutkan kening, tidak biasanya Mommy-nya tidak marah melihatnya pulang larut malam.


“Tidak, Mom,” ujar Gita berbohong. Badannya terasa remuk dan luka di badannya mulai perih.


“Duduk di sini,” pinta Eunbi. Dia rencananya mau menginap di rumah Gata, tetapi ia urungkan niatnya.


“Gita, Mommy mohon kamu jangan panik.” Perasaan Gita merasa waswas. Dia melihat mata Mommy-nya berkaca-kaca.


“Ada apa, Mom?” Gita menggenggam tangan Ibunya.


“Grandma Jeneni hiks ... hikss ... dia masuk ke Rumah sakit,” ujar Eunbi. Bagaikan ribuan panah menancap di dada Gita.


Jeneni adalah Ibu kandung Jungkook yang menyayangi sewaktu kecil. Menjaganya saat kedua orang tuanya dulu bermasalah. Memberinya begitu banyak mainan.


“Mom,” lirih Gita dengan air mata jatuh pada pelupuk matanya.


“Hiks ... kamu yang kuat, Sayang.” Eunbi memeluk putrinya yang kini menangis tersedu-sedu. “Hiks ... Grandma,” isak Gita.


“Hiks, mom, ayo kita ke sana,” ajak Gita yang diangguki Eunbi. Ryung sendiri masih di Rumah sakit dan Ryuka turun dari kamarnya. Dia sudah lengkap.


“Ayo, Mom,” ajak Ryuka. Gita pergi ke Rumah sakit malam itu tanpa peduli dengan luka tubuhnya. Dia takut Jeneni kenapa-napa. Walau ia tahu usia Jeneni memang sudah sangat renta.

__ADS_1


“Hikss ... aku takut, Mom,” isak Gita.


“Sayang, berdoalah,” ujar Eunbi yang sebenarnya juga takut. Dia mengusap punggung Gita yang masih menangis tersedu-sedu.


Butuh tiga puluh menit mereka tiba di Rumah Sakit. Mereka bergegas ke ruang inap Jeneni. Di sana semua keluarganya berkumpul.


“Hiks ... hikss,” isak Gita saat menatap dari luar kaca ruangan Jeneni. Berbagai alat menancap di tubuhnya.


“Hikss Grandpa,” panggil Gita membuat Rudiger menoleh. Mata rabunnya menatap cucunya sendu. Dia memeluk Gita yang menangis hebat.


“Hikss ... aku sayang Granma hikss Grandma tidak akan kenapa-napa ‘kan, Grandpa?” tanya Gita membuat Rudiger bukam.


Gita  menangis sepanjang malam dan saat diperbolehkan melihat Jeneni, dia tidak mau beranjak sedeikit pun dari ruangan Jeneni.


“Nak, istirahatlah,” ujar Jungkook kepada cucunya. Dia ikut sedih melihat Ibunya berbaring di sana.


“Hikss Grandpa, aku takut jika dia pergi dan meninggalkanku,” isak Gita. Jungkook memeluk cucunya erat. Apakah dia sanggup berpisah dengan Ibunya? Jawabannya tidak.


Dia mengingat saat dia menimang Echa di waktu putrinya masih kemerah-merahan, dengan sabar Ibunya ikut membantu. Saat dia hampir kehilangan istri tercintanya Aeri, Jeneni memberinya semangat.


Sekarang ... penyemangatnya telah berbaring tidak mampu bergerak. Ingatan selama ini mulai memudar karena kapasitas usianya sudah menua.


“Mom ... putramu sangat mencintaimu dan lihat cucumu juga mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Mom,” batin Jungkook dengan mata memerah menahan tangis.


Tbc


Jangan lupa follow guys


Jejaklah karena semangatku menulis berasal dari komentar kalian juga.


**Aku enggak mau lanjutin jika dibaca tetapi enggak di follow. Gimana caranya aku tahu? Viewnya banyak tetapi followersku kurang.


Silakan follow**.

__ADS_1


__ADS_2