Garis Finis

Garis Finis
22


__ADS_3

Randa masuk naik ke atas dan masuk dipapah oleh Maura. Bahkan jasnya telah terlepas dari tubuhnya.


Maura mengunci pintu dan mendekati Randa kembali. Tangannya membuka sepatu Randa serta membuka satu per satu kanci baju kemeja Randa.


"Ashh ... apa yang kau lakukan?" tanya Randa lemah. Kepalanya pusing. Suhu tubuhnya makin menanas.


"Tenanglah, Pak. Ini akan membantu, Bapak," ujar Maura dengan senyum nakalnya. Ia membuat Randa kini half naked.


Perut kotak-kotak pria itu membuat Maura tergiur. Dia membuka bajunya hingga telanjang bulat.


Ia segera membuka celana Randa. Ia menyeringai tajam. Tangannya merogoh tasnya dan mengambil handicame untuk merekam kegiatan panas mereka.


Maura mulai menjilati **** Randa. Membuat pria itu semakin tersulut gairah. Desahan dan napas tidak teraturnya tanda pria itu benar-benar di bawah pengaruh obat.


"Berhenti!" Randa mendorong keras Maura. Dia mencoba menetralkan suhu tubuhnya meski itu sia-sia. Justru teramat menyakitkan untuknya.


"Siapa kau?!" tanya marah. Maura tertawa penuh kemenangan. Alih-alih menjawab pertanyaan Randa, dia melah memancing birahi pria itu.


"Berhenti, Bicth!" Randa semakin tersiksa.


"Kau salah, Mr. Sammuel. Nikmati saja dan kekasihmu akan mati malam ini. Kau tahu, kalian berdua akan berakhir," ujar Maura membuat Randa menggeretakkan rahangnya,"dia berada di tangan Alex, hahaha dan kau ... berada di tanganku. Kamu tidak akan bisa menahannya."


Memang benar. Randa sekuat tenaga menahannya. Tubuhnya penuh keringat diging.


"Sshhampai mati pun ahhku tidakk akan pernahh sudih menyentuhmu," desisnya. Maura semakin terbahak-bahak.


"Your dream Mr. Sammuel," ujarnya dan menatap mata Randa tajam, "kekasih bodohmu itu akan berakhir! Kau lihat saja."


Brak!

__ADS_1


Maura mendorong keras Randa. "Apa yang kau lakukan?!" teriaknya marah.


"Membuatmu menghamiliku, dengan begitu hartamu akan jadi milikku," ujarnya santai.


***


Brak!


"Lepas, Brengsek!" teriak seorang gadis meronta-ronta.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya pria itu saat gadis di depannya meludahi wajahnya. Ia begitu murka sampai mendaratkan tamparan keras di pipi wanita tersembut.


Plak!


"Akhhh!" ringis gadis itu. Kepalanya telah berdara karena pukulan balok di kepalanya.


Gita tertawa meski tubuhnya sedang dipengan oleh anak buah Alex. Tawanya membuat Alex menatap semakin tajam ke arahnya.


"Randa akan membunuhmu jika tahu perlakuanmu padaku, Brengsek!" teriaknya.


"Randa ... ah, kekasihmu itu sedang bercinta dengan panas bersama sekretarisnya di Hotel." Gita menggeleng tidak percaya. Alex maju selangkah dan memengan dagu Gita, "Perlukah kita melihatnya secara live?" tanyanya keji.


Ia membuka ponselnya yang terhubung dengan CTTV kamar tempat Randa dan Maura.


Air mata Gita menganang di pelupuk matanya. Ia teramat sakit hati melihat Randa dan seorang wanita tanpa sehelai benang apa pun.


"Brengsek," batinnya.


"Bagaimana dengan pemandangan itu, Honey? Perlukah kita mencobanya juga?" tanya Alex.

__ADS_1


"Kau salah melangkah, Lex. Jujur aku kecewa melihatmu berubah menjadi sosok monster meng--"


"Diam!" bentak Alex, "Kau pikir hanya aku yang monster di sini? Bagaimana dengan sosok dalam tubuhmu? Menahannya bertahun-tahun tidak mudah, 'kan? Melihatmu membawa pisau membuktikan ia telah terlepas dari pertahananmu."


Gita terdiam.


"Kau tidak mengenalku," lirihnya.


"Kau Psychopat!" teriak Alex, "sama sepertiku."


Gita menatap Alex datar. "Sayangnya kau terlalu angkuh, Gita. Bukannya harusnya kita bersama? Aku harus membunuhmu," ujar Alex.


"Dari mana kau tahu aku Psychopat?" tanya Gita yang mengabaikan ucapan Alex sebelumnya.


"Aku tahu, karena aku dan kau sama saja. Melihatmu tidak takut darah, begitu santai dengan darah dan terkahir ... kamu hampir membunuh Randa," ujar Alex membuat Gita menatapnya tajam.


"Jangan mengarang!" bentaknya, "Aku dan Randa saling mencintai!"


"Hahahah .... saling mencintai~ benar. Kau sungguh polos. Mungkin karena didikan Ibumu, tetapi ingat darah ayah kandungmu tetap mengalir dalam tubuhmu. Ayahmu seorang pembunuh," ujar Alex membuat Gita pucat pasi.


Ia terlalu lupa dan terlalu larut menganggap Ryung sebagai Ayah kandungnya. Tanpa peduli darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya. Bahkan ia tidak mengenal bagaimana Ibu kandungnya.


"Kau harus mati karena kamu anak jalang itu dan Ayahmu jugalah yang membunuh adikku. Bukankah nyawa harus dibalas nyawa?" Alex kini mengeluarkan pisau.


Ia menancapkan di paha Gita.


"Akhhhhhh!"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2