Garis Finis

Garis Finis
16


__ADS_3

Bismillah :)


Aku up crazy :)


Gita duduk termenung di kursi dekat Randa. Matanya bengkak karena lama menangis. Ryuka menatap kakaknya dalam diam. Dia tahu, kakaknya bukan orang yang mudah menangis. Akan tetapi, dia menangis karena laki-laki yang nyaris nyawanya melayang.


“Sebaiknya lo makan dulu,” ujar Ryuka. Gita menggelengkan kepalanya.


“Lo mau sekarat juga? Gue banyak urusan, Gita. Gua mau pulang kalau lo enggak mau menurut sama gua,” ujar Ryuka kesal.


“Gue itu lagi sedih, Ka. Bisa enggak sih, lo mengerti sama posisi gue,” ketus Gita. Ryuka memutar bola matanya malas.


“Sini makan!” Gita menghela napas dan berjalan dengan gontai. Wajahnya ia tekuk saat menatap Ryuka. Ryuka tidak peduli asal Gita makan.


“Cowok mana yang buat cowok lo hampir mati?” tanya Ryuka di sela-sela ia mengunya. Gita menatapnya dengan alis terangkat.


“Gua bantu babak belurin, gua punya teman-teman yang siap bantuin buat bonyokin itu orang,” ujar Ryuka membuat Gita refleks memukulnya.


Plak!


“Sakit, Anjir!” Ryuka mengelus lengannya yang dipukul Gita.


“Kapan Randa bangun? Gue sedih banget liat jadi begini karena gue. Gue buat dia dalam bahaya,” lirih Gita.


“Gita, lo mungkin berpikir terlalu pendek. Kalau cowok sudah sayang sama cewek itu enggak bakal kenal apa pun. Nyawa pun taruhannya, lo enggak usah merasa bersalah. Gue pun sama, akan lakuin yang dia lakuin buat melindungi,” ujar Ryuka membuat mata Gita berkaca-kaca karena terharu.


“Lo segitunya juga buat lindungin gue,” ujarnya.


“Ck, lindungin cewek gue bukan lo,” ujarnya membuat Gita kembali memukulnya. “Adek laknat!” teriaknya.


Mereka mulai makan dan sering mengejek satu sama lain. Sampai Randa sadar. Ia menolah dan melihat Gita bersama Ryuka.


“itu, cowok lo sudah bangun,” ujar Ryuka saat matanya tidak sengaja melihat Randa. Gita menoleh dan bergegas ke sana.


“Randa,” panggilnya. “Kamu mau minum?” tanya Gita.

__ADS_1


“Iya,” lirih Randa. Serak.


Gita membantu Randa untuk minum. Matanya tidak pernah lepas memandang kekasihnya. Ia merasa beruntung memiliki Randa. Menjaga dan mengorban dirinya untuk melindunginya.


“Kamu kenapa menangis?” Bahkan Gita tidak sadar kenapa dia menangis. Ia hanya terharu.


“Aku senang bisa memiliki kamu. Aku senang bisa jadi pacar kamu dan aku ingin berterima kasih kepada Sela, karena dia kita bertemu,” ujarnya. Randa tersenyum mendengar penuturan kekasihnya.


***


Gita POV


Aku sebenarnya masih ingin menjaga Randa, tetapi aku harus magang. Aku benar-benar didera rasa malas untuk melanjutkan tugasku.


“Lo baik-baik saja?” tanya Yeunji teman kelasku. Aku sekamar dengannya dan Alex hilang di sini. Aku tahu jika dia tidak berada di sini lagi oleh Jihwan.


“Gue baik-baik saja. Gue Cuma malas mengerjakan laporan ini,” ujarku.  Aku menatap Yeunji, aku ingin tahu kenapa bisa Randa terluka. Yang aku tahu Randa ke sini dan berantem dengan Alex.


“Yeunji, gue mau tanya, lo ‘kan tahu di sini ada kejadian kemarin. Lo tahu, dong, bagaimana awal itu terjadi.


“Jadi begini ceritanya ....”


Flash Back


Randa tentu marah setelah melihat Gita begitu terguncang setelah kejadian kemarin. Ia sangat bersyukur saat Gita mulai ceria meski dia kadang melihat kekasihnya terlihat takut.


Randa akhirnya pergi dan ke Villa penginapan Gita. Di sana dia mendatangi kamar Alex. Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya, karena dia menemukan Alex duduk santai.


“Apa yang membawa lo kemari? Tanya Alex dengan wajah mengejek. Wajahnya masih babak belur, tetapi pria itu seolah tidak peduli.


“BTW, tubuh Gita benar-benar nikmat. Gua ingin rasain lagi ... lagi dan lagi,” ujarnya membuat Randa mengepalkan tangan kuat. Ia maju dan menarik kerah baju Alex. Giginya bergemeletuk.


“Gua datang buat hajar lo! Lo enggak akan gua biarkan hidup tenang!” teriaknya. Sontak kamar Alex yang tidak terkunci membuat mahasiswa dan mahasiswi lainnya berkumpul.


“Hahahaha ... lo kecewa karena gua yang pertama rasaka—“

__ADS_1


Bugh! Bugh!


“Bangsat!  Gita bukan wanita murahan yang bisa lo lecehkan!” Randa lepas kendali. Ia dan Alex saling menghajar satu sama lain. Alex terpental ke dekat nakas mejanya. Ia berbalik dan menyeringai. Tangannya dengan sigap mengambil pisau yang teretak di sana.


“Lo—“


Ztttt!


Alex menusuk perut Randa. Mereka semua menjadi panik. Tawa Alex pecah saat itu juga. Dia terlihat seperti seorang psychopat. Randa menahan rasa sakit di perutnya.


Bugh!


Dia menonjok hidung Alex dan mereka tumbang bersama. Alex dilarikan ke rumah sakit dan Randa masih bertahan walau wajahnya sudah pucat pasi. Ia meminta di antar ke hotel tempatnya menginap.


Flashback off.


“Jadi begitu ceritanya,” ujar Yeunji.


Gita ingin rasanya memeluk kekasihnya. Dia ingin cepat-cepat pulang dari sini. Dia tidak betah di sini. Ia ingin selalu berada di samping Randa.


“Huwaaaaa 3 bulan itu  lama!” teriaknya membuat Yeunji kaget.


“Selesiakan dengan cepat dan jangan malas biar bisa pulang melepas kangen. Ck, gue pikir lo itu enggak ngerti tentang cinta, ternyata ngerti juga. Mana sekali embat mana Randa Sunbae,” ujar Yeunji.


“Iya ... iya ... gua bakal selesaikan dan cepat pulang biar lepas kangen sama dia,” ujarnya. “Terus, Alex ke mana?” tanya Gita.


“Dia di rawat dan dipenjara mungkin.” Gita sejujurnya sedih melihat sahabatnya berubah. Semua terjadi begitu saja karena cinta yang dimiliki Alex.


“Gita, gue saranin lo hati-hati sama Alex. Dia itu mirip monster sekarang,” ujar Yeunji.


“Iya, gue bakal jaga jarak sama dia.” Yap, Gita bertekat untuk menjauh dari Alex. Dia juga emosi melihat kekasihnya hampir mati karena kegilaan Alex.


“Aku jadi memikirkan ucapan Yeunji. Bisa saja Alex balas dendam lagi,” batin Gita.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa jejak


__ADS_2