
Saat ini, Dera sedang mengenakan gaun merah seksi yang memperlihatkan bagian dadanya. Kain itu sama sekali tak membalut dengan sempurna karena panjangnya hanya sebatas paruh paha.
Senyumannya dibuat semanis mungkin, ia menghampiri Zayn. Irwan pun segera meninggalkan mereka, Dera mendorong Zayn perlahan untuk masuk ke kamar dengan tangannya yang berada di dada lelaki itu.
“Ngapain kamu ke sini, hah!” bentak Zayn pada Dera. Ia berjalan mundur menghindari wanita itu.
Dera sengaja datang saat malam hari, di mana restoran itu sudah tutup dan tidak ada satu pun karyawan lagi, kecuali satpam tang berjaga, Zayn, juga pamannya.
“Aku mau arisan, tapi saldo debitku kosong Sayang,” jawabnya sambil terus bergelayut manja menggoda Zayn. Namun ia langsung menjauh dari Dera. Sekuat apa pun Dera menggoda suaminya itu, Zayn tak akan mudah tergoda dan tidak akan jatuh ke pelukannya. Baginya, Dera adalah wanita yang menjijikkan, mengobral dirinya untuk lelaki liar di luaran sana.
“Bukankah dua hari yang lalu sudah kutransfer? Kau ke manakan uangnya?”
“Kan, buat beli susunya Kania, Sayang ....”
“Omong kosong! Segera pergi dari kamarku!”
Bagaimanapun, Zayn tetap bertanggung jawab atas semua nafkah dan kebutuhan Dera juga anaknya, walaupun dia tak menyukainya.
“Aku nggak akan pergi sebelum kamu transfer uangnya,”
Tanpa banyak bicara, Zayn pun segera menransfer ke rekening Dera. Dia menatap tajam wanita itu dan berkata salam hatinya. “Tunggu sampai aku membuktikan kalau Kania bukan anakku, aku akan menceraikanmu!”
Sambil memainkan ponselnya, ia menghampiri Dera dan berkata, “Oke, sudah masuk. Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Sayang!” Dera tersenyum genit. Ia lalu berjalan melenggok keluar dari kamar Zayn.
“Aargghhhh ... sialan! Sampai kapan masalahku akan selesai!” Zayn memukul tembok di sebelahnya. Ia melampiArkhan kekesalannya pada dinding yang tak berdosa. Untung saja tembok itu tak bernyawa, jika bernyawa pasti akan berteriak meminta tolong.
Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Lima tahun berlalu. Seorang wanita menatap sekeliling restoran yang ia bangun susah payah selama beberapa tahun belakangan ini. Terlihat sangat lebih baik dari sebelumnya, pengunjungnya semakin ramai. Semua usahanya itu tak akan berjalan mulus jika tak ada peran suami di dalamnya yang selalu setia membantunya.
“Lihat apa, Sayang?” tanya seorang lelaki dari belakang Nayra.
“Ah, ini ... aku sedang memperhatikan para pengunjung yang ramai, aku seneng banget, akhirnya impianku tercapai. Ini semua juga berkat bantuanmu.”
__ADS_1
“Aku akan lakukan apa pun untuk kamu, Sayang. Aku akan membuatmu selalu bahagia,” tuturnya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Nayra.
“Terima kasih atas semua usaha kamu selama ini,” ucap Nayra dengan tatapan kosong.
“Sayang ... kamu mencintaiku, kan?”
“Hem ... iya.” Nayra mengangguk pelan, ada sedikit keraguan di hatinya, tetapi suami di sampingnya itu tersenyum bahagia walau hanya mendapat reaksi anggukan dari sang istri.
Lelaki itu mencium kening Nayra. “Kalau begitu, kita berangkat sekarang?”
“Yuk!” Nayra dan suaminya berjalan keluar dari restoran mereka, menuju mobil yang sudah di siapkan oleh sopirnya.
“Sayang, sebentar aku ke dalam dulu, HP-ku ketinggalan.”
“Baiklah, aku tunggu di mobil, ya,” ucap Nayra pada suaminya yang berjalan cepat masuk ke dalam restoran untuk mengambil ponselnya.
Terlihat seorang lelaki berpenampilan rapi, memakai setelan jas berwarna navy keluar dari mobilnya. Pria berperawakan tinggi itu berjalan tergesa-gesa menghampiri Nayra yang akan memasuki mobilnya.
“Rara!” teriaknya menggugah hati Nayra.
“Rara ...? Suara itu ... hanya dia satu-satunya orang yang memanggilku ‘Rara’,” batin Rara saat dia mendengar suara yang tak asing memekik telinganya.
Suara lantang itu seketika membuat Nayra langsung menoleh ke belakang dengan cepat.
“Rara ... ke mana aja kamu selama ini! Aku mencarimu.” Pria yang mempunyai jambang tipis itu kini hanya berjarak kurang dari satu meter dengan Nayra. Hampir saja lelaki itu lepas kendali hendak memeluk Nayra.
Nayra terpaku, tak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya, tenggorokannya tercekat, bibirnya seolah kelu tak mampu berucap. Hatinya berdebar seiring dengan tubuhnya yang gemetar. Juga, matanya, saat ini tak bisa berbohong, bahwa ia sangat merindukan lelaki di depannya. Zayn, ya, dialah yang berdiri di depannya saat ini.
“Ehm ... maaf, aku harus pergi,” pamit Rara pada lelaki yang menyapanya beberapa detik yang lalu, ia berusaha menghindar.
“Rara ... sebentar saja, aku ingin berbicara denganmu, apa kamu tidak merindukanku? Ke mana saja selama ini? Sekarang kamu tinggal di mana?” Zayn menghujani beberapa pertanyaan pada Nayra, tetapi tak ada satu pun yang di jawab oleh wanita itu. Bibirnya enggan mengucap kalimat yang gagal ia rangkai.
__ADS_1
“Kamu ... kamu sudah berubah sekarang. Hem ... kamu makan di sini juga?” tanya Zayn basa-basi. Pandangannya tak berkedip melihat Nayra.
“Enggak, aku ... restoran ini ....”
Belum selesai Nayra mengucapkan kalimat gugupnya, Zayn lagi-lagi mengatakan sesuatu. “Aku benar-benar tidak menyangka kalau kita bisa bertemu di sini. Sepertinya, Tuhan mengizinkan kita untuk bersatu lagi, Ra,” Zayn tersenyum, mencoba meraih tangan Nayra. Ia menganggap bahwa semua jni adalah takdir yang akan menyatukan mereka kembali.
“Maaf, aku harus pergi sekarang, Ada hal penting yang harus aku kerjakan!” ucap Nayra, matanya mulai berkaca-kaca.
“Rara, tolonglah ... aku mencintaimu, aku masih sangat mencintaimu,” tutur Zayn dengan raut wajah yang sendu. “Ikut aku!” Zayn menarik tangan Nayra dengan paksa dan mengajak ke mobilnya.
“Lepaskan! Atau aku akan teriak.”
“Maaf, maaf. Aku hanya ingin kamu mendengarku.”
“Sudahlah, hubungan kita benar-benar sudah berakhir. Kisah kita yang lama sudah menjadi masa lalu, sebaiknya kita kubur dalam-dalam.”
“Tidak bisa Ra, aku ....” Zayn berusaha menjelaskan bahwa ia tidak bisa melupakan Nayra sampai detik ini juga.
“Aku harus pergi.” Rara memasuki mobilnya di barengi dengan teriakan Zayn yang terus memanggil nama wanita itu. Mobil yang di tumpangi Ranja pun berjalan perlahan meninggalkan restorannya.
Di dalam mobil, Nayra melamun. Ia seenak terbayang wajah Zayn, terbayang kisah kelam mereka beberapa tahun lalu. Nayra memutar ingatan tersebut, di mana saat dia dalam masa sulit berusaha melupakan Zayn.
“Kenapa harus bertemu lagi setelah lima tahun lamanya, padahal aku tak mengharap sedikit pun bertemu denganmu. Susah payah aku melupakanmu, kenapa hadir lagi di hidupku ... aku sudah menjauh darimu, aku juga sudah menikah, tapi kenapa hatiku sakit saat melihatmu. Rasa itu masih terpendam sampai sekarang, Zayn. Namun, semua mustahil, kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama.”
"Bu ...." Entah tak mendengarnya, atau memang pikirannya lagi tidak bisa fokus, ia tak merespons panggilan sopirnya.
"Bu Nayra ...." Sopir itu sekali lagi memanggil Nayra dan sedikit meninggikan suara.
"Eh, iya, Pak. Ada apa?"
"Maaf, apa Tuan tidak jadi ikut?"
"Ikut? Ke mana?" Nayra berpikir sejenak, ia lalu menepuk jidatnya setelah tersadar. "Astaga, Pak! Balik Pak, cepetan!"
__ADS_1
"Duh ... kenapa mesti ketinggalan sih!" umpatnya.