Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Pergi Ke Singapura


__ADS_3

Arkha mengayunkan langkahnya meninggalkan ruangan ICU. Tubuh gagah itu searah dengan kakinya yang melangkah pasti menghampiri Nayra. Wanita itu terlihat tengah mengobrol di kursi tunggu dengan Dera. Istri dari seorang Arkha itu tampak membicarakan hal yang serius dengan Dera, Arkha mendekat lalu memotong pembicaraan keduanya karena ia harus buru-buru pergi.


“Sayang, aku pergi ke kantor sekarang, ya?”


“Ah, iya.” Nayra berdiri dan meraih tangan Arkha, lalu mencium punggung tangan suaminya.


Selang beberapa menit Arkha pergi, Nayra meminta izin pada Dera untuk menjenguk Zayn dan langsung diiyakan olehnya. Nayra melangkah ragu menuju pintu yang bertuliskan ICU itu, ia membuka knop pintu dengan berat.


Sebenarnya ia tak tega melihat keadaan Zayn yang begitu memprihatinkan, akan tetapi hatinya ingin sekali memberi semangat pada lelaki itu agar lekas sadar dari komanya. Ya, sudah dua bulan lebih lamanya Zayn terbaring, tetapi masih belum juga ada perkembangan walau sekecil apa pun.


Nayra pun mendekat ke samping brankar yang sekitarnya dipenuhi alat penyambung hidup Zayn, mulai infus, selang, alat pernafasan dan juga mesin pendeteksi detak jantung. Entah, apakah lelaki itu akan bisa sadar dan pulih kembali secepatnya, atau hanya akan berakhir di brankar itu, tidak ada yang bisa memprediksinya.


Napas Nayra terasa sesak ketika ia menatap lekat wajah Zayn yang pucat pasi, nyaris tak terlihat cahaya kehidupan di sana. Hatinya lemah saat ia membelai lembut tangan lelaki itu. Air mata Nayra mulai terlihat menggenang di pelupuk mata seakan ingin lolos, tetapi ia masih menahannya.


Bibir Nayra tak henti-hentinya mengucap doa, besar harapannya untuk kesembuhan Zayn saat ini, agar ia bisa melihat dan menyaksikan kebahagiaan Zayn yang harus ia dapatkan setelah ia pulih kembali.


****

__ADS_1


Sementara itu di perusahaan AM Advertising, Arkha duduk dengan kesibukannya, matanya terpaku pada monitor di depannya. Jarinya tak berhenti menari di atas keyboard. Beberapa berkas yang menumpuk di meja seolah menunggunya untuk mendapat giliran,


Ketukan pintu terdengar di telinga Arkha, seketika membuyarkan konsentrasinya. Ia lalu segera mempersilakan seseorang itu untuk masuk ke ruangannya. Wanita cantik yang berpakaian formal memasuki ruangan Arkha sambil membawa beberapa berkas laporan. Ya, dia adalah Celine wanita yang saat ini berprofesi sebagai sekretaris Arkha. Ia sudah bekerja beberapa tahun di perusahaan itu, bahkan sebelun Arkha tiba di Indonesia.


“Selamat pagi, Tuan. Maaf mengganggu waktunya, ada yang harus saya sampaikan.” Celine menunduk memberi hormat pada bosnya.


“Pagi, ada apa?” tanya Arkha dengan raut wajah penasaran. Kali ini ia sedikit bisa membaca pikiran sekretarisnya, karena tak biasanya Celine mengetuk pintu bosnya sepagi ini. Bahkan ia hanya akan berani masuk jika di telepon oleh Arkha untuk mengantarkan sesuatu ke dalam ruangan itu. Jika tak ada perintah, maka ia tidak akan berani masuk sembarangan.


“Pak, ini laporan perusahaan yang ada di Singapura, ada masalah yang cukup besar.” Celine menyerahkan berkas yang sejak tadi di pegangnya.


Arkha membuka berkas yang ada di tangannya. Satu persatu dia membaca barisan kata yang berada di dalam kertas itu. Keningnya mengernyit sehingga kedua alisnya hampir menyatu.


"Kamu yakin dengan laporan ini?" tanya Arkha tak percaya. Dia mengalihkan pandangannya kepada Celine. Celine menundukkan kepalanya karena takut terhadap tatapan bosnya itu. Tatapannya seakan ingin membunuhnya saat ini, padahal, biasanya Arkha selalu bersikap ramah terhadap para karyawan.


"Iya, Tuan, saya sangat yakin sekali. Jika Tuan tidak percaya, saya bisa bisa menyuruh seseorang untuk datang ke sini."


"Baiklah, kamu boleh keluar!" perintah Arkha tanpa melihat Celine, matanya masih fokus terhadap berkas yang dibacanya.

__ADS_1


Setelah menerima berkas yang diterima dari sekretarisnya dan mempelajari dengan saksama, Arkha duduk terkulai lemas, menyenderkan badannya ke sandaran kursi kerja. Wajahnya terlihat lesu. Sesekali ia menjambak rambutnya sendiri dibarengi dengan helaan napas panjang.


Arkha betul-betul tidak menyangka, perusahaan yang di Singapura, mengalami kerugian cukup besar, hampir mencapai satu Triliun lebih jika dirupiahkan.


Arkha pun langsung menelepon salah satu karyawannya yang ada di Singapura. Ia berpikir karyawan itu cukup hebat, ternyata masih bisa juga kecolongan.


"Kenapa bisa seperti ini? Hah!" bentak Arkha tanpa basa basi saat telepon tersambung.


"Hah, baiklah!" ujar Arkha setelah mendapatkan informasi dari orang karyawannya tersebut.


Arkha pun menutup telepon, lalu ia kembali menelepon seseorang. Jarinya menekan satu nama di kontak ponselnya. Tanpa menunggu lama, telepon itu langsung tersambung.


"Bro, bisa bantu aku? Aku sudah ditipu oleh salah satu orang kepercayaanku. Perusahaanku yang di Singapura mengalami kerugian besar. Rahasia perusahaanku telah di jual ke pesaing bisnisku. Aku ingin kamu handle dulu di sana."


Wajah Arkha kian frustrasi, ia terdiam sejenak untuk berpikir. Segera, dengan langkahnya yang tergesa-gesa, Arkha berjalan menemui Wijaya di ruang kerja yang berjarak beberapa meter dari ruangannya.


AM Advertising adalah perusahaan yang bergelut di dunia periklanan. Sejak menyelesaikan kuliahnya, Arkha memutuskan untuk merintis usahanya sendiri tanpa bantuan papanya di Singapura.

__ADS_1


__ADS_2