
"Seperti yang kamu lihat sekarang, Mama seperti orang lumpuh yang cuma bisa berbaring, Ar."
"Ma, sebaiknya Mama ikut Arkha ke Jakarta besok. Tidak perlu lagi mengurus perusahaan," tutur Arkha, ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Kenapa? Apa kamu sudah tidak percaya sama Mama?" ujar Fira, ia penasaran dengan keputusan Arkha yang mendadak.
" Reno yang akan mengurusnya, Ma."
" Reno? Apa dia tidak akan kerepotan?"
"Aku sudah membicarakannya tadi di mobil."
"Di mana dia sekarang?"
"Dia lagi meja makan, Ma."
"Kamu sudah suruh Bi Ina buat panasin makanannya?"
"Sudah kok," jawab Arkha singkat.
"Besok kalau keadaan Mama sudah membaik, kita berangkat ke Jakarta."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, gimana baiknya aja, Sayang. Padahal Mama masih semangat untuk mengurus perusahaan kamu. Ya ... walaupun fisik Mama seperti ini."
"Mama sudah harus banyak istirahat sekarang. Nggak boleh terlalu capek," tutur Arkha yang langsung diangguki oleh Fira.
Setelah ia berbincang dengan mamanya, Arkha kembali ke meja makan untuk menemani Reno yang sedang makan. Mereka sambil berbincang mengenai perusahaan dan mengatur rencana selanjutnya.
Arkha menghampiri Reno yang sedang menikmati makannya. Ia duduk tepat di depan sepupunya itu. Setelah seharian ia mengurus perusahaan, rasa lapar sungguh membuat perut mereka berisik tak karuan. Segera, Arkha mengambil piring yang berada di depannya lalu mengisi nasi serta lauk yang tersedia di meja itu.
"Bagaimana, Ar? Apa aku harus memanggil programmer sekarang?" tanya Reno sambil mengelap bibirnya dengan tisu seusai makan.
"Boleh juga. Tapi apa dia tidak keberatan untuk datang malam-malam begini?" tanya Arkha melirik ke arah Reno .
"Aku akan coba menghubunginya," jawab Reno yang langsung diangguki oleh Arkha.
Setelah selesai makan, Arkha pun juga bergegas menuju kamarnya. Ia mengurungkan niatnya untuk mandi. Ia menenteng jas yang sejak tadi sudah dilepasnya. Kemeja putih bermotif tipis masih melekat sempurna di tubuhnya. Ia hanya melingg Reno n bagian atas, membuka beberapa kancing bagian atas, serta melipat kemeja panjang itu menjadi sepanjang lengan.
Ia mulai membuka pintu balkon dan melihat pemandangan kota Singapura, tampak bangunan megah Marina Bay membuat netranya terfokus. Gemerlap lampu malam yang indah terus diperhatikannya. Wajah tegas Arkha kini terlihat lelah, ia memijit keningnya yang tak pusing. Menarik napas panjang dan membuangnya kasar membuat bebannya hari ini sedikit berkurang.
Sejenak, ia bertumpu pada besi pembatas balkon. Pikirannya memusat pada Nayra. Ingin sekali rasanya Arkha menghubungi istrinya itu. Tak dapat dipungkiri, ia sangat merindukannya. Ia diambang rasa kebimbangan, antara rindu dan cemburu.
Arkha mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia berniat untuk menghubungi Nayra. Namun, ada sedikit keraguan yang masih mengganjal, rasa cemburu itu masih tersisa jika mengingat istrinya lebih memengingkan lelaki lain dibanding dirinya.
__ADS_1
Arkha membuka pesan yang belum sempat mengeceknya. Ternyata, banyak pesan masuk dari Nayra yang terabaikan sejak sore tadi. Tanpa pikir panjang lagi, Arkha menelepon Nayra guna menanyakan kabar istrinya itu. Selang beberapa detik, nada dering tunggu itu beralih dengan suara Nayra.
"Halo," jawab Nayra dari sambungan telepon.
"Halo." Arkha menjawab singkat sapaan Nayra, ia pun sebenarnya tak tahu, bagaimana harus bersikap saat ia cemburu dan sedikit menahan amarahnya, apalagi dicampuri dengan bumbu rindu yang ia rasakan.
"Arkha, kenapa baru kasih kabar? Apa kamu begitu sibuk sampai nggak sempat balas pesanku?" tanya Nayra, nadanya terdengar pilu.
"Maaf, perusahaan memang lagi darurat. Jadi aku tidak sempat pegang HP."
"Kenapa kamu cuek begitu? Kamu marah sama aku? Aku minta maaf kalau aku ada salah, Ar."
Arkha terdiam sesaat. "Nayra ...." Arkha memanggilnya lirih, ia tampak berpikir untuk merangkai kata agar tak menyakiti hati istrinya.
"Iya," sahut Nayra.
"Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya, aku hanya ingin kamu mengerti."
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Arkha menarik napas panjang seolah tak mampu mengelu Reno n isi hatinya. Selama ini, ia memang selalu mementingkan perasaan Nayra. Arkha begitu menjaga perasaan wanita itu dan tak ingin menyakitinya walaupun ia juga merasakan sesak.
__ADS_1
"Nayra, apakah aku sudah tidak ada artinya lagi untukmu? Sampai kapan kamu akan terus menyimpan dia dalam hati kamu?" gumam Arkha, suaranya terdengar lirih dari ponsel Nayra.
"Arkha, kamu bicara apa sih?" kilah Nayra.