
Tanpa ia sadari, ia pergi tanpa membawa suaminya, harusnya mereka berangkat bersama ke sebuah pertemuan dengan beberapa wirausahawan di sebuah hotel ternama.
Arkha keluar dari restoran sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut halaman, mencari keberadaan mobilnya. Nihil, mobil yang tadinya terparkir rapi di depan halaman restoran, kini tidak ada jejaknya sama sekali. Ia menghela napas karena kebingungan.
Tak sengaja ia bertemu dengan Zayn yang masih berdiri sejak Nayra meninggalkan tempat itu.
“Ke mana mobilnya ... bukankah tadi Nayra bilang, ia menunggu di mobil? Harusnya ada di sini.” Arkha bergumam lirih.
“Maaf, apa Anda dari tadi di sini?” tanya Arkha pada Zayn yang di jawab anggukan olehnya.
Zayn lalu bertanya, “Memangnya ada apa?”
“Apa Anda melihat mobil putih yang parkir di sini?”
“Mobil putih? Apa mobil yang di naiki Rara tadi, ya? Siapa dia? Ada hubungan apa dengan Rara?” batin Zayn penasaran.
“Ah iya, sepertinya tadi saya melihatnya keluar beberapa menit yang lalu," jawab Zayn sedikit acuh.
“Benarkah, terima kasih informasinya.”
Arkha segera mengeluarkan ponselnya, ia lalu menghubungi Ranja, sedangkan Zayn berpamitan untuk masuk ke dalam restoran.
“Saya permisi masuk dulu,” pamit Zayn pada Arkha.
"Ya, silakan!"
Tujuan Zayn datang ke restoran milik Nayra tersebut adalah untuk menemui koleganya. Tak di sangka-sangka, ia malah bertemu bidadarinya yang sudah lima tahun ini ia cari. Ya, sang pemilik hati itu akhirnya sudah kembali di hadapannya, walau ia belum mendapatkan banyak informasi tentangnya.
Di sisi lain, Arkha berusaha menelepon Nayra. Sudah ke tiga kalinya ia melakukan panggilan, tapi masih tak diangkat juga oleh istrinya.
Selang beberapa menit kemudian, mobil putih itu datang menjemput Arkha, dengan gagahnya Arkha berdiri sambil berkacak pinggang.
Tepat di depannya, mobil itu berhenti. Arkha lalu membuka pintu mobil. Dengan napas yang sengaja di buat kesal, ia melihat ke arah Nayra. Siap menghujani pertanyaan yang mungkin akan sangat rinci pada wanitanya itu.
“Semoga, Arkha tidak menanyakan sesuatu apa pun. Aku harus jawab apa ....”
__ADS_1
“Sayang, ke mana tadi? Bukankah seharusnya kamu menunggu di mobil?" tanya Arkha penasaran.
“Ah, itu ... tadi aku hanya ingin berkeliling sebentar.”
“Oh ... aku kira ke mana. Dan kenapa teleponku tidak diangkat?” tanya Arkha.
“Benarkah? Tadi telepon?” Nayra balik bertanya sambil mengecek ponselnya di dalam tas.
“Ah iya, ternyata aku silent, maaf ....” lanjut Nayra.
“Jalan, Pak!”
“Baik, Tuan.”
Sejak menjadi pasangan suami istri, Nayra adalah sosok wanita yang sangat di kagumi oleh suaminya. Arkha sangat menyayanginya, walaupun ia tak tahu bagaimana Nayra menyimpan rapi nama Zayn di dalam hatinya.
Sejak kesepakatan berjalan dan taat pada surat perjanjian, Nayra sama sekali tidak pernah mengingkari tugasnya sebagai istri. Meskipun awalnya niat Arkha hanya untuk mengelabuhi mamanya, tetapi lama kelamaan lelaki itu justru menaruh hati pada Nayra.
Nayra menjalani hari-harinya layaknya seorang istri, meski di awal dia menolak berhubungan suami istri, tetapi dua tahun belakangan ini, dia akhirnya pasrah dengan takdirnya. Baginya, mengharap Zayn adalah kemustahilan. Tidak mungkin ia terus berharap pada satu nama yang sudah memiliki seorang istri di hidupnya.
Nayra sosok gadis yang penuh talenta itu membuatnya semakin tertarik. Keahliannya dalam bidang memasak sudah terbukti saat ia mengikuti kursus setelah kakinya sembuh. Ia menekuni keahliannya, menjadikan masak sebagai hobinya.
Seseorang yang kini menjadi suaminya itu, mulai mendukung cita-cita Nayra yang ingin membuka restoran. Arkha dengan senang hati membantunya untuk mendirikannya setelah mereka menikah.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, seorang wanita baru saja keluar dari dapur membawa makanan.
“Akhirnya selesai juga, sekarang waktunya menidurkan Kania.” Dera menarik napasnya sambil tersenyum lega.
Malam hari pukul 20.00, di meja makan sudah tersaji berbagai macam makanan kesukaan Zayn. Dera dengan telitinya mengecek satu persatu makanan yang dimasaknya. Juga tak lupa, ia menyiapkan minuman kesukaan suaminya.
Sementara itu, di dapur, asisten rumah tangga sedang sibuk mencuci bekas peralatan masak Dera.
“Bi ... tolong bersihkan dapurnya, ya. Tapi, jangan berisik. Saya mau menidurkan Kania dulu,” pesannya pada asisten rumah tangga.
“Baik, Bu,” sahut Bu Siti sambil mengemasi peralatan masak.
Setelah ia memastikan semua makanannya tertata rapi, ia segera naik ke atas untuk menidurkan Kania—putri semata wayangnya yang sekarang sangat ia cintai. Baginya, Kania adalah anugerah, sejak ia tumbuh jadi anak yang lucu dan pintar, Dera berubah menjadi seorang ibu seutuhnya. Ia fokus terhadap keluarga kecilnya itu.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, terdengar suara mobil dari halaman rumah. Zayn pulang, ia memasuki rumah mewah yang bercat putih itu. Dengan perlahan ia mulai menaiki tangga satu persatu menuju kamarnya dan lanjut membersihkan diri, menjalani ritual mandi. Menghilangkan rasa penat setelah seharian dihajar dengan pekerjaan yang melelahkan.
Beberapa menit berlalu, Zayn keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk di pinggangnya. Ia lalu segera menyambar pakaiannya. Kaos berwarna putih, juga celana pendek membuat penampilannya terlihat santai. Deralah yang selalu menyiapkan pakaian suaminya di tepi ranjang.
“Sudah mandi, Sayang?” tanya Dera yang sedang duduk di depan meja rias.
“Sudah,” jawab Zayn singkat.
“Yuk, kita turun, aku masak makanan kesukaan kamu loh!” Dera berdiri lalu menghampiri Zayn.
“Kania sudah tidur?” tanya Zayn.
“Sudah, Sayang. Makanya aku baru berani keluar dari kamarnya.”
“Kamu sudah makan?”
“Aku belum makan, aku menunggumu,” ucap Dera sambil bergelayut manja di lengan lelaki itu.
Zayn dan Dera pun menuruni tangga menuju meja makan. Mereka lalu menikmati hidangan makan malamnya tanpa suara.
“Gimana restorannya hari ini, Sayang?” Kelihatannya kamu capek banget." Dera memecah keheningan, Zayn memang banyak terdiam, ia tak banyak basa basi jika tak ada yang perlu dibicarakan dengan Dera.
"Besok siang kita dapat undangan untuk menghadiri grand opening kafe temanku di dekat danau," ucap Zayn datar seraya menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Maksud kamu ... kita? Kamu mengajakku?"
"Hem ...." jawab Zayn sambil mengangguk.
"Benarkah? Sayang, aku seneng banget. Ini pertama kalinya kamu mau mengajakku bertemu dengan teman-teman kamu, aku nggak salah dengar, kan?"
"Besok jam dua belas siang, aku akan menjemputmu. Jangan sampai terlambat."
"Tenang saja, Sayang. Aku akan mempersiapkan diriku secantik mungkin. Terima kasih, ya."
Dengan wajah semringah, Dera mengunyah makanannya, bibirnya tak henti mengulas senyum tipis saking bahagianya.
__ADS_1
“Akhirnya, Zayn mau mengenalkan aku dengan temannya, setidaknya masih ada peluang untuk terus mendekatinya. Cinta ... urusan belakang, yang terpenting dia mau mengenalkanku ke teman-temannya sebagai istri. Itu sudah sangat cukup bagiku," batin Dera.