
Sambil merebahkan tubuhnya, ia memeluk foto Zayn, "Malam ini, izinkan aku tidur bersamamu, Zayn."
Perlahan, ia memejamkan matanya, dengan rambut yang basah, Dera mulai tertidur pulas di ranjang Zayn.
Terik mentari pagi mulai terlihat dari ufuk timur, cahayanya menembus di sela-sela jendela kaca di kediaman Arkha yang cukup mewah. Nayra membuka tirai kain yang menjuntai di jendela kamarnya, Arkha yang masih tertidur pulas tiba-tiba menggeliat dan mengerjapkan matanya akibat terkena silau sinar matahari yang menembus ke arahnya.
“Arkha, bangun!” seru Nayra sambil mengikat tirai berbahan black out itu ke tasel.
“Hemm ....” jawab Arkha malas.
Nayra pun menghampiri Arkha yang masih meringkuk di kasurnya yang empuk, padahal Nayra sudah mandi dan wangi sejak beberapa menit yang lalu. Rambutnya yang masih basah di bungkus dengan handuk kecil, sedangkan tubuhnya di balut handuk kimono berwarna putih.
“Arkha, sudah jam tujuh. Nggak ke kantor?” Nayra duduk di tepi ranjang dan menyentuh bahu lelaki itu.
Seketika Arkha terbangun karena mencium aroma wangi mawar yang menyegarkan di tubuh istrinya. Ia langsung menarik Nayra ke dalam pelukannya. “Tumben sudah mandi, Sayang?” tanya Arkha sedikit keheranan.
Bukannya menjawab, Nayra masih terus berusaha terlepas dari dekapan Arkha. “As, cepetan mandi, lepasin dulu ini!”
“Sebentar, biarkan begini. Aku suka wangimu.”
“Arkha, keburu siang loh, aku mau ke rumah sakit,” rengek Nayra dengan nada manja. Arkha refleks meleparkhan pelukannya dengan cepat, ia seperti terkejut mendengar ucapan istrinya itu. Nayra pun langsung tak enak hati mendapat reaksi dari Arkha yang sedikit kesal.
Nayra sadar ia salah karena ia menyebut rumah sakit, otomatis itu mengarah ke Zayn. Arkha berpikir istrinya hanya terus memikirkan lelaki lain, bahkan ia rela mandi sepagi ini, juga bersolek hanya untuk bersemangat menjenguk Zayn, mantan kekasihnya itu. Padahal, sebelumnya ia sangat jarang mandi di jam itu, kecuali jika ada acara tertentu.
“Maaf, As.” Nayra menggenggam tangan Arkha. “Aku hanya ingin menjenguknya sebagai teman, setidaknya aku tidak dihantui rasa bersalah terus. Aku ingin memastikan keadaannya.”
“Tidak apa-apa, peegilah! Aku tidak melarangmu.”
“Kamu marah?” tanya Nayra dengan suara pelan.
“Nggak, kenapa harus marah? Aku hanya sedikit kesal, wajar seorang suami cemburu jika wanitanya memikirkan pria lain.” Wajah Arkha memang terlihat kesal karena cemburu.
__ADS_1
“Aku minta maaf, Ar. Kalau kamu nggak kasih izin, aku tidak akan pergi.”
“Nggak apa-apa, Sayang. Yang penting, jaga hati kamu dan ingat status kamu.” Arkha tersenyum, dia memang tak pernah tega membiarkan istrinya sedih. Walaupun ia harus sedikit mengorbankan perasaannya.
“Pasti. Aku tidak akan mungkin melupakan statusku sebagai istri Tuan Arkhana Mahesa."
Arkha pun segera beranjak duduk dan menggantungkan kakinya di tepi ranjang. "Ya sudah, aku mandi dulu, nanti aku antar ke rumah sakit."
"Terima kasih, Arkha!”
“Kenapa kamu susah banget buat manggil ‘sayang’ ke suamimu, sudah berapa tahun kita menikah, mungkin bisa dihitung jari kamu memanggilku ‘sayang’.” Arkha sedikit merajuk, lagi-lagi Nayra memang harus ditegur hanya karena perkara panggilan.
Wajar jika seorang suami ingin dipanggil mesra dan mempunyai sebutan spesial. Namun, tampaknya Nayra memang sangat susah dengan sebutan itu, mengingat perkenalan awalnya dengan Arkha memang tidak mengenakkan, juga pernikahan yang terpaksa Nayra terima. Oleh karena itu, rasa sayang pun seolah belum ada sepenuhnya untuk Arkha.
“Baiklah, terima kasih, Sayang!”
“Kamu hanya mau memanggilku begitu kalau ada maunya.”
“Salah lagi, lalu aku harus bagaimana? Menyebalkan sekali!” Nayra mengerucutkan bibirnya tanda kesal.
****
"Sudah siap?" tanya Arkha setelah mereka selesai menyantap sarapannya di meja makan.
"Sudah, Ar."
Keduanya berdiri, Arkha menggandeng istrinya menuju mobil.
"Sebentar, itu dasinya." Fokus Nayra ke arah dasi yang dipakai suaminya, mereka berhenti di luar pintu.
Kini Nayra berada di depan Arkha sambil merapikan juga kerah jas yang sedikit terlipat. Nayra memandang suaminya, ia mendongakkan kepalannya karena memang tingginya hanya sebatas dagu Arkha. Dengan gerakan cepat, Arkha yang gemas melihat Nayra langsung mendaratkan ciuman ke bibir istrinya itu, karena ia tahu Nayra tidak akan pernah mau jika Arkha meminta izin, ia sangat anti mengumbar kemesraannya di luar rumah.
__ADS_1
"Arkha, hih!" Nayra kesal, ia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah, takut ada yang melihatnya, karena banyak pekerja di rumah mewah itu.
Melihat reaksi istrinya, Arkha hanya terkekeh, ia lalu melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan berjalan beriringan menuju mobil.
****
Di rumah sakit, Dera sudah siaga berjaga di ruang tunggu, kali ini ia sendirian karena Irwan sudah pulang sejak Shesa datang.
"Pagi, Dera ...." sapa Nayra yang dijawab anggukan serta senyuman oleh Dera. Arkha hanya mengantar Nayra sampai halaman depan rumah sakit. Sehingga saat ini dua wanita itu kini sedang berada di posisi yang membuat keduanya canggung.
"Bagaimana keadaan Zayn?" tanya Nayra memecah keheningan setelah beberapa saat ia duduk di sebelah Dera.
"Belum ada perkembangan. Kamu kalau mau jenguk nggak apa-apa, masuk aja. Tapi jangan lama-lama, tadi dokter sudah berpesan, di dalam juga ada perawat yang standby."
Sheea tampak berbaik hati membiarkan mantan kekasih Zayn menjenguknya. Ia hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk Zayn, siapa tahu dengan begitu Zayn akan cepat sadar dari komanya.
"Bolehkah?"
"Iya, silakan," jawab Dera singkat.
"Terima kasih, Dera." Dengan mata berbinar, Nayra berjalan dengan semangat memasuki ruangan yang menegangkan itu. Di dalam ada perawat yang menjaganya dua puluh empat jam, karena pasien di ICU harus dipantau ekstra.
Langkah Nayra tak lagi bersemangat saat melihat keadaan Zayn, tubuhnya terhubung dengan berbagai peralatan medis melalui selang dan kabel. Juga di samping brankar sangat lengkap dengan alat seperti monitor, mesin ventilator dan defibrilator.
"Assalammualaikum, Zayn. Apa kabar? Aku di sini untuk menjengukmu. Apa kamu merasakan kehadiranku?" Nayra menatap lekat wajah lelaki pucat yang tak bercahaya itu dari samping brankar.
Pandangan Nayra menelisik ke sekujur tubuh Zayn, dia begitu prihatin dan merasa sedih dengan apa yang dilihatnya saat ini. Lelaki yang dicintainya, kini hanya bisa berbaring lemah tak sadarkan diri.
"Zayn, bangunlah, buka mata kamu. Apa kamu tidak ingin melihatku lagi? Tega sekali kamu menyiksaku seperti ini," ucap Nayra dengan air mata yang menggenang di pelupuk.
Nayra perlahan meraih tangan kanan Zayn. Dia menggenggamnya erat dengan kedua tangannya. Sudah lama ia tak menyentuh tangan lelaki itu sejak berpisah lima tahun yang lalu. Seharusnya dia tidak boleh melupakan statusnya saat ini, seperti pesan Arkha--suaminya, satu jam yang lalu ketika masih di rumah.
__ADS_1
Namun, kondisi Zayn saat ini membuatnya lupa akan hal itu, yang ada dalam pikirannya saat ini, dia hanya ingin melihat keajaiban pada Zayn.