Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Berusaha Menjadi Istri yang Baik


__ADS_3

Keesokan harinya, embun pagi masih setia melekat pada dedaunan, suara kicauan burung mulai terdengar menyambut mentari. Hawa dingin begitu terasa menembus pori-pori kulit Nayra. Namun, hal itu sama sekali tak menghentikan semangatnya untuk beraktivitas pagi.


Setelah menyelesaikan syarat sehatnya kali ini, yaitu berolahraga, dia lanjut menyirami bunga-bunga di sekitar halamannya. Meski ada seorang tukang kebun, tetapi dia sangat suka melihat perkembangan tanamannya dari hari ke hari hingga dia tidak memberikan kesempatan orang lain untuk menyentuhnya.


Pagi ini, suasana hatinya begitu cerah, secerah pagi yang mulai menampakkan sinarnya walau masih sedikit tertutup awan. Sejak semalam Arkha meneleponnya dan tidak lagi marah padanya, dia merasa begitu bahagia dan tenanh deolah beban beratnya terlepas.


Tanaman yang berjejer rapi itu kini telah basah dengan air yang disiriamkan oleh Nayra. Handuk yang menggantung di lehernya pun kini juga ikut basah karena keringat hasil olahraganya satu jam yang lalu.


Tubuhnya sekarang terasa lengket, dia memutuskan untuk segera naik ke kamarnya dan menjalani ritual mandinya. Membersihkan diri semaksimal mungkin karena akan menyambut kedatangan sang suami.


Arkha memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran setelah dia berkutat dengan masalah di perusahaannya yang di Singapura. Keberangkatannya dari negara tersebut sekitar pukul tujuh pagi waktu Singapura. Kurang lebih dua jam perjalanan, Arkha akan sampai di Jakarta.


Dalam perjalanan, Nayra merenungi segala kesalahannya pada sang suami. Dia berniat untuk menjadi lebih baik dan akan berusaha melupakan Zayn, meskipun dalam lubuk hatinya masih terukir jelas nama pria itu. Nayra tidak mau terulang kedua kalinya saat Arkha bersikap cuek dan mengelu Reno n segala amarahnya. Hal itu cukup membuatnya ketakutan dan menderita batin.


Saat sampai di bandara, Nayra menunggu di ketibaan, manik indah itu fokus pada orang per orang yang keluar dari sana. Tak lama, sosok yang ditunggu muncul juga, senyuman manis telukis di bibir keduanya. Namun, Nayra begitu terkejut saat Arkha tak sendiri. Dia membawa seorang wanita yang duduk di kursi roda.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang didorongnya itu tak lain adalah Fira--mamanya Arkha. Nayra tak menyangka jika mertuanya akan ikut pulang juga dengan Arkha. Padahal, hubungannya dengan mertua belum membaik.


Nayra teringat saat wanita itu menamparnya malam itu. Rasa sakit itu masih membekas tebal di hatinya. Apa pun alasannya, Nayra tetaplah menantu. Dia berusaha menjadi menantu yang baik.


Nayra menormalkan pikirannya, membuang jauh-jauh rasa kecewa itu. Yang dipikirankannya kali ini, dia harus lebih baik sebagai istri Arkha.


Arkha yang melihat istrinya dari kejauhan pun segera mempercepat langkahnya sambil mendorong sang ibunda tercinta. Dia langsung mencium kening Nayra.


"Sayang, kenapa ke sini? Kan, ada Pak Hasan, harusnya kamu istirahat saja di rumah. Tidak perlu menjemputku," tutur Arkha yang disambut uluran tangan Nayra untuk bersalaman dan mencium punggung tangan suaminya itu.


"Nggak apa-apa, kok. Aku hanya ingin menyambut suamiku pulang. Apa tidak boleh?" Nayra kali ini sangat menjaga ucapannya. Dia berusaha agar tidak menyakiti hati Arkha lagi.


Nayra melepas tautan tangan Arkha yang menggenggamnya. Dia kemudian melihat sekilas mertuanya yang membuang muka, enggan menatap Nayra. Namun, lagi-lagi istri Arkha itu memilih untuk mengalah, sebagai menantu dia cukup sadar diri karena tanpa Arkha--anaknya, dia tidak akan bisa seperti sekarang.


"Ma, apa kabar?" Nayra berjongkok, memegang tangan wanita itu dan menciumnya. Akan tetapi, dengan cepat wanita itu menepisnya. Bahkan, dia tak menjawab pertanyaan Nayra sepatah kata pun.

__ADS_1


"Ma, jangan seperti itu? Apa salah Nayra?" tanya Arkha.


Tak menjawab pertanyaan dari Arkha, Fira malah berkata, "Mama ingin pulang, cepatlah!" sungut Fira memasang wajah ketusnya.


"Iya, Ma. Ini juga mau pulang, kan."


Nayra memilih diam dan berada di samping Arkha, menyejajari langkahnya. Sesekali Nayra mengukir senyum manisnya pada Arkha, membuat lelaki itu terpana dan semakin mengagumi kecantikan istrinya.


Nayra ingin sekali membahagiakan suaminya hari ini. Tidak seperti hari-hari lalu, dia selalu menyakiti Arkha dengan tutur kata yang menyangkut Zayn, mantan kekasihnya.


Mobil hitam yang dikemudikan Pak Ki lebih dulu menuju rumah Fira. Di rumah tersebut sudah siap dua suster yang akan merawat Fira yang masih butih penanganan khusus karena gejala stroke, tetapi dia enggan untuk dirawat di rumah sakit.


Setelah Arkha dan Nayra menemani Fira untuk beberapa saat, dan memastikan semua keadaan aman, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang.


Kamu pulang ke rumah, kan? Nggak kerja, kan?" tanya Nayra. Mereka berjalan beriringan keluar rumah hendak memasuki mobil.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang? Aku nggak boleh kerja?"


__ADS_2