
"Sakit hati hanya akan membuang waktu, banyak yang harus di pikirkan selain harus meratapi nasib." Dera memicingkan matanya dan tersenyum masam, lalu kembali berkata, "Aku memang tak seberuntung Nayra, bisa mendapat seluruh hatinya Zayn. Tapi, meskipun begitu aku sangat bersyukur karena dia sudah mau menerimaku di hidupnya, bagiku itu sudah lebih dari cukup."
Dera dan Arkha kini saling bercerita membahas Nayra dan Zayn, hingga akhirnya, Nayra berjalan menghampiri Arkha setelah dari toilet. Ia menduduki kursinya tadi, tepatnya berada di tengah di antara Arkha dan Dera.
Kali ini, Ranja sudah mulai menetralkan pikirannya, ia sedikit tenang setelah membasuh wajahnya di toilet tadi.
Ia menarik napas panjang dan berkata, "Dera, aku minta maaf atas kejadian yang menimpa Zayn."
"Tidak perlu, untuk apa? Aku memang menyalahkan kamu atas musibah ini, tapi percuma juga jika terus membahas hal ini, semua juga sudah terjadi.” Dera menjawab ucapan Nayra tanpa ekspresi.
"Kalau saja, aku tidak emosi dan menjauhinya tadi, mungkin Zayn tidak akan mengejarku dan hilang kendali saat mengemudi."
"Apa kamu sangat membencinya?"
"Aku ... aku tidak pernah membencinya, Allena."
"Kalau boleh tau, bagaimana keadaan Zayn?"
"Dia mengalami pendarahan di sekitar otak, makanya sekarang harus di operasi. Dokter juga bilang, meskipun operasinya akan berhasil dan Zayn selamat, tapi sudah dipastikan ia akan mengalami gangguan sistem saraf. Ada beberapa organ yang akan mengalami kelumpuhan, atau cacat, bahkan bisa saja Zayn nggak bisa berbicara."
Dera menjelaskan tanpa menatap Nayra, ia masih berat dan sedikit mempunyai rasa tak suka pada Nayra, tetapi ego mengalahkannya. Hatinya merasa kasihan terhadap wanita itu, ia juga sedikit menyesali perbuatannya yang dulu memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai.
Nayra tercengang, terkejut mendengar penjelasan Dera, ia tak menyangka jika kondisi Zayn separah itu. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia berusaha menyembunyikannya, tatapannya kosong ke arah pintu operasi.
Tak berapa lama, Pamannya Zayn datang ditemani sopirnya. Langkahnya semakin cepat saat pandangannya mengarah pada Dera.
Dera langsung berdiri saat menyadari kehadiran lelaki berusia paruh baya tersebut. Dera memeluknya erat sambil menangis, meluapkan kesedihannya. Dia sudah menganggap paman Zayn seperti ayahnya sendiri.
Sejak usia remaja, keluarga Zayn dan keluarga Dera memang sangat dekat. Apalagi, saat ini Zayn dan Dera sama-sama sebatang kara. Hanya pamannya lah yang saat ini menggantikan posisi orang tua mereka setelah meninggal.
"Zayn, apa dia baik-baik saja?" tanya Irwan.
"Dia di dalam, Paman." Masih dalam pelukan, Irwan mengelus punggung Dera, lalu mengajaknya duduk.
"Kenapa bisa terjadi? Di mana kecelakaannya?"
Dera menatap ke arah Nayra seolah menunjuknya yang harus menjawab pertanyaan Irwan.
Irwan pun menoleh ke samping, ia tak menyadari ada dua orang yang juga duduk di sebelahnya. Kedua bola mata yang sudah mulai keriput itu memperhatikan Nayra, sepertinya ia sedikit memutar ingatannya.
__ADS_1
Irwan begitu terkejut saat melihat Nayra, meskipun kini penampilannya berubah, tetapi wajah wanita itu masih sama. Hanya saja, sekarang lebih dewasa dan memakai make-up.
"Kamu ...." Irwan bertanya pada Nayra sambil mengingat-ingat nama wanita di sampingnya itu.
"Iya, Pak. Saya Nayra. Pak Irwan apa kabar?"
"Ah iya, kamu Nayra, aku mencoba mengingat-ingat nama kamu. Kabarku baik.”
"Ini suamimu?"
"Iya, Pak." Nayra lalu menengok ke arah Arkha yang sedang sibuk dengan ponselnya." Arkha, kenalin ini Pak Irwan, dulu aku pernah bekerja lama dengannya."
Arkha pun berjabat tangan dengan Irwan untuk berkenalan.
"O, iya, kalian kenapa ada di sini? Apa ada yang sakit juga?"
"Kami menunggu Zayn, Pak," jawab Arkha cepat. Ia tahu jika istrinya yang menjawab, dia pasti akan gugup dan kebingungan.
Nayra terdiam sejenak, menarik napas dan juga berpikir mengatur kalimat yang akan diucapkannya, karena dia merasa ada kaitannya dengan kecelakaan Zayn.
“Maaf Pak, tadi sebelum kecelakaan, saya sempat bertemu dengan Zayn. Kecelakaan itu terjadi tepat di belakang mobil saya, hanya berjarak beberapa meter,” jawabnya sedikit gemetar.
“Jadi, kamu yang mengantar Zayn ke sini?”
“Iya, Pak.”
“Terima kasih, ya.” Nayra hanya mengangguk pelan.
“Apakah pantas aku menerima kata terima kasih itu? Kalau Pak Wijaya tahu yang sebenarnya, apa beliau akan memaafkanku?” tutur Nayra dalam hati.
Sampai saat ini pun, Irwan tidak pernah mengetahui hubungan masa lalu Zayn dan Nayra. Irwan tampak ingin menanyakan sesuatu, tetapi ia mengurungkan niatnya karena kejadiannya sudah lampau, sepertinya kurang pantas untuk membahasnya untuk saat ini. Ia sebenarnya penasaran kenapa dulu Nayra tiba-tiba menghilang dari restorannya, berhenti bekerja tanpa pamit. Padahal ia karyawan yang sangat pintar dibanding dengan yang lainnya.
“Dera, kamu sudah makan?” tanya Irwan seraya menepuk bahu wanita di sampingnya itu.
“Sudah tadi siang, Paman. Zayn mengajakku ke sebuah acara tadi, dan kita makan di sana,” jawab Dera.
__ADS_1
Jam berputar seakan sangat lambat, semua orang terus menunggu hingga waktu senja tiba dan berganti malam.
Pintu yang tertutup itu akhirnya terbuka juga setelah mereka lama menunggu. Dua dokter dan beberapa perawat pun keluar dengan wajah lelah setelah mereka menyelesaikan tugasnya, mengoperasi Zayn di dalam sana.
Dera dengan langkah kaki seribu menghampiri dokter itu, menanyakan bagaimana hasil operasi suaminya.
“Dokter, bagaimana operasinya? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Dera.
“Iya, Bu Dera. Operasi berjalan dengan lancar. Tapi pasien masih dalam pengaruh obat bius anestesi, dan juga nanti kita akan lihat perkembangannya setiap saat,” terang dokter itu.
“Apa saya boleh menemuinya, Dok?”
“Sepertinya jangan dulu, Bu. Biarkan pasien beristirahat.”
“Lalu, kapan saya bisa menemuinya, Dok? Saya benar-benar ingin melihat suami saya.”
“Sabar ya, Bu. Setelah saya memastikan kondisi pasien.”
“Baiklah, terima kasih, Dok.”
Dera kembali duduk di kursinya, ia sedikit putus asa karena tidak bisa melihat suaminya. Kemudian selang beberapa menit, ia melihat Zayn di bawa keluar dari ruang operasi itu, ia sontak bertanya pada perawat yang mendorong brankar.
"Suami saya mau di bawa ke mana?" tanya Dera pada seorang perawat.
"Pak Zayn kami pindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif, Bu.
***
Jam menunjukkan pukul 21.00, Zayn tak kunjung sadar. Dokter lagi-lagi memeriksa keadaannya, dan setelah itu ia menyampaikan berita buruk pada Dera, juga semua orang yang menunggu di sana.
"Maaf, Bu Dera. Saya harus menyampaikan berita buruk, Pak Zayn saat ini mengalami koma."
"Apa, koma? Bagaimana bisa? Kapan suami saya akan sadar, Dok." Dera tak bisa lagi membendung air matanya. Begitu juga dengan Nayra yang ikut merasakan kesedihan mendalam. Sementara itu, Irwan terus berusaha menenangkan Dera.
"Dok, apa saya boleh melihatnya sekarang? Tolong Dok, saya mohon," pinta Dera pada lelaki yang mengenakan jas putih itu.
"Silakan, Bu. Kalau bisa jangan lama-lama, ya, karena akan mengganggu istirahat pasien," titah dokter.
"Terima kasih, Dok."
__ADS_1