Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Akhirnya Nayra membalikkan tubuhnya ke arah Arkha, ia memandang lekat wajah suaminya itu, lalu berkata, “Arkha, maafkan aku, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna buat kamu.” Wajah sayu itu membuat Arkha merasa iba, dia lalu mencium kening istrinya dan mengusap lembut pucuk rambutnya.


“Sayang, kamu adalah istri yang sempurna untukku. Bahkan jika Tuhan tak memberikan kita anak sekali pun, aku masih akan tetap berada di sampingmu. Memiliki kamu adalah anugerah terindah dihidupku, jadi jangan pernah berpikir macam-macam, ya." Arkha menenangkan Nayra, ia tahu saat ini hati istrinya sedang tak karuan.


"Terima kasih, Ar. Tapi sebagai seorang istri mana mungkin aku tidak kepikiran soal anak, bagiku mempunyai anak adalah syarat utama. Rasanya belum sempurna jika seorang wanita belum melahirkan janin dari rahimnya."


"Sudah, jangan pikirkan itu dulu. Sebaiknya kita istirahat, ya." Arkha mencium kening Nayra. Ia lalu mengatur posisi tidurnya di sebelah istrinya itu.


Tiba-tiba Nayra teringat akan suatu hal yang mengganjal di pikirannya.


“Ar, Dokter Mirna apa belum kasih kabar soal hasil lab-nya?” tanya Nayra, ia teringat akan program hamilnya. "Sudah hampir seminggu lebih hasil cek itu, masa belum keluar juga."


Arkha terkejut mendengar pertanyaan dari istrinya itu, ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, ia seolah merangkai jawaban yang tepat di kepalanya.


“Bagaimana ini, padahal aku tidak ingin Nayra tahu akan hasilnya  sekarang. Aku tidak tega, jika aku bilang sekarang, pasti dia akan sedih dan murung saat tahu hasil cek lab dari rumah sakit itu,” batin Arkha.


Satu minggu yang lalu, Arkha dan Nayra menjalani program hamil ke dr. Mirna Sp.OG (dokter spesialis kandungan) mereka melakukan rangkaian pemeriksaan awal untuk mengetahui kesehatan keduanya.


"Hasilnya belum keluar, Sayang. Besok biar aku tanyakan lagi, ya. Sekarang, sebaiknya kita tidur," jawab Arkha berusaha menghilangkan rasa gugupnya.


"As, aku pingin ke rumah sakit yang lain saja. Dokter Mirna sepertinya kurang meyakinkan begitu, masa hasil lab seminggu yang lalu belum keluar juga. Apa alasannya? Nggak masuk akal!" sungut Nayra, pandangannya ke langit-langit kamar seperti menerawang.


Flash Back

__ADS_1


Saat itu, setelah Arkha dan Nayra pergi ke rumah sakit. Keesokan harinya Arkha mendatangi Dokter Mirna lagi untuk mengambil hasil tes, tetapi betapa terkejutnya Arkha saat mengetahui hasil surat tersebut. Detak jantungnya mulai memompa cepat. Hasil itu sangat mencengangkan, dia tak menyangka jika istrinyalah yang mengalami gangguan hormonal selama ini, sedangkan Arkha dinyatakan sehat.


****


Arkha menyimpan lembaran kertas dari dokter itu di kantornya, ia selalu memikirkan kapan waktu yang tepat untuk bicara pada istrinya mengenai hal itu. Namun, lagi-lagi Arkha tak kuasa, ia tak siap jika istrinya akan mengalami kesedihan yang berlarut, karena Nayra tipe wanita yang pemikir. Padahal kondisi kesehatan itu harus segera ditangani agar tak semakin parah.


Nayra pun menuruti perkataan suaminya untuk tidur. Ia membenamkan kepalanya ke dada bidang Arkha, tempat ternyaman selama ini hanya di pelukan suaminya. Beberapa menit kemudian, Nayra terlelap, sedangkan Arkha masih belum bisa memejamkan matanya. Ia terus memikirkan cara bagaimana untuk menyampaikan hasil lab dari Dokter Mirna ke istrinya itu.


“Sebaiknya besok aku mengajaknya ke kantor dan setelah itu pergi ke rumah sakit untuk menemui Dokter Mirna. Semoga kamu bisa tabah ya, Sayang. Maafkan aku karena menjadi pengecut dalam hal ini. Aku hanya tidak mau kamu bersedih, tapi kalau semakin lama aku menyimpannya, akan semakin bahaya juga untukmu.” Arkha bergumam dalam hati, sesekali memperhatikan wajah istrinya.


Arkha menarik selimut dan membenarkan posisinya untuk tidur. Ia mematikan lampu terang di dekat headboard ranjang dan menggantinya lampu tidur yang hanya bercahaya redup.


Pagi hari pukul 06.00 tak seperti biasa, Arkha bangun lebih awal daripada Nayra. Entahlah, mungkin Nayra memang benar-benar lelah batin sejak kejadian semalam dengan ibu mertuanya, hingga ia menikmati tidur panjangnya. Arkha bangun perlahan agar tak mengganggu tidur sang istri, ia menyibak selimut tebalnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Arkha membuka pintu kamar mandi, pandangannya ke ranjang untuk memeriksa istrinya, tetapi ia begitu terkejut saat mendapati Nayra ternyata tak ada di tempat tidurnya.


Arkha pun berjalan menuju meja samping tempat tidur, ia lalu menekan tombol nomor satu pada telepon yang terhubung ke lantai bawah dan langsung diangkat oleh asisten rumah tangganya.


"Bi, apa Nayra ada di bawah?"


"Tidak ada Tuan, Nona belum turun."


"Di mana dia? Coba kamu cari, Bi. Di kamar juga tidak ada."

__ADS_1


"Baik Tuan," jawabnya dari sambungan telepon.


"Terima kasih." Arkha langsung menutup teleponnya.


Arkha yang belum sempat memakai baju, ia bergegas keluar kamar dengan lilitan handuk di pinggangnya. Ia merasa panik karena istrinya tiba-tiba menghilang, padahal tadi sebelum ia mandi, Nayra tertidur pulas.


Arkha membuka kamar tamu yang selalu kosong, letaknya selisih dua ruang dari kamar mereka dan masih berada di lantai atas. Ia membukanya dengan kasar dan langsung masuk, tetapi tak di temukan juga istrinya di sana.


Setelah ia berbalik hendak keluar kamar, ia terkejut karena terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Ia lalu mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu sambil terus memanggilnya.


"Nayra ... Sayang!" Arkha berseru meninggikan suaranya agar sang istri menyahutnya.


Tak lama, Nayra keluar dari kamar mandi dan memakai bathrobe. Ia menatap heran suaminya yang sejak tadi menggedor-gedor pintu saat ia mandi.


"Kenapa teriak-teriak, As?" tanya Nayra santai sambil membetulkan gelungan handuk di atas kepalanya.


"Sayang, bisa nggak kamu jangan bikin aku jantungan, kenapa mandi di sini? Nggak biasanya seperti ini," gerutu Arkha sambil mencubit hidung Nayra.


"Auuw ... sakit!" Nayra memegang hidungnya. “Tadi aku kebelet pipis, nunggu kamu selesai mandi kelamaan, jadi ya pipis di sini, sekalian aku mandi karena gerah banget."


"Lain kali kalau ke mana-mana pamit, ya. Jangan bikin panik."


Selama ini, Arkha memang selalu menunjukkan sikap perhatiannya. Berbeda dengan Nayra yang jarang sekali memperhatikan suaminya. Meskipun wanita itu berusaha menjadi istri terbaik dengan melayani kebutuhan suaminya, tetapi dia masih saja canggung jika harus menunjukkan perhatian. Terasa berat salam hati, seolah ada yang membebaninya. Padahal, Arkha sangat mengharapkan hal itu. Namun, dia suami yang sangat pengertian dan menerima apa adanya yang ada di diri Nayra.

__ADS_1


"Arkha, please! Aku cuma ke kamar mandi loh, dan masih di dalam rumah. Kenapa harus pamit? Kamu kenapa sih, aneh banget," cibir Nayra yang merasa risih karena Arkha terlalu berlebihan.


Setelah perdebatan yang cukup panjang di kamar inap tamu, mereka kembali ke kamar mereka untuk segera mengganti bajunya. Arkha lalu menawari Nayra untuk ikut ke kantornya, ia berencana memberitahu hasil lab itu. Dengan semangat, Nayra pun langsung mengiyakan ajakan Arkha, karena ia sangat bosan di rumah. Nayra memang biasanya agak siang pergi ke restoran, jadi pagi ia masih punya banyak waktu luang yang cukup panjang.


__ADS_2