Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Kenangan Manis


__ADS_3

Di ruang tunggu, sepasang suami istri yang tengah mengobrol. "Nayra, aku hanya ingin kamu bersikap selayaknya teman terhadap Zayn. Aku tahu, meskipun kalian mempunyai kenangan masa lalu, aku harap kamu tidak mengesampingkanku sebagai suami, ya."


"Arkha, aku minta maaf. Seharusnya aku tak berlebihan seperti ini, aku hanya kasihan dengannya."


 


"Aku mengerti, Sayang. Aku juga tidak masalah kok kalau kamu mau menemuinya. Aku percaya, kamu tau ke mana harus pulang."


"Terima kasih, Ar. Tapi, kalau kamu tidak suka aku di sini, aku bisa pulang sekarang kok."


"Aku akan bersamamu. Jangan khawatir."


Derap suara sepatu semakin terdengar mendekat, pintu yang sedari tadi tertutup pun kini terbuka, memperlihatkan Zayn di atas brankar yang di dorong oleh beberapa perawat. Nayra berjalan di belakangnya sambil menatap pilu suaminya itu.


Mereka tampak tergesa-gesa, membuat Nayra bertanya dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Zayn? Mau dibawa ke mana dia?


“Nayra, sebaiknya kita mengikutinya di belakang. Nanti aku yang akan bicara pada wanita itu,” titah Arkha, ia menggandeng tangan Nayra.


Nayra hanya terpaku, ucapan Arkha membuatnya menurut saja. Pandangannya kosong melihat Zayn semakin hilang dari pandangannya, di sisi lain ia sangat ingin menemui lelaki itu, mendampinginya meskipun dalam keadaan tidak sadar.


Namun, di sisi lain juga, ia menghargai suaminya, walaupun Arkha telah mengizinkan, tetapi dia juga sadar apa yang dilakukannya adalah salah. Memikirkan lelaki lain, bahkan di hatinya ada namanya juga. Setidaknya, Arkha mempunyai kemanusiaan yang tinggi, hingga ia mengesampingkan egonya untuk tidak cemburu yang berlebih terhadap istrinya dan Zayn.


Dari kejauhan, Arkha dan Nayra mengikuti ke mana arah Zayn di bawa. Tak lama, setelah melewati panjangnya koridor dan menaiki lift. Akhirnya mereka sampai, Zayn di bawa masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan ‘Ruang Operasi’.


Nayra tak dapat menahan tangisnya, air matanya lagi-lagi lolos di depan suaminya itu. Ia tak dapat berkata-kata. Arkha pun mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi tunggu dan menenangkan Nayra. Dera sadar akan kehadiran mereka, matanya yang juga basah mengarah pada sepasang suami istri itu.


“Kalian siapa? Kenapa mengikuti sampai ke sini?” tanya Dera menghampiri, sedangkan Nayra masih dalam rengkuhan Arkha. Arkha pun kemudian berdiri. Nayra hanya tertunduk dan menghapus air matanya.


“Sebelumnya saya minta maaf karena sudah lancang mengikuti kalian. Saya hanya ingin tahu keadaan Zayn saja.” Zayn mengulurkan tangan untuk berjabatan.

__ADS_1


“Anda yang tadi siang di acara grand opening itu, kan?” tanya Dera dengan raut wajah datar, dibanding Nayra, ia lebih tegar dan kuat karena ia sebenarnya adalah wanita yang cuek dan kuat. Bahkan ia jarang menangis.


“Ya, benar. Perkenalkan, saya Arkha, dan ini istri saya, Nayra.”


“Bukan Rara?” Dera menegarkhan pertanyaannya. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tak menyukai wanita itu.


“Ya, itu saya.” Nayra berdiri, ia kemudian mengulurkan tangannya. Namun, Dera langsung mengalihkan pandangannya dan mengabaikan uluran tangan Nayra.


“Apa yang kamu lakukan terhadap suami saya, ha?” Dera sedikit meninggikan suaranya.


“Aku ... aku tidak melakukan apa pun terhadapnya. Kenapa kau menuduhku?”


“Dera, bukankah ini kecelakaan? Saya lihat tadi juga ada kepolisian yang menyelidiki kecelakaan suamimu. Jadi, sebaiknya jangan menuduh orang sembarangan." Arkha berusaha menengahi kedua wanita tersebut.


“Saya tidak menuduh, saya pikir orang bodoh pun tau kalau kamu yang menyebabkan suamiku kecelakaan! Dari awal aku melihatmu, aku sudah curiga, kamu yang mengantar suamiku, kamu menangisinya. Lihat, baju kamu saja penuh darah!” Dera menyeringai, ia tak peduli di mana ia sekarang meluapkan emosinya. Sedih, khawatir dan juga marah sekarang ia rasakan.


“Aku tidak salah, bukan aku yang menyebabkan Zayn kecelakaan ....” Nayra terisak.


Dera hanya menatap tajam ke arah Nayra tanpa mengucap kalimat lagi, ia tampak begitu menahan emosi. Napasnya terlihat memburu, ia lalu duduk dan memijat dahinya sambil menarik napas panjang.


Tak lama kemudian, Pak Hasan datang menemui Nayra dan Arkha membawa paper bag.


“Sayang, itu Pak Hasan datang, sebaiknya kamu ganti baju dulu. Mau kuantar ke toilet?”


 


“Terima kasih, tidak perlu.” Nayra hanya membatin, suaminya memang luar biasa, bahkan ia memperhatikan pakaian Nayra yang berlumur darah. Dia pun juga tak tahu kapan Arkha menghubungi sopirnya untuk membawakan baju.


Nayra pun berjalan menuju toilet, hanya ada Dera dan Arkha di kursi itu. Pak Hasan kembali keluar setelah tugasnya sudah selesai, mengantar baju Nayra atas perintah Arkha.

__ADS_1


“Dera, aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa Zayn. Aku harap kamu bisa bersabar dan sebaiknya kita berdoa, mudah-mudahan operasinya berjalan dengan lancar.”


 


"Kamu tidak tau gimana perasaanku, gimana kehidupanku tanpa Zayn. Aku seorang istri yang bergantung pada suami, melihat dia sekarang tak berdaya, apa yang harus aku lakukan? Putriku juga pasti akan sangat sedih, dia begitu dekat dengan Papanya," terang Dera, suaranya lirih, ia menyembunyikan air matanya, menunduk tanpa melihat ke arah Arkha.


"Aku tau ini tidak tepat, tapi aku harus menyampaikannya. Nayra, istriku, dia mempunyai masa lalu dengan Zayn yang mungkin belum terselesaikan, hingga sampai saat ini, aku bisa melihat sorot mata keduanya mengisyaratkan cinta. Aku hanya berusaha bersikap sewajarnya, dan Nayra pun juga tau batasan seorang istri, jadi kamu tidak perlu takut istriku akan merebut suamimu. Itu tidak akan mungkin terjadi," ucap Arkha.


 


Dera langsung menoleh dan melihat Arkha karena terkejut dengan ucapannya, tetapi bibirnya kelu. Ia tak tahu harus berkata apa. Pikirannya kalut saat ini. Ia hanya bisa terdiam dan mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut Arkha.


“Dera, apa kamu tidak apa-apa?” tanya Arkha yang sedang memperhatikan wanita itu. Sejak tadi ia berbicara, tak ada jawaban darinya sepatah kata pun. Arkha hanya terdiam, menangis dan menunduk.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Dera, ia mulai mengangkat kepalanya, melihat ke arah Arkha dan melanjutkan kalimatnya. "Kau tahu, Zayn adalah lelaki yang sangat baik. Dia mau menikahiku hanya karena perjodohan, dan dia enggan menceraikanku, alasannya karena kasihan terhadapku, padahal dulu dia memiliki Nayra. Aku memang tak tau diri." Dera tersenyum kecut, meratapi penyesalannya,


"Maksud kamu?"


"Ya, selama lima tahun aku hidup bersamanya, aku sudah tau, dia hanya mencintai satu nama yaitu istri kamu. Bukan aku."


"Kamu tahu dari mana? Apa Zayn bercerita semuanya?"


"Nggak, dia lelaki yang cuek. Dia nggak pernah cerita apa pun soal Nayra, tapi aku sering mengecek ponselnya diam-diam karena aku penasaran. Aku menemukan pesan lama Nayra yang tak pernah di hapus, juga parahnya, setiap hari dia selalu mengirim pesan ke nomornya yang sudah tidak aktif seolah-olah dia mencurahkan isi hatinya ke Nayra."


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja benar. Buat apa aku berbohong."


"Apa kamu nggak sakit hati?" tanya Arkha.

__ADS_1


__ADS_2