
Kapan mata itu akan terbuka, kapan tangan itu akan bergerak, dan kapan tubuh itu akan merespons, semua tak akan tahu jawabannya. Kondisi kerusakan otak di kepala Zayn masih dalam penanganan khusus oleh dokter spesialis. Sehingga belum bisa memastikan kapan Zayn akan sadar dari komanya.
Nayra membelai pipi yang berahang tegas di wajah Zayn, dia membelainya lembut seolah merasakan desiran cinta yang pernah tumbuh di antara mereka. Tak bisa memungkiri, Nayra masih menyimpan rasa itu, kegundahan dalam hatinya semakin menggebu saat ia tidak melihat senyum Zayn lagi. Dia merindukan binar cinta dari tatapan Zayn.
Tak terasa sepuluh menit sudah berlalu, terlihat seorang perawat wanita berjalan ke arah Nayra. Perawat itu mengamatinya sejak tadi karena ia harus menjaga dan menjamin keselamatan pasien di dalam ruangan itu.
"Permisi, Bu," sapa seorang perawat dari belakang Nayra, suaranya terdengar lirih berbisik.
"Iya." Nayra menengok ke belakang sambil mengusap sisa air matanya.
"Maaf, waktu besuknya sudah habis, sebaiknya Anda keluar, biarkan pasien beristirahat."
"Ah iya, baiklah, sebentar lagi saya keluar. Terima kasih."
Perawat itu pun kembali ke mejanya yang masih di dalam ruang ICU, dia terus mengamati Nayra yang belum juga pergi.
"Zayn, aku harus pergi. Besok, aku akan ke sini lagi. Kamu harus semangat ya, nggak boleh lemah, aku menunggumu.l Cepatlah bangun! A-aku masih cinta sama kamu, Zayn." Nayra meneteskan buliran air mata, meluruhkan segala kesedihan yang terpendam. Wanita itu lalu mencium punggung tangan Zayn sebagai tanda pamitnya, padahal tak seharusnya dia melakukan hal itu karena ia berstatus istri orang.
Ucapan kata cinta itu ... Nayra tak menyadarinya, dia hanya mengucapkan apa yang ada di hatinya tanpa berpikir dan tanpa mengingat suaminya.
Setelah berpamitan pada sang mantan kekasih, dia bergegas keluar dari ruangan dingin yang menegangkan itu. Ruang tunggu itu tampak sepi dan membuat suasana semakin hening. Dia kemudian duduk di samping Dera. Dengan kelopak mata yang basah, Nayra melirik ke arah wanita yang berstatus sebagai istri Zayn itu.
"Dera ...," panggil Nayra.
"Ya, kenapa? Apa ada perkembangan sama Zayn?" Dera meletakkan ponselnya setelah dari tadi mengacuhkan Nayra di sampingnya.
"Ah, tidak. Belum ada perkembangan dengan Zayn. Boleh aku tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Boleh, mau tanya apa?" Dera kembali bertanya.
"Apa kamu mencintainya?" Ucapannya terdengar penuh keraguan.
"Maksud kamu, Zayn?"
"Ya, Zayn. Apa kamu mencintainya?"
"Tentu saja. Dia suamiku, sudah pasti aku mencintainya. Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
Nayra menarik napas panjang, dia cukup terkejut mendengar jawaban dari wanita berambut panjang itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu. Setidaknya aku sekarang lega, ada wanita yang mendampingi Zayn dengan tulus," jawab Nayra sedikit tersenyum agar Dera tak berpikir macam-macam atas pertanyaannya.
"Tapi ... sayangnya dia tidak pernah mencintaiku," papar Dera dengan pandangan kosong setengah melamun.
"Bagaimana bisa? Maksudku, bagaimana kamu tahu kalau Zayn tidak mencintai kamu. Bukankah kalian selama ini hidup bersama?"
Dera mengukir senyum tipisnya, menutupi segala kegundahan yang dia rasakan. Walau begitu, dirinya merasakan sakit hati yang dalam karena selama ini ia tidak pernah merasakan cinta yang tulus dari seorang lelaki.
Nayra terdiam sesaat, lalu berkata, "Dera, kamu tahu semuanya tentang masa laluku dengan Zayn?”
“Tentu saja aku tau, bagaimana tidak, dari dulu pun selalu nama kamu yang dia sebut dan menjadi perbandingan antara aku dan kamu. Begitu juga dengan ruangan kerja dan kamar yang penuh dengan fotomu.”
“Benarkah?” Dada Nayra terasa sesak mendengar penuturan Dera. Ternyata selama ini Zayn juga memikirkan dirinya.
Nayra pun langsung tersadar untuk tidak menjatuhkan air matanya, dia berkata,” Dera, tidak ada yang kebetulan, semua sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Kamu menikah dengan Zayn pun memang sudah takdirnya. Begitu juga aku, aku menikah dengan Arkha, itu memang sudah garisnya. Jadi kamu tidak perlu menyesali semua ini. Soal perasaan, kamu bersabarlah, suatu saat nanti, Zayn pasti akan mencintai kamu.”
Nayra berusaha menenangkan Dera, kali ini dia berbicara sebagai sesama perempuan. Tak ada lagi jarak yang membuat mereka canggung seperti sebelumnya, antara status Dera sebagai istri dan Nayra sebagai mantan kekasih.
__ADS_1
Kurang lebih satu jam Nayra berbincang dengan Dera, dia memutuskan untuk berpamitan karena ia harus pergi ke restorannya.
Sejak kemarin Zayn kecelakaan, Nayra belum lagi menginjakkan kakinya di tempat yang paling ia banggakan saat ini. Ya, restorannyalah yang selama ini menjadi hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Ia bisa menuangkan hobi memasaknya, ia bisa bertemu dengan berbagai orang, apa lagi jika bertemu dengan pelanggan yang puas dengan masakannya. Itu merupakan hadiah yang menggembirakan baginya.
Nayra melihat arloji di tangannya. “Ah sepertinya aku harus pergi sekarang, sebentar lagi jam makan siang, pasti restoran akan Arkhai konsumen,” batinnya.
“Dera, maaf sepertinya aku harus pergi.” Nayra berpamitan pada Dera.
“Kenapa buru-buru?”
“Aku harus ke restoran karena sejak kemarin aku belum ke sana. Sebentar lagi jam makan siang, jadi aku ingin membantu mereka,” tutur Nayra. Dia mengambil tas yang sedari tadi tergeletak di kursi itu.
“Ya sudah, kamu hati-hati di jalan, ya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjenguk Zayn,” ucap Dera, ia ikut berdiri mengimbangi Nayra yang hendak berjalan. Tanpa canggung lagi, mereka sudah cipika-cipiki layaknya seorang teman yang sudah akrab.
Nyatanya, Nayra dan Dera memang bisa berdamai dengan keadaan, apalagi dengan Dera yang sama sekali tidak membenci Nayra. Padahal seharusnya, seorang istri mana pun pasti akan cemburu jika suaminya berdekatan dengan wanita lain.
Orchid Restoran
Nayra mengayunkan langkah kakinya begitu tiba di depan restoran yang diantar oleh sopirnya. Dengan wajah berseri, ia mulai menyapa satu persatu karyawan yang sedang bekerja, senyum Arkhahnya membuat para pekerja semakin menyukai bosnya. Nayra adalah bos yang sangat penyabar, ia tidak pernah sekali pun memarahi karyawannya walau ia salah sekali pun. Ia hanya menasihati dan memberikan contoh yang benar.
“Selamat siang, Bu Bos!” sapa seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Nayra, dia adalah sahabat Nayra yang juga menjabat sebagai manajer di restoran itu.
“Siang, Felly!” sahut Nayra dengan senyum tipisnya.
“Eh bentar deh, itu mata kamu kenapa merah?” tegur Felly sambil mengamati wajah Nayra tampak seperti habis menangis.
“Ah, tadi kelilipan di luar, sudah lupakan! Gimana restoran kemarin ? Apa baik-baik. Saja?” Nayra duduk di sofa ruang santainya yang terletak tak jauh dari meja kasir.
“Iya dong! Tenang aja, serahin semuanya ke gue!” jawab Felly dengan penuh semangat sambil menepuk dadanya bangga.
__ADS_1
“Apa sekarang kamu lagi sibuk, Fel?”