
Nayra tak tahu apa yang harus ia lakukan, bagaimana ia mengambil hati mertuanya itu, bagaimana lagi ia menyiapkan mentalnya untuk menghadapi mamanya Arkha.
"Iya sayang, kamu belum mandi juga, kan? Barengan aja yuk!" ajak Arkha dengan senyum genitnya.
"Nggak ah, kamu aja sana dulu, nanti gantian."
"Dosa loh, nolak suami." Arkha terus menggoda istrinya.
"Arkha, please ... jangan memaksa." Nayra terlihat cemberut dan hilang mood seketika.
"Ya sudah kalau begitu, aku mandi dulu."
"Ya. Jangan lama-lama."
****
Nayra sudah rapi dengan dress berwarna hijau tua dengan panjang lengan sampai pergelangan. Dress itu tampak sangat elegan meskipun hanya sederhana, potongan kain itu menutup hingga lututnya. Di tambah lagi ia memakai high heels berwarna hitam, menambah kesan sempurna di dirinya.
Arkha berdiri di samping Nayra sambil mengetuk pintu rumah orang tuanya. Hati Nayra sudah tak karuan, tangannya dingin, sesekali ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Tak lama, asisten rumah tangga membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Terlihat kedua mertuanya sedang duduk bersantai di ruang tamu, seperti sengaja menunggu kehadiran anak dan menantunya.
"Selamat malam, Tuan, Nona, silakan masuk," sapa Bi Nur menyambut kehadiran tuan mudanya. Tak lupa Nayra menyerahkan kue yang tadi dibeli di sebuah toko roti ternama saat berangkat.
"Selamat malam, Bi." Nayra menjawab sambil tersenyum Arkhah, sementara Arkha hanya mengangguk pelan pada Bi Nur.
Sepasang suami istri itu pun masuk ke dalam, mengayunkan langkahnya menuju ruang tamu yang terletak di sudut ruang sebelah kanan.
"Malam, Pa, Ma." Arkha menghampiri kedua orang tuanya, Nayra pun mengikuti suaminya yang tengah bersalaman.
"Cantik sekali menantuku," ucap Fira berbasa-basi. Ia berdiri memandangi Nayra dari atas sampai bawah. Tak lupa sesekali wanita itu mengibarkhan kipas tangan yang dipegangnya.
Nayra hanya mengulas senyum tipis bercampur grogi. Selama ini ibu mertuanya selalu bersikap manis saat di depan Arkha saja. Berbeda saat Nayra hanya berdua dengan wanita paruh baya itu, pasti selalu ada ucapan yang akan memakan hatinya.
__ADS_1
Fira dan Adipati langsung mengajak anak dan menantunya bergegas ke meja makan. Jam menunjukkan pukul 19.30, seharusnya mereka datang lebih awal, karena jalanan cukup padat membuat mereka terlambat sampai ke rumah orang tuanya.
"Oh ya, tadi Mama sama Bi Nur masak makanan kesukaan kamu, Sayang. Ayo kita makan!" ajak Fira pada Arkha. Ia begitu menyayangi anak lelaki satu-satunya itu.
"Iya, Ma."
Arkha pun berjalan sambil melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Nayra. Sesampainya di meja makan, Fira dan Adipati duduk berdampingan, sedangkan Nayra dan Arkha di seberang juga duduk berdampingan.
Di meja makan sudah tersedia berbagai macam menu yang dihidangkan, seperti rendang, sayur brokoli, gurame bakar, dan juga cumi, lengkap dengan berbagai macam sambal di tengahnya.
"Mama ambilkan ya, makanannya?" tawar Fira pada Nayra.
"Tidak perlu Ma, terima kasih. Nayra bisa ambil sendiri."
Piring yang ada di depan Arkha pun diangkat Nayra dan dituangkan nasi secukupnya, serta mengambilkan lauk kesukaan Arkha, yaitu rendang, dan sambal cumi pedas.
Acara makan malam sederhana keluarga Adipati itu cukup membuat suasana hangat antara menantu dan juga mertuanya. Adipati memang lelaki yang tak banyak bicara, bahkan pada menantunya sekali pun. Ia hanya berbicara seperlunya. Bukan karena tak suka pada Nayra, tapi memang Adipati jarang berkomunikasi dengan lawan jenis sejak remaja dan terbawa hingga sekarang dengan menantunya.
Setelah makan malam itu selesai, mereka bergegas menuju ruang santai, ada televisi dan juga kursi pijat yang selalu menjadi tempat favorit Adipati di kala penat setelah seharian bekerja.
"Lihat, ini Pa!" Fira menunjukkan foto teman yang dimaksud itu, yang katanya sudah mempunyai dua cucu. Padahal niatnya hanya ingin membuat Nayra sakit hati.
Arkha terlihat cuek tak menanggapi obrolan mamanya, ia lebih fokus ke koran yang ia baca, sedangkan Nayra, ia fokus terhadap siaran televisi di depannya.
"Ma, sudahlah jangan berisik!" tutur Irsan dengan jengah.
"O iya, ngomong-ngomong soal anak, kira-kira kapan kalian akan memberi kami cucu?" tanya Fira seperti menyindir.
Akhirnya Arkha angkat bicara setelah ia risi mendengar suara mamanya yang sejak tadi terus berceloteh perkara anak.
"Ma, kita juga sudah usaha kok. Jadi tunggu saja nanti hasilnya," ucap Arkha menyudahi pembahasan soal anak. Ia mengerti saat ini perasaan Nayra pasti tengah gundah akibat membahas soal kehamilan.
__ADS_1
"Arkha, Papa dan Mamamu ini sudah pengen banget nimang cucu, sebenarnya di antara kalian siapa sih yang bermasalah?" celetuk Fira dengan kasar.
"Ma, sudahlah. Jangan terus tekan mereka, kasihan. Kita sabar aja." Adipati membentak, ia benar-benar tak suka mendengar kegaduhan.
Adipati dan Arkha kemudian berbincang mengenai perkembangan bisnis di perusahaan mereka. Arkha sebagai pewaris tunggal sangatlah diharapkan Irsan untuk menjadi pemimpin yang layak dan berbekal hebat seperti dirinya.
Nayra dan Fira yang sejak tadi terdiam sambil memainkan ponselnya tak mengerti obrolan para lelaki itu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Fira mengajak Nayra untuk ikut bersamanya ke kamar atas.
"Nayra, ikut Mama ke kamar, yuk! Mama mau kasih sesuatu sama kamu."
Nayra dengan raut wajah penuh keraguan seolah ingin menolak, tetapi tidak mungkin ia bersikap tidak sopan terhadap ibu mertuanya itu.
"Ah, iya, Ma." Nayra beranjak dan mengekori Fira menaiki tangga.
Di dalam kamar, Fira langsung menghujani ARa dengan pertanyaan yang menyakitkan dirinya.
"Gimana jadi istrinya Arkha? Ya pasti enak dong, kan anakku kaya raya, kamu minta apa pun pasti dikasih, iya kan?" Fira menyeringai, matanya terlihat sangat tajam menatap Nayra.
"Maksud Mama apa?"
"Heleh, jangan pura-pura sok polos! Aku tahu kamu cuma mau duit anakku aja, kan?"
"Nggak, Ma. Aku nggak pernah berpikir sampai kesitu."
"Buktinya, sampai sekarang kamu belum juga hamil. Kamu sengaja, kan? Supaya kamu nggak mau repot ngurus anak dari Arkha? Sengaja mau menguras harta anakku? Kamu minum pil KB, kan?" Wanita itu terus menyudutkan Nayra.
“Cukup, Ma! Jangan samakan aku dengan wanita di luaran sana. Aku sudah cukup sabar selama ini menghadapi Mama. Berhentilah menuduhku yang bukan-bukan!”
Akhirnya Nayra berhasil mengeluarkan kata-kata yang selama ini ia pendam. Ia memberanikan diri karena memang ia sudah tidak tahan dengan perlakuan ibu mertuanya itu.
Plak!
__ADS_1
Tamparan keras berhasil mendarat di pipi kiri Nayra. Ia begitu terkejut dan memegangi pipinya yang panas akibat hasil cetakan tangan sang mertua.
"Kurang ajar ya, siapa kamu berani-beraninya membentakku?"