
Dokter berlalu meninggalkan ruang tunggu tersebut, ia menuju ke ruangannya, sedangkan Dera menatap pintu ICU di depannya.
Satu persatu langkah kaki Dera memasuki ruangan dingin itu, langkahnya seperti berat seakan tak sanggup melihat wajah suaminya yang terbaring lemah di sana.
Ia duduk di kursi sebelah brankar, buliran hangat itu mulai lolos. Ia menatap wajah Zayn, banyak alat yang terpasang di tubuhnya. Dera menggenggam erat tangan Zayn, ia mencium punggung tangannya dengan lembut.
"Sayang, bangunlah! Aku akan menuruti semua keinginanmu, jangan siksa aku seperti ini. Aku benar-benar nggak sanggup melihatmu menderita," gumamnya sambil menatap kelopak mata Zayn, berharap ada respons dan pergerakan di sana.
Dera lagi-lagi merasa bersalah, ia menyesali perbuatannya karena Zayn mau menikah dengannya. Ia berpikir suaminya tak pernah merasakan kebahagiaan selama ini saat hidup bersamanya.
“Andai saja aku bisa menggantikan kesakitanmu, aku akan lebih senang, Zayn. Bahkan aku siap mati dari pada harus melihatmu menderita seperti ini.”
“Aku sadar, aku memang tak pernah punya sesuatu untukmu. Apa yang bisa aku banggakan? Apa yang bisa aku harapkan, bila aku tak pernah punya sesuatu yang kau tuntut dariku. Kamu tahu aku seperti apa yang kau lihat kini. Lalu, bagaimana mungkin, kamu menghendaki semua itu dariku? Tuhan telah memberikan apa yang terbaik buatku, mungkin bukan bagimu. Aku hanya wanita rendah, bahkan aku tak punya harapan untuk meraih sebuah cinta, cinta darimu. Sangat mustahil bagiku. Terima kasih, sudah mengasihiku tanpa cinta.”
Nayra termenung, pandangannya lurus pada pintu yang baru saja di masuki oleh Dera. Ia juga sangat berharap bisa masuk ke dalam sana agar bisa menemui Zayn walau hanya sedetik.
Arkha yang duduk di samping Nayra hanya memainkan ponselnya, membalas setiap pesan yang masuk dari bawahannya ataupun dari rekan kerjanya. Ia terlihat bosan dan tampak sedang gusar, sesekali memperhatikan wajah Nayra.
“Sayang, kamu nggak mau pulang?” tanya Arkha.
“Sebenarnya aku ingin sekali menjenguk Zayn dulu, As,” ujarnya dengan nada memelas.
“Coba nanti tanya sama Dera ya, boleh nggak jenguk Zayn.”
“Emm.” Nayra mengangguk tanda setuju.
Beberapa saat kemudian, Dera keluar dari ruang ICU itu dengan wajah yang tampak basah, matanya memerah akibat terlalu banyak menangis. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Wanita itu kemudian kembali duduk di sebelah Nayra.
“Dera, apa aku boleh jenguk Zayn? Aku ingin melihatnya sebentar saja," tanya Nayra, penuh dengan keraguan.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pulang Nayra, Zayn tidak bisa diganggu. Dia sedang istirahat, kasihan. Lebih baik besok kamu ke sini lagi."
"Baiklah kalau begitu."
Dengan terpaksa, Nayra beranjak dari kursinya bersamaan dengan Arkha. Tak lupa, lelaki itu menelepon Hasan untuk menjemputnya. Kebetulan jarak rumah sakit dengan rumah Arkha tidak begitu jauh. Jadi, begitu Arkha dan Nayra sudah sampai di pintu keluar depan, Hasan sudah siap menunggu di tempat parkir.
****
"Dera, biar Paman yang jaga di sini, sebaiknya kamu pulang juga. Temani Kania, kasihan dia pasti mencarimu dan mencari Zayn," ucap Irwan.
"Apa tidak apa-apa Paman di sini sendirian?"
"Nggak apa-apa, sudah sana pulang! Paman yang akan jaga Zayn. Nanti kalau ada apa-apa Paman pasti langsung kabari kamu."
"Sebenarnya Dera ingin di sini menemani Zayn, Paman."
"Baiklah, kalau begitu Dera pulang dulu ya, Paman. Besok pagi setelah antar Kania ke sekolah, aku langsung ke sini," pamit Dera.
"Iya, hati-hati di jalan."
Pukul 22.00 ia sampai di rumah, Bi Siti langsung membukakan pintu untuk majikannya begitu mendengar suara mobil datang.
"Bu Dera baik-baik saja?" tanya Bi Siti saat melihat raut wajah Dera yang murung.
"Zayn kecelakaan Bi, seharian aku di rumah sakit nunggu dia," jelas Dera.
"Astaghfirullahaladzim, Ya Allah kok bisa, Bu?! Lalu, bagaimana keadaan Tuan Fano sekarang?"
Sambil terisak, Dera memeluk Siti. Ia sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri karena sudah terlalu lama bekerja dengannya. Bi Siti adalah satu-satunya tempat berkeluh kesah sejak Dera berumah tangga dengan Zayn. Bahkan, dia meninggalkan semua teman-temannya yang membawa pengaruh buruk untuknya.
__ADS_1
"Dia harus operasi karena mengalami pendarahan otak, Bi. Setelah operasi, dia malah koma. Aku nggak tahu bagaimana harus menjalani hidup tanpa Zayn. Selama ini aku bergantung padanya."
Dera mengurai pelukannya, ia lalu mengusap air matanya. Bi Siti mengelus punggung Dera, ia merasa iba karena baru pertama kali majikannya itu putus asa. Padahal yang ia tahu selama ini, Dera adalah wanita yang kuat dan jarang sekali menangis, walaupun Zayn tak menganggapnya ada sekalipun.
"Sabar ya, Bu. Pak Zayn pasti akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir berlebihan, yang penting sekarang Tuan sudah ditangani oleh dokter dan kita terus berdoa semoga cepat sembuh dan cepat pulih kembali."
"Iya, Bi. Terima kasih. O iya, tadi Kania tidur jam berapa, Bi? Pasti dia nyariin aku sama Zayn, ya?" tanya Dera.
"Kania tidur jam delapan, Bu. Tadinya mau nungguin Bu Dera pulang. Saya bilang lagi ada urusan sama Tuan," jawab Bi Siti. Ia lalu berkata, "Bu, makanan saya panasin, ya. Bu Dera pasti belum makan."
"Nggak usah Bi, nggak laper. Saya mau mandi terus langsung tidur aja."
"Ya sudah kalau begitu, Bu."
Dera pun berjalan ke atas, menaiki tangga satu persatu dengan lemas. Ia perlahan membuka pintu kamarnya, dan berjalan ke tempat tidur untuk sekedar mencium buah hatinya yang sudah tertidur pulas itu.
Kemudian, ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Tetesan demi tetesan air yang mengguyur ke badannya ia nikmati agar semua lelahnya hilang.
Setelah ritual mandinya selesai, ia mengenakan bath robe keluar dari kamar mandinya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, ia ingin sekali masuk ke kamar Zayn dan juga ruang kerjanya.
Ia berjalan ke kamar suaminya, dibukanya pintu itu dan langsung menuju ruang kerjanya, ia lalu membuka pintu satu lagi yang ada di dalam kamar itu. Dera mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruang. Selama ini dia memang tidak pernah masuk ke ruang kerjanya karena Zayn selalu melarangnya. Matanya fokus menatap beberapa foto yang menempel di dinding.
"Nayra ...." Dera menarik napas panjang mencoba menguatkan hatinya.
"Beruntung sekali kamu Nayra, Zayn sebegitu besarnya mencintai kamu dengan tulus," gumam Dera menatap foto mereka tak berkedip.
Ternyata, ruang kerja Zayn penuh dengan kenangan Nayra, foto tersebut diambil saat di restoran lima tahun yang lalu. Berbagai kegiatan di dapur, berbagai ekspresi wajah Nayra, bahkan foto mesra mereka juga menempel di sana, semua lengkap ada di dinding itu.
Dera mengambil satu foto Zayn tanpa ada Nayra di sana. Ia lalu membawanya ke tempat tidur. Ia menatap lekat wajah Zayn di balik kaca berbingkai itu.
__ADS_1