
Ar, sudah lama aku nggak ikut kamu ke kantor, banyak yang berubah ya," ucap Nayra, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling area perusahaan Arkha.
"Apa yang berubah, Sayang? Masih sama, hanya penataannya saja yang sedikit diubah."
Banyak pasang mata menyaksikan bosnya berjalan mesra dengan sang istri, sesekali mengembangkan senyumnya pada karyawan yang mereka lewati untuk sekedar menyapa. Keduanya memanglah orang yang sangat menghargai para pekerja. Meskipun begitu baik terhadap karyawan, tetapi Arkha diam-diam mempunyai pemikiran yang cerdik untuk memimpin perusahaan papanya, hingga tak ada yang bisa mengelabuhi Arkha.
Sesampainya di depan lift, Arkha menekan tombol dua puluh untuk menuju ruang kerjanya. Tangan itu tak lepas dari pinggang Nayra yang terus ingin berdekatan. Arkha mencoba untuk santai meskipun dalam hatinya, ia begitu sangat gugup. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti reaksi Nayra begitu tahu semuanya.
Di dalam ruang kerja Arkha, Nayra mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa panjang yang terletak di sudut ruang, tepatnya di seberang meja kerja suaminya itu.
“Ar, tumben sekali mengajakku ke kantor? Apa ada acara? Atau kamu mau mengajakku bertemu rekan bisnis?” tanya Nayra penasaran.
Biasanya, Arkha memang mengajak Nayra untuk bertemu klien atau makan siang bersama dengan temannya ketika ia diajak ke kantor oleh Arkha. Namun, untuk saat ini memang ada alasan lain yang cukup serius.
“Nayra, sebenarnya ada sesuatu hal yang penting yang akan kuunjukkan ke kamu. Makanya, aku mengajakmu ke sini,” terang Arkha dengan raut muka serius.
“Apa?” balas Nayra penasaran.
Arkha lalu berjalan ke arah laci di meja kerjanya, ia lalu mengambil sebuah amplop putih yang berisi surat hasil pemeriksaan istrinya.
__ADS_1
Lelaki itu dengan berat hati menghampiri Nayra dengan gugup, ia lalu menyerahkan amplop itu ke tangan Nayra yang langsung di terima dengan penuh tanda tanya. Wanita itu cukup penasaran, ia mengernyitkan dahinya dan bertanya pada Arkha. “Apa ini?”
“Buka saja, Sayang!” perintahnya, ia lalu duduk di samping Nayra.
Nayra pun langsung membuka, dan membacanya dengan teliti.
“Ini ... apa maksudnya?” Tangan Nayra gemetar begitu selesai membaca keterangan yang ada di selembar kertas itu, bibirnya seperti kelu meminta penjelasan lebih.
'Kista ovarium', itulah yang tertulis di sana. Gangguan kesehatan yang dialami oleh Nayra itu baru saja ia ketahui karena Arkha menyembunyikannya sejak satu minggu yang lalu.
“Maksudnya? Aku ...?” Bibir Nayra seolah tak dapat melanjutkan kalimatnya. Tangannya gemetar, kertas itu dijatuhkannya begitu saja. Arkha yang merasa kasihan lantas merangkul istrinya itu, ia mengusap lembut lengan Nayra memberi kekuatan.
Nayra mulai menitikkan air matanya, ia tidak menyangka selama ini dirinyalah yang ternyata mempunyai gangguan kesehatan dan menyebabkan sulit hamil. Apalagi setelah ia membaca vonis tersebut.
“Sayang, maafkan aku, bukan maksudku untuk menyembunyikan ini semua, aku hanya belum siap dan nggak tega jika kamu bersedih.”
"Kak Arkha tahu nggak, dengan Arkha menunda semua ini, yang ada malah akan memperlambat proses program hamil kita, dan aku ... penyakitku pasti juga akan semakin parah. Apa kamu senang kalau aku sakit?”
“Sayang, bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Aku sudah bilang bukan, kalau aku tidak tega melihatmu terpuruk. Itu saja," terang Arkha.
Nayra terdiam, ia berusaha menetralkan pikirannya dan memandang wajah suaminya. “Antar aku ke Dokter Mirna sekarang!” pinta Nayra seraya berdiri.
__ADS_1
“Baiklah Sayang, tapi kumohon jangan marah lagi, maafkan aku.”
“Sudahlah, Kak! Sekarang bukan saatnya membahas itu. Aku ingin ke rumah sakit sekarang. Atau, kalau kamu sibuk, aku bisa berangkat sendiri.” Nayra mulai melangkahkan kakinya, tetapi Arkha dengan sigap meraih tangan Nayra.
“Sesibuk apa pun pekerjaanku, kamu tetap nomor satu, Sayang. Baiklah, kita berangkat sekarang."
****
“Silakan duduk Tuan, Nyonya! Bagaimana, apakah sudah ada keputusan untuk tindakan selanjutnya?” tanya Dokter Mirna. Terakhir kali dokter itu menyampaikan bahwa pasangan tersebut harus memilih salah satu penanganan untuk kesembuhan kista tersebut.
“Maaf, Dok, apa bisa dijelaskan lagi? Saya belum mengerti sepenuhnya soal kista ovarium."
“Jadi begini Nyonya Nayra, tiap wanita memiliki dua indung telur (ovarium), satu di bagian kanan dan satu lagi di sebelah kiri rahim. Ovarium yang berukuran sebesar biji kenari ini merupakan bagian dari sistem reproduksi wanita. Ovarium berfungsi menghasilkan sel telur tiap bulan mulai dari masa pubertas hingga menopause, serta memproduksi hormon estrogen dan progesteron. Fungsi ovarium terkadang dapat terganggu, kista termasuk jenis gangguan yang sering terjadi. Nah, yang Nyonya alami sekarang ini adalah kista ovarium."
"Apa itu sangat berbahaya, Dok?"
"Sebagian besar kista ovarium ada yang berbahaya dan ada juga yang tidak. Jika berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala, kista ini biasanya akan hilang sendiri tanpa pengobatan. Kista baru menimbulkan masalah jika tidak kunjung menghilang atau justru makin membesar. Kondisi serius dapat terjadi saat kista pecah atau jaringan ovarium terpelintir sehingga memerlukan penanganan secepatnya."
"Lalu, apa kista saya sudah parah, Dok? Dan untuk penangannya, langkah apa yang harus saya ambil?" tanya Nayra.
"Berhubung kista Nyonya ukurannya sudah mencapai lima senti meter, maka bisa langsung melakukan operasi. Sebenarnya kita bisa melakukan pengamatan lanjutan jika Nyonya mau, tapi takutnya nanti bersaing antara pengobatan dan perkembangan kista, jadi sepertinya akan percuma saja," tuturnya.
__ADS_1
Nayra menyenderkan badannya dengan lemas, Arkha yang sejak tadi terdiam, ia sama sekali tak tahu apa yang harus ia katakan dan tanyakan pada dokter tersebut. Ia mulai cemas melihat reaksi sang istri, ia mengelus rambut belakang Nayra dan menatapnya iba.