Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Sang Mantan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, tibalah saatnya untuk acara di mulai, tetapi tiba-tiba saja ada tamu yang datang terlambat. Dari kejauhan, semua memperhatikan pintu masuk tersebut, karena penasaran siapakah tamu yang baru datang itu.


Tanpa di duga, Nayra dan Arkha hadir dalam satu acara yang juga di hadiri oleh Zayn. Sebagai sepasang suami istri, mereka juga mengenakan pakaian yang serasi dengan warna yang senada. Nayra tampak elegan dan anggun saat berjalan berdampingan dengan menggandeng tangan suaminya itu.


“Hah, Nayra! Apa betul itu, dia? Tapi ... siapa lelaki di sampingnya itu?” batin Zayn berkecamuk.


Nayra berjalan anggun memasuki ruangan tersebut, matanya juga tak sengaja melihat ke arah lelaki yang tengah memandangnya tak berkedip. Membuat netra keduanya saling tatap dan tak berhenti memperhatikan satu sama lain.


Dalam hati Zayn terus bertanya-tanya tentang siapa pria yang berdiri di samping pemilik hatinya itu.


Berbeda dengan Nayra, sesekali ia hanya melirik ke arah Zayn setelah dia tahu bahwa lelaki itu memperhatikannya. Dia pura-pura tidak mengetahui kehadirannya. Namun, tetap saja manik indah wanita itu ingin mencuri pandang, tatapannya sulit untuk teralihkan dari Zayn. Keberadaan Zayn di depan matanya sudah berhasil mengusik hatinya.


Zayn terus memuji kecantikan Nayra dalam hati. Ia begitu terpukau, membuat perasaannya semakin menggebu-gebu ingin mendekatinya.


Rama terus menggandeng istrinya menuju ke arah pemilik kafe, yaitu Pak Aditama.


"Arkha, kita di sini saja," ajak Nayra, saat Arkha mulai mendekati Pak Aditama yang sedang berdekatan dengan Zayn dan istrinya.


"Nggak enak, sayang. Beliau yang mengundang kita, pemilik kafe ini," jelas Rama. Rama lalu menggandeng tangan Nayra.


Mau tidak mau, Nayra hanya menurut kata suaminya itu, padahal ia enggan bertemu dengan Zayn, mantan kekasihnya.


"Pak Aditama! Selamat ya, atas pembukaan kafenya, semoga ke depannya semakin sukses."


"Terima kasih, Pak Arkha. Terima kasih juga sudah bersedia datang ke acara grand opening D'Lato cafe.”


"Sama-sama, Pak."


Mata Zayn tak berkedip, ia terus memfokuskan pandangannya pada Nayra, hingga Dera merasa heran.


"Zayn Sayang ... kenapa ngelamun sih?" tanyanya, penasaran sambil bergelayut manja di lengan Zayn.


"Ah, nggak apa-apa," jawabnya singkat sambil melepArkhan tangan Dera yang ada di lengannya, karena ia tak mau Nayra melihat kemesraan itu.


Arkha menjabat tangan Pak Aditama. Kemudian, bola matanya mengarah pada Zayn.


"Sepertinya, saya pernah melihat, Anda. Tapi di mana, ya?"


"Mungkin salah orang," jawab Zayn singkat.

__ADS_1


"Ah, ya! Saya ingat. Anda bukannya waktu itu yang datang ke restoran istri saya?" tukas Arkha.


"Maaf, restoran mana, ya? Saya sering ada janji di berbagai restoran."


"Orchid Resto, Anda pernah ke sana, bukan? saat itu saya bertemu Anda di depan restoran," jelas Arkha.


 


“Apa? istri! Siapa yang di maksud istri olehnya? Apa Nayra?” Batinnya.


Bukannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Arkha, Zayn malah asyik melamun dan menimbang-nimbang pikirannya tentang Nayra. Ia masih belum yakin, jika yang di sampingnya itu adalah suami Nayra. Ya, mantan terkasihnya kini ternyata juga sudah menikah, menambatkan hatinya pada lelaki lain. Perasaan hancur kini tengah menggerogoti Zayn, dia tidak menyangka akan hilang kesempatan untuk memperjuangkan Nayra kembali ke pelukannya.


Zayn terus memperhatikan Nayra tak berkedip, ia memandangnya dari bawah sampai atas, 'sempurna' itulah yang ada di pikirannya saat melihat Nayra dengan gaun berwarna abu-abu, tampak sangat elegan. Gaun itu mempunyai panjang selutut, dengan lengan yang ketat sampai ke siku. Bagian dada terbuka menyamping hingga ke bahunya. Juga tali yang ada di bagian perut, membuat tampilannya semakin cantik.


"Apa Anda ingat saya? Kita bertemu waktu di restoran."


“Oh iya, saya mengingatnya. Pertanyaan Arkha membuyarkan lamunan Zayn.


Rama kemudian mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan Zayn. “Perkenalkan, saya Arkha."


“Zayn.”


“As, sepertinya aku mau ke toilet dulu boleh?” bisik Nayra pada Arkha.


“Boleh Sayang, tau nggak toiletnya di mana? Atau mau kuantar?”


“Ah tidak perlu. Aku bisa sendiri, kok.”


Ranja pun berjalan menuju toilet sendirian tanpa didampingi oleh Arkha. Sebenarnya dia izin pergi ke toilet hanya ingin menghindari Zayn, menghindari tatapan lelaki itu yang sedari tadi tak henti memperhatikannya. Ia merasa risi, gejolak hatinya juga tak karuan saat ada Zayn.


Beberapa saat kemudian, saat ia sampai di depan toilet, tiba-tiba terdengar ada yang memanggilnya.


“Rara ... Ra!” seru Zayn.


Ranja semakin mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam toilet wanita. Sayangnya ia kalah cepat dengan Zayn.


“Rara, berhenti!” Zayn menarik tangan Nayra dari belakang, ia lalu berjalan ke depan Nayra hingga mereka saling berhadapan.


“Rara, lihat aku!” Nayra masih terus menunduk menyembunyikan bola matanya yang mulai berkaca-kaca.” Zayn memegangi kedua bahu Nayra.

__ADS_1


“Bodoh, lemah sekali aku. Kenapa aku harus menangisinya di saat yang tidak tepat.” Hati Nayra merutuki kebodohannya.


“Zayn, menjauh dariku! Jangan sampai aku teriak meminta tolong," ancam Nayra. Ia memundurkan langkahnya agar tak terlalu dekat dengan Zayn.


“Ra, aku cuma ingin tau, siapa dia. Siapa lelaki itu?”


“Maksud kamu?”


“Lelaki di samping kamu tadi. Arkha, ya namanya Arkha. Ada hubungan apa kamu dengannya?”


“Oh, Arkha. Dia suamiku, kenapa? Sudah jelas, kan? Aku sudah menikah, aku sudah menjadi milik orang lain. Jadi jangan ganggu aku lagi!”


“Ra, aku tidak peduli. Aku sangat merindukanmu. Kembalilah padaku, bisakah kita mulai lagi dari awal?"


Zayn memohon dengan wajah melasnya, ia tak tahu lagi, sepertinya ia sudah sangat tergila-gila dengan Nayra.


"Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Mau sampai kapan kamu menggangguku terus? Apa kamu nggak capek? Sudahlah, biarkan aku hidup tenang."


Nayra memilih untuk pergi meninggalkan Zayn dan memasuki ruangan, acara itu sedang berlangsung. Arkha yang menyadari kehadiran Nayra pun menengok ke samping.


"Sayang, kenapa menangis?"


"Siapa juga yang menangis, As." Nayra berkelit dan tersenyum agar Arkha mempercayai perkataannya.


"Nayra ... kita hidup bersama sudah cukup lama, jadi tidak perlu berbohong. Aku bisa membaca raut wajahmu."


 


"Tidak apa-apa, Ar. Kamu tenang aja, tiba-tiba saja aku merindukan Ayah dan Ibu."


"Besok kita pulang, ya. Sudah, jangan bersedih lagi."


Arkha menggenggam tangan Nayra yang berdiri di sampingnya, mereka lalu menyaksikan acara yang tengah berlangsung itu.


Tidak bisa dipungkiri, sampai saat ini Nayra dan Zayn masih sama-sama memiliki perasaan yang begitu dalam. Rasa cinta mereka tumbuh subur di dalam hati masing-masing.


Acara grand opening tersebut berlangsung selama dua jam. Pukul 13.00 selesai acara, Nayra dan Arkha menuju mobilnya diikuti oleh Zayn dan Dera yang bergandengan mesra.


"Kamu tunggu di sini dulu, aku ada perlu sebentar."

__ADS_1


"Perlu? Sama siapa?" tanya Dera sambil melepas tautan tangannya dari lengan Zayn.


__ADS_2