
Selama ini, Dera tak berharap lebih untuk memiliki hati suaminya. Ia tahu, Zayn sudah sangat membencinya sejak awal perjodohan. Ditambah lagi, perilakunya yang memang negatif membuat Zayn semakin tak menyukainya walau sedikit.
Akan tetapi, Dera selalu berusaha bersikap baik pada suaminya itu. Tak peduli bagaimana respons Zayn, tak peduli seberapa dinginnya Zayn terhadapnya, yang penting ia terus setia di dekat lelaki itu dan melayani apa pun kebutuhannya, kecuali nafkah batin.
Sejak orang tua Dera meninggal karena kecelakaan pesawat tiga tahun lalu, Dera frustrasi. Walaupun ia tak pernah merasakan perhatian dari orang tuanya sejak kecil, tapi mereka tetaplah orang tua Dera. Ibu yang melahirkannya, juga ayahnya yang selalu berperan penting dalam pertumbuhannya.
Jika ia menceraikan Dera, otomatis Dera akan hidup sendiri. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Zayn dan Kania—putri kecilnya. Apalagi, anaknya masih butuh perhatian seorang ayah. Ia tidak tega jika anak kecil tak berdosa itu menanggung beban ketika besar nanti karena sebuah perceraian, meskipun notabenenya Zayn bukanlah ayah kandung Kania.
Hal itu juga yang mengurungkan niat Zayn untuk menceraikan Dera. Ia terlalu kasihan pada wanita malang itu jika harus meninggalkannya juga setelah ia di tinggal kedua orang tuanya untuk selamanya. Dia pernah merasakan kehilangan orang tuanya, jadi dia merasa iba pada wanita itu.
Saat itu, Dera memohon pada Zayn dengan Deraian air mata, ia tidak ingin diceraikan. Ia tidak ingin hidup sebatang kara dan pintanya hanya ingin hidup bersama Zayn.
Seberapa besar ia memohon pun, Zayn tetap bersikukuh untuk tetap menceraikannya waktu itu. Namun, paman Zayn selalu membujuknya agar tidak mengambil keputusan secepat itu dan menyuruhnya untuk mempertimbangkan lagi.
Ia terus meminta Zayn untuk memikirkan baik-baik keputusannya. Irwan sangat iba terhadap nasib Dera. Akhirnya, Zayn terpaksa menerima Dera di hidupnya. Namun, ia mengajukan beberapa syarat agar Dera berubah.
Syarat-syarat tersebut tertulis di sebuah selembar kertas, seperti surat perjanjian bermeterai pada umumnya. Pertama, Dera harus bersikap sebagai istri yang baik. Kedua, menyiapkan pakaian, juga memasak makanan untuknya,. Ketiga, mengurus anak dengan baik. Keempat, tidak boleh keluar rumah tanpa izin Zayn. Kelima, meninggalkan dunia malam, tidak ada lagi mabuk, apalagi bermain dengan lelaki dan syarat terakhir, tidak ada hubungan suami istri.
Dera menyanggupi semua syarat dari Zayn meskipun sedikit keberatan. Sejak kejadian itu, Dera berubah drastis. Ia menjadi wanita yang baik dan penurut terhadap suami.
Waktu bergulir begitu cepat, pagi hari disambut dengan teriknya matahari dari ufuk timur, menembus di setiap jendela rumah Zayn yang berbahan kaca.
Dera tergolek di atas ranjang bersama Kania, ia membuka matanya dan melihat ke arah jam yang menempel di kamar itu, pukul 05.30. Ia menguap dan mengerjapkan mata, mengumpulkan kesadarannya. Meregangkan otot sejenak setelah terbangun dari tidurnya.
Pagi ini ia bangun lebih awal, karena hari ini adalah hari bahagianya. Ia begitu antusias untuk menyiapkan dirinya. Ajakan Zayn semalam membuat suasana hatinya sangat baik. Namun tak lupa, ia harus memasak terlebih dahulu. Juga menyiapkan keperluan Kania untuk sekolah. Ya, anak kecil itu sekarang sudah berumur lima tahun lebih dan sedang menuntut ilmu di TK Kasih Bunda.
__ADS_1
Selama ini, Dera memang selalu tidur dengan Kania. Sekali pun, Zayn tak pernah mengizinkannya untuk tidur bersamanya. Hubungan suami istri antara mereka hanya sebuah status agar tidak dipandang sebelah mata oleh rekan bisnisnya.
Dera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan menggosok gigi. Setelahnya, ia bergegas ke dapur, membuatkan nasi goreng untuk sarapan anak dan suaminya.
Ia mulai mengiris bawang, keahliannya dalam memasak kini semakin bertambah. Setiap harinya ia terus belajar dengan Bu Siti, asisten rumah tangganya itu. Akan tetapi, ia juga sering mengikuti kelas memasak, agar suatu saat nanti, Zayn bisa bangga dan jatuh cinta padanya. Ya, itulah tujuan utamanya.
"Bi, coba cicip deh! Kurang apa, ya?" tanya Dera pada Bu Siti, ia menyodorkan sendok yang berisi nasi goreng.
"Sudah enak, Bu."
"Syukurlah. Bi, bisa tolong kupasin mangga? Nanti biar aku yang buat jusnya. Aku harus naik dulu, waktunya Kania mandi, Bi. Zayn pasti juga belum bangun."
"Iya, Bu. Nanti saya kupasin."
Dera melepas celemek yang menggantung di lehernya. Ia lalu bergegas ke kamar Kania untuk membangunkan gadis kecilnya.
"Kania masih ngantuk, Ma. Boleh nggak, Kania libur aja sekolahnya?" tanya gadis kecil itu sambil menarik selimutnya lagi, menutup rapat tubuh mungilnya.
"Anak Mama harus rajin dong, harus pinter! Jadi, Kania harus sekolah, ya, Nak," bujuk Dera tersenyum. Lagi-lagi ia mendaratkan ciuman gemas ke putri kecilnya itu.
"Yah ... padahal Kania masih ngantuk," gerutu Kania dengan raut wajah cemberut.
Kania sudah rapi dengan seragamnya, ia berjalan menuruni tangga, sedangkan Dera menuju kamar Zayn untuk membangunkannya juga. Pintu di ketuk olehnya, setelah tiga kali ketukan, masih belum ada jawaban dari dalam, ia lalu langsung membukanya. Dera perlahan berjalan ke arah ranjang Zayn, ia menepuk bahu Zayn agar ia terbangun.
"Zayn sayang ... bangun! Sudah jam tujuh."
__ADS_1
"Hmm ... ya." Zayn menggeliat, ia segera membuka matanya.
Dera kemudian membuka jendela kamar Zayn agar udara pagi masuk ke dalam ruangannya itu. Dengan langkah pasti, ia segera menyiapkan baju yang akan di pakai Zayn ke restoran.
Setelan jas berwarna navy akan membuatnya terlihat lebih gagah. Mengingat, hari ini ia akan datang ke acara grand opening bersamanya.
"Selamat pagi, Papa!" sapa Kania.
Ia begitu ceria melihat papanya menuruni tangga, karena ia memang jarang bertemu dengan Zayn. Hampir setiap hari Zayn pergi pagi dan pulang malam saat Kania sudah tertidur. Hubungan antara keduanya memang layaknya seorang anak dan ayah pada umumnya. Zayn sudah menerima kehadiran Kania sejak beberapa tahun lalu, ia menyayangi seperti anaknya sendiri.
"Pagi, Anak Manis!" Zayn mencium pucuk kepala Kania.
Dera yang duduk di samping Kania pun, tersenyum bahagia melihat suami dan anaknya begitu akrab.
"Makan yang banyak, ya. Habis itu Papa antar ke sekolah."
"Hore! Aku diantar Papa!" seru Kania saat mendengar kalimat dari Zayn.
Biasanya memang Dera yang mengantar jemput Kania ke sekolah, tapi kali ini Zayn sengaja mengantarnya agar Dera bisa menyiapkan dirinya untuk nanti siang.
"Sayang, kamu beneran mau antar Kania? Tumben," tegur Dera.
"Kamu boleh ke salon hari ini, nanti jam 11.00 aku jemput kamu di salon biasanya."
"Ah ... aku sangat bahagia hari ini. Terima kasih, Sayang," ujar Dera sambil berjalan ke kursi Zayn. Ia mengelus pundak lelaki itu dan mencium pipinya.
__ADS_1
"Jangan berlebihan," aku hanya menyuruhmu untuk tampil berbeda agar tidak memalukan nantinya.
"Tenang saja, Sayang. Aku tidak akan mengecewakanmu." Lagi-lagi Dera merasa hatinya berbunga-bunga, ia semakin bersemangat untuk mempersiapkan dirinya.