Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Perusahaan Terancam


__ADS_3

Kala itu, Adipati berkeinginan agar anaknya meneruskan perusahaannya di Jakarta, tetapi Arkha menolak karena ia ingin hidup mandiri tanpa berdiri di atas nama papanya. Setelah beberapa tahun Arkha mencemplungi dunia periklanan, perusahaan itu semakin maju dan berkembang sukses. Banyak para pesaing juga yang selalu menjadi tekat kuat Arkha untuk mengatur strategi terhebatnya agar perusahaan itu tak mudah goyah.


Namun, dua tahun belakangan ini, Wijaya sering sakit, fisiknya sudah mulai melemah di usia lima puluh lima tahun. Hingga akhirnya perusahaan yang berada di Singapura itu di kelola oleh Fira yang tak lain adalah ibu kandung Arkha. Wanita itu juga termasuk wanita yang hebat dan lulusan universitas terbaik di London.


Perusahaan yang di singapura memang belum terlalu besar seperti perusahaannya yang berada di Jakarta, tetapi persaingan bisnis di sana memanglah ketat, sehingga Fira harus ekstra menguras pikirannya. Kalau bukan karena kasihan terhadap papanya, mungkin Arkha tidak akan mau meneruskan perusahaan di Jakarta dan meninggalkan MA Advertising yang di Singapura, ia sangat menyayangkan hal itu.


****


Setibanya di depan ruang Adipati, Arkha mengetuk pintu, tetapi tak ada jawaban, karena tidak sabar, ia memutuskan untuk membuka daun pintu yang berwarna cokelat gelap itu. Arkha masuk tanpa menunggu persetujuan dari papanya, karena apa pun itu, Arkha masih berstatus anak dari Wijaya.


Lelaki paruh baya dengan setelan jas berwarna abu-abu itu sedang berdiri di depan jendela kantor yang memperlihatkan suasana kota di luar sana. Adipati—papanya Arkha terlihat gelisah dan sedikit panik sambil menempelkan ponselnya di telinga. Itu artinya, ia sedang menelepon seseorang.


Melihat kehadiran Arkha, seorang ayah itu hanya mengangguk dan masih melanjutkan teleponnya yang masih tersambung. Arkha mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut papanya itu, menyimaknya dengan saksama.


Arkha mendengar pembicaraan Wijaya yang terdengar lantang dan serius. Ya, pria itu sedang mengatur strategi untuk menyelamatkan perusahaan anaknya.


Sambungan telepon itu berakhir, Wijaya meletakkan benda pipih itu di meja kerjanya. Ia lalu menghampiri Arkha yang tengah duduk di sofa.


"Papa sudah tahu?" tanya Arkha, menoleh ke arah Adipati yang berada di sampingnya.


"Sudah, Mama kamu sekarang sedang panik di sana, Papa juga sudah suruh Arka untuk meng-handle perusahaan agar tidak semakin kalang kabut," terang Wijaya dengan mimik wajah yang cukup serius.


"Aku tadi juga sudah minta tolong Reno, Pa."


"Bagus, setidakknya dia bergerak cepat."


Reno adalah anak dari adiknya Adipati, yang berarti masih berstatus sepupu Arkha. Kini, ia tengah mengelola perusahaannya yang sudah berkembang pesat di Singapura. Sesekali dia selalu menyempatkan waktunya untuk mengecek perusahaan Arkha. Tak dapat dipungkiri, Arka adalah seorang pemimpin yang hebat dibandingkan Arkha, karena usianya lebih tua lima tahun darinya. Tentu saja ia lebih berpengalaman.


"Pa, sepertinya Arkha harus ke sana langsung untuk mengetahui konfliknya lebih jelas. Aku ingin menyelesaikan masalah ini sendiri."

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau kamu, tapi apa Nayra tidak apa-apa kalau kamu tinggal sendiri?"


"Nanti di jalan aku akan menghubungi Nayra, Pa. Yang terpenting aku harus segera ke bandara." Arkha berdiri dan beranjak akan pergi, akan tetapi papanya memanggil.


"Arkha, tunggu!"


"Iya, Pa. Ada apa?" Arkha menoleh ke belakang saat sudah di ambang pintu.


"Kalau misalkan nanti dananya kurang, bilang Papa."


"Terima kasih, Pa. Arkha pergi dulu."


Di koridor, ia terus berusaha menelepon Nayra, berniat untuk memberinya kabar jika ia harus pergi mendadak ke Singapura.


Dua kali deringan, tiga kali, empat kali, masih juga tak diangkat oleh wanita yang berstatus sebagai istrinya itu. Arkha sambil berjalan dengan tergesa-gesa menuju arah ruangannya. Ia bertemu Celine sedang berada di meja kerjanya, tepatnya di samping ruangan Arkha, ia menghampirinya dan memerintahkannya untuk segera membelikan tiket penerbangan secepat mungkin.


Selang beberapa menit, saat Arkha berada di mobilnya, Nayra menelepon. "Halo ... ada apa, Ar?" Maaf tadi aku sedang berada di ruang ICU," jawab Nayra dengan santai.


"Halo ... Arkha? Kok diam?" sahut Nayra dari sambungan telepon.


"Ah, nggak apa-apa. Aku cuma mau pamit. Aku harus ke Singapura sekarang. Mungkin untuk dua atau tiga hari."


"Kenapa mendadak sekali?"


"Ada sedikit masalah, sekarang aku mau ke bandara. Jaga diri kamu baik-baik, ya." Arkha seakan sudah tak ada semangat, masalah yang menimpa perusahaannya sudah membuatnya pusing, ditambah lagi masalah istrinya yang lebih mementingkan lelaki lain. Arkha memiliki raga Nayra, tapi tidak untuk hatinya. Ia tahu itu, sangat tahu jika hatinya untuk Zayn.


"Kamu hati-hati di jalan, ya. Sering-sering kasih kabar."


"Hem," jawab Arkha malas tanpa mengeluarkan kata dari mulutnya. Ia langsung menutup teleponnya lalu meneruskan perjalanannya yang diantar oleh sopir di perusahaannya.

__ADS_1


Bersambung....


Hari itu juga Arkha bergegas mengemas beberapa pakaiannya yang tersimpan di lemari kantornya. Sengaja ia menyimpan pakaian gantinya di kantor untuk incase jika ada hal yang urgent seperti sekarang.


Dia pergi ke Singapura seorang diri dengan perasaan tak menentu. Perusahaan yang bermasalah, ditambah rasa cemburu karena istrinya masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya.


Sepanjang perjalanan Arkha terus berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan perusahaan. Dia menatap awan melalui jendela pesawat di sebelahnya, manik coklat itu berkabut dikala tidak ada bahu untuk bersandar. Ingin sekali rasanya memejamkan mata sejenak guna menjernihkan otak yang sedang kacau.


Beberapa saat kemudian, pesawat mendarat di Changi Airport Singapura. Terlihat Reno sudah menunggunya di luar pintu kedatangan.


“Arkha!”


Arkha melangkah mendekati Arka dengan menarik koper hitamnya. “Bagaimana kondisi perusahaan?”


“Cukup buruk.”


“Baiklah, sebaiknya kita langsung ke sana.”


“Kamu tidak ingin istirahat lebih dulu?”


“Perusahaan lebih penting.”


Mereka bergerak menuju AM Advertising. Setibanya di sana, Arkha meminta semua karyawan untuk berkumpul di meeting room. Ruangan yang cukup luas untuk menampung seluruh karyawan di perusahaan tersebut.


“Kita meeting sekarang!” perintah Arkha pada seorang karyawan yang menyambutnya di pintu masuk.


Sebelumnya, semua karyawan sudah mendapat arahan dari Reno agar menunggu Arkha di lantai dasar, supaya lebih mudah untuk menuju ruang meeting yang berada di pintu utama dekat resepsionis.


Para karyawan berkumpul di ruang meeting sesuai dengan arahan bosnya. Arkha duduk di kursi kebesarannya dengan begitu tegang. Lelaki itu mengetatkan rahangnya, sesekali menarik napas panjang dan membuangnya kasar.

__ADS_1


“Berikan data laporan yang dibocorkan!”


Berkas itu sudah berada di tangan Reno sejak Arkha belum tiba di perusahaannya. Reno menyerahkan detail produk yang harusnya mereka luncurkan bulan ini, tetapi malah didahului oleh pesaing bisnisnya.


__ADS_2