Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Keras Kepala


__ADS_3

Orchid Resto


Nayra dengan semangat menyapa para karyawannya, ia begitu senang saat melangkahkan kakinya ke restoran itu. Tiba-tiba seseorang membuat fokus Nayra terganggu, ia memusatkan pandangannya ke sudut ruang, meja yang di isi hanya satu orang. Lelaki itu langsung berdiri menghampiri Nayra, karena wanita itulah yang ia tunggu sejak beberapa jam yang lalu.


"Rara, aku ingin bicara." Zayn sangat keras kepala, ia tak pernah bosan untuk mengejar cintanya yang sempat hilang. Bahkan sudah tiga jam ia menunggu di restoran itu, hanya untuk Nayra.


 


“Zayn, sudahlah jangan menggangguku terus," ucap Nayra dengan kesal.


"Aku berjanji, setelah ini, aku tidak akan mengganggumu lagi. Asal kamu memberiku kesempatan untuk berbicara sebentar saja."


"Baiklah, kita ke taman belakang!" ajak Nayra tanpa memandang wajah Zayn. Nayra berjalan di depan dan diikuti oleh Zayn di belakangnya. Beberapa karyawannya hanya melihat dan terus bergumam dalam hati karena bosnya berduaan dengan lelaki lain, siapa lelaki itu. “Kenapa Bu Nayra terlihat gelisah?”


Di taman belakang restoran, Nayra dan Zayn mengedarkan pandangannya pada alam yang indah, tak menatap satu sama lain. Namun sedetik kemudian, ia berada di hadapan Zayn.


"Rara ... aku sangat merindukanmu ...." Zayn dengan nada lirih berucap dan hanya dibalas tatapan kosong oleh Nayra. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.


"Selama ini, sekuat tenaga aku berusaha melupakanmu, Ra. Tapi semesta tak mengizinkannya. Sedetik pun kamu tak pernah hilang dalam ingatanku."


“Zayn, aku udah lupain kamu sejak dulu, dan kamu ... kamu juga harus lupain aku!”


“Rara, dengarkan aku dulu! Aku hanya ingin berbicara beberapa kata, setidaknya beri aku keputusan.”


“Keputusan apa? Semuanya sudah berubah, semesta tidak menakdirkan kita untuk bersama. Jadi kita sudahi saja, kita kubur masa lalu kita. Kita buka lembaran baru dengan pasangan kita masing-masing.” Nayra menjelArkhan dengan senyuman, tetapi senyuman itu dibarengi dengan bola matanya yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


“Ra, aku sangat mencintaimu, melebihi apa pun di dunia ini. Apa kamu mau hidup bersamaku dan meninggalkan suamimu demi aku? Aku janji, aku akan membuatmu bahagia, hanya akulah satu-satunya orang yang mencintaimu sedalam ini, bukan suamimu. Aku akan meninggalkan Dera detik ini juga kalau kamu mau. Kita mulai hidup baru, ya!"


"Kamu gila! Itu tidak akan mungkin terjadi."


"Kenapa tidak mungkin? Aku tau, kamu tidak pernah mencintainya, kan, Ra? Kamu pasti menggodanya agar dia menikahimu, kan? Atau karena dia kaya, hingga kamu nggak mau meninggalkannya?" Zayn memegang kedua bahu Nayra, ia tak dapat mengontrol emosinya saat Nayra menolaknya.


"Cukup!" teriak Nayra, air matanya lolos mendengar perkataan Zayn. Ia tidak menyangka lelaki yang ia simpan dalam hatinya tega berbicara kasar padanya.


Tamparan keras mendarat ke pipi Zayn, sepertinya saat ini Zayn sudah benar-benar gila, mengeluarkan kalimat yang membuat Nayra sakit hati.


“Jaga mulut kamu! Kamu pikir aku wanita apa, hah? Aku sangat mencintai suamiku, bukan kamu, dan aku bangga menjadi istrinya. Bahkan kamu sudah tidak ada dalam ingatanku! Aku menyesal, sangat menyesal pernah mengenalmu! Ini yang kamu bilang cinta? Menuduhku sebagai wanita penggoda demi sebuah harta? Cih!" Nayra berdecih lalu meninggalkan Zayn.


"Rara, tunggu! Aku minta maaf!"


Nayra pun melewati halaman samping, ia menghampiri Pak Hasan yang selalu stand by di pos satpam sambil mengobrol dengan temannya di sana. Rencana Nayra untuk mencari hiburan di restoran gagal hanya karena ulah Zayn.


"Baik, Bu."


Pak Hasan segera menuju kemudi dan mengendarai mobilnya. Dalam hati Pak Hasan bertanya, “Baru saja sampai sudah balik lagi ke rumah, Bu Nayra kenapa, ya, tiba-tiba nangis begitu?”


Zayn dengan cepat mengikuti mobil Nayra, ia melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia membunyikan klakson agar Nayra mendengarnya dan mau berhenti.


"Bu, sepertinya mobil belakang mengikuti kita."


"Biarkan saja, Pak, jangan hiraukan!" Nayra tampak marah, rasa sakit itu kembali menggerogoti hatinya. Ia sangat kecewa pada Zayn untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, terdengar suara dentuman  keras, seperti kecelakaan. Pak Hasan refleks memberhentikan mobilnya di tepi jalan, ia lalu melihat ke spion yang memantul kejadian di belakangnya.


"Ada apa, Pak?" tanya Nayra pada Pak Hasan.


"Bu ... sepertinya mobil yang mengikuti kita tadi kecelakaan, menabrak pohon besar." Pak Hasan menoleh ke belakang menginfokan pada sang Nyonya.


"Apa!" Nayra terkejut, ia segera membuka pintu mobilnya dan berlari menuju tempat kejadian di mana Zayn kecelakaan.


“Zayn, Zayn!” teriak Nayra begitu ia melihat Zayn di keluarkan oleh beberapa orang dari mobilnya yang mengeluarkan asap.


Tak sedikit orang yang berkerumun untuk melihat dan menolong kecelakaan tersebut. Nayra begitu khawatir dengan kondisi lelaki yang pernah menjadi pujaan hatinya itu. Walaupun ia baru saja memberi ketegasan pada Zayn dan menamparnya, tetapi hatinya berkata lain, hatinya memang lemah. Ia tidak bisa membiarkan Zayn celaka. Ia hanya berharap lelaki itu selamat dan keadaannya akan baik-baik saja.


Nayra langsung berteriak memanggil Pak Hasan untuk segera menolongnya, membawa ke rumah sakit. Beberapa orang membantu mengangkat Zayn yang tak sadarkan diri. Kepalanya mengeluarkan darah segar yang mengucur di bagian pelipis karena benturan yang begitu keras.


Nayra menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya berDerai, lolos membanjiri pipinya. Ia begitu syok, ia pun segera berlari membuka pintu mobil bagian belakang dan masuk terlebih dahulu, agar ia bisa memangku kepala Zayn.


Di dalam mobil, tak henti-hentinya ia menangisi Zayn, sesekali ia mengelus rambut dan wajah Zayn penuh kasih. Tak peduli tangannya kini berlumuran darah milik Zayn, saat ini di pikirannya hanya rasa bersalah dan kasihan melihat mantan kekasihnya itu lemah tak berdaya. Wajahnya terlihat pucat, sesaat ia terkenang akan masa lalu bersamanya kala itu.


“Wajah ini, pernah menjadi potret istimewa di hati dan pikiranku, tangan ini juga pernah menggenggam dan menguatkanku saat aku terjatuh, dan tubuh ini ... pernah menjadi sandaran saat aku bahagia maupun sedih. Tapi, semua hanya tinggal kenangan. Mengertilah, Zayn. Namamu masih tersimpan di lubuk hatiku yang terdalam, rasa ini sungguh haram untuk kita miliki. Tiada harapan lebih, yang kumau ... aku cukup tau kamu bisa hidup bahagia dengan istrimu, begitu juga denganku.” Hati Nayra terus berbicara.


Isakannya semakin membuatnya sesak, netranya tak berkedip melihat Zayn yang terpejam di pangkuannya.


“Zayn, sadarlah! Aku di sini, bersamamu. Tolong jangan membuatku takut.” Zayn terus menjatuhkan buliran hangat dari matanya.


“Maaf Bu, kita ke rumah sakit mana?” tanya Pak Hasan yang sedari tadi berkonsentrasi mengendarai mobilnya.

__ADS_1


“Terserah Pak, mana saja yang terdekat,” jawab Nayra, fokusnya masih pada Zayn. Tangan satunya menggenggam erat tangan Zayn.


__ADS_2