Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Kembalinya sang Mertua


__ADS_3

“Apa sekarang kamu lagi sibuk, Fel?”


“Udah nggak kok, kan bentar lagi makan siang. Kenapa?”


“Aku pingin cerita,” jawab Nayra singkat.


“Cerita apa sih? Bikin penasaran deh!” Felly mendudukkan badannya di sebelah Nayra.


"Nanti aja ceritanya, sekarang aku mau ke dapur. Aku mau bantu-bantu masak." Nayra berdiri dan berlenggok berjalan menuju dapur, meninggalkan sahabatnya yang berambut pendek ikal itu.


"Woy! Malah pergi sih, tadi katanya mau cerita."


"Nanti aja, kamu makan siang dulu sana!" perintah Nayra sambil berlalu, ia mengibarkhan tangannya.


Jam makan siang di restoran Nayra cukup padat, banyak konsumen yang berdatangan di sana. Namun, tak sedikit pun para karyawan kewalahan untuk melayani pelanggan.


Pukul 14.00, Nayra melepas celemeknya. Ia terlihat lelah, keringatnya bercucuran di anak rambutnya. Ia sesekali mengusap keringatnya dengan punggung tangannya.


Nayra beristirahat sejenak, merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang empuk, cukup membuat badannya rileks. Meskipun Nayra seorang bos, ia bukanlah tipe pemalas, bahkan sebisa mungkin ia ingin selalu turun tangan langsung melayani pelanggannya.


"Nih, gue buatin jus mangga, seger deh!" Felly masuk ke ruangan Nayra sambil membawa nampan yang berisi satu gelas jus mangga.


Nayra beringsut, membenarkan posisi duduknya.


"Ah, makasih say, tahu aja kalau aku lagi haus!" Nayra langsung menerima dan meneguk jus mangga itu sampai setengah gelas.


"Buset! Haus, Neng? Pelan-pelan minumnya, gue ga bakal minta kok," celoteh Felly saat menatap heran Nayra yang minum dengan rakus.


"Dah, sekarang cepetan! Tadi mau cerita apa?" tanya Felly penasaran.


"Oh, jadi kamu buatin aku jus buat nyogok aku supaya jadi cerita?" seru Nayra, padahal dia sudah tidak berselera untuk mengobrol, ia merasa sangat kelelahan.


"Lah tadi, kan lo yang ngomong sendiri mau cerita, gue cuma ngingetin."

__ADS_1


"Udah males, napas udah habis, capek. Besok ajalah!" tukas Nayra, ia kembali merebahkan tubuhnya sejenak.


"Yaudah, gue mau balik kerja. Bye!" Tanpa ada jawaban dari Nayra, Felly pergi meninggalkan sahabatnya itu.


Sore hari, hiruk pikuk kota begitu Arkhai. Kendaraan yang padat memenuhi jalan raya yang di lewati Arkha saat ini. Ia harus lebih bersabar untuk mengemudi sendiri tanpa sopir, karena Pak Hasan harus menemani Nayra ke restoran. Kemacetan yang selalu terjadi saat jam pulang kantor sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun, Arkha terus menggerutu tak karuan di dalam mobil.


Setelah seharian ia bekerja, ia tak sabar ingin cepat pulang dan bertemu istri tercintanya. Baginya, menahan rindu tak bertemu selama delapan jam cukup membuatnya menggebu-gebu ingin menemui istrinya.


Kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya ia sampai di depan rumah. Nayra yang selalu menunggu kepulangan suaminya, ia langsung menuruni tangga ketika mendengar suara mobil Arkha tiba. Dengan sigap ia menyambut suaminya itu. Bahkan asisten rumah tangganya tak pernah membukakan pintu sama sekali. Nayra hanya berperan semaksimal mungkin sebagai seorang istri.


“Assalammu alaikum, Sayang,” ucap Arkha saat pintu dibuka oleh Nayra.


“Waalaikum salam.” Wanita itu mencium punggung tangan suaminya yang dibalas dengan kecupan lembut di kening oleh Arkha.


Mereka kemudian mengayunkan langkahnya satu persatu menaiki tangga menuju kamar. Tangan kanan Arkha melingkar di pinggang sang istri, sementara tangan kirinya menenteng tas kantor yang berisi berkas dan laptop.


Sambil berjalan menaiki tangga, mereka berbincang sekedar menanyakan perihal perkerjaan masing-masing sebagai bentuk perhatian antara sepasang suami istri.


"Arkha, aku siapin air untuk mandi dulu, ya," ucap Nayra seraya berlalu ke kamar mandi.


"Iya Sayang, terima kasih."


Nayra mulai mengisi air di bath up, sambil menunggu air itu penuh, ia duduk di ujung bath up sambil mengayunkan tangannya ke air tersebut. Pikirannya tentang Zayn tiba-tiba terbesit begitu saja. Bayangan lelaki itu terus ada di pikirannya.


“Kapan kamu sadar, Zayn. Aku terus gelisah memikirkanmu,” batin Nayra.


Ia kemudian mengecek suhu air ketika hampir memenuhi bath up. Setelah dirasa cukup, ia menuangkan bath bomb ke dalam bath up tersebut. Wangian aroma terapi dari bath bomb membuatnya tersentak dan melupakan sesaat pasal Zayn.


Nayra lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, sambil berkata pada suaminya, "Kak, airnya sudah siap."


Tanpa ada jawaban, Nayra kemudian menghampiri Arkha yang tadi sedang duduk di sofa. Ternyata, Arkha sedang asyik menerima telepon di balkon, pintu balkon itu sedikit terbuka, sehingga Nayra mampu mendengar apa yang sedang suaminya itu bicarakan dengan seseorang di ponselnya. Ia mendengar suaminya itu seperti memanggilnya 'Ma'.


Nayra mengernyitkan dahinya. “Ma? Apa Arkha sedang berbicara dengan Mama? Mudah-mudahan kali ini tidak ada masalah,” batin Nayra.

__ADS_1


Pikiran Nayra seketika berubah menjadi kalut, seperti akan menerima kabar yang tidak baik setelah ini.


Ya, usia dua tahun pernikahan dan belum juga mempunyai momongan menjadi masalah utama bagi ibu mertuanya.


Nayra selalu tertekan saat mama Arkha itu menyuruhnya agar cepat hamil, sedangkan kehamilan itu adalah rezeki pemberian dari Yang Maha Kuasa, dia tak pernah tahu kapan ia akan mendapatkan keturunan walaupun mereka sudah berusaha.


Nayra lalu duduk di sofa sambil menunggu Arkha selesai menerima teleponnya. Dengan raut wajah cemas, ia memandang kosong ke arah bunga hias yang ada di sudut kamar.


Pikirannya tentang beberapa hari lalu menghantuinya, saat mertuanya, Fira, mencaci maki dirinya tanpa sepengetahuan Arkha. Saat itu juga Nayra merasa gagal menjadi istri. Ia tak berani bercerita pada suaminya karena ia takut jika suaminya malah berburuk sangka pada dirinya.


"Sayang ...," panggil Arkha, suaranya membuyarkan lamunan Nayra.


"Ah iya, As!" Ranua sedikit terkejut saat menyadari suaminya membelai pipinya.


"Kok melamun, kenapa?"


"Nggak apa-apa, kok. Tadi, siapa yang telepon?"


"Mama, Sayang. Kita di suruh ke rumah buat makan malam, kamu mau, kan?”


“Kapan?”


“Malam ini. Apa kamu keberatan?”


“Nggak kok. Aku hanya terkejut saja, mendadak sekali. Bahkan aku belum menyiapkan apa-apa untuk oleh-oleh nanti, masa nggak bawa apa-apa," dalih Nayra, padahal ia hanya berharap agar suaminya itu menggagalkan rencana makan malamnya di rumah mertuanya nanti.


"Kalau itu, nanti kita mampir saja ke toko roti sayang, kita beli red velvet kesukaan mama.


"Baiklah kalau begitu," sahut Nayra dengan nada putus asa.


 


"Ar, itu airnya sudah siap. Cepetan mandi! Nanti keburu dingin lagi." Nayra mengalihkan pembicaraannya, ia merasa sangat gundah dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2