Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Ketakutan Dera


__ADS_3

Arkha mengetuk bolpoin di tangannya ke atas meja. “Kita buat produk baru, urus dulu cara peluncuran iklan terbaru. Setelahnya baru kita cari solusi cara menangani pengkhianat itu. Apa kalian ada ide?” tanya Arkha, netranya menatap satu-persatu karyawan yang duduk mengelilingi meja besar itu.


Setiap karyawan hanya saling melirik, tidak ada yang berani menyampaikan pendapat karena suasana begitu tegang.


“Apa hanya ini cara kerja kalian, hah?” Arkha melempar kasar berkas ke arah meja dan para karyawan hanya menunduk. “Aku membayar mahal kalian untuk bekerja dan berpikir. Bukan hanya menjalankan perintah!” Arkha berdiri, menunggu apakah ada yang bisa memberinya jawaban. Namun, nihil, semua hanya membisu dan terpaku.


Arkha tak pernah semarah ini sebelumnya, bahkan nada tinggi pun tak pernah di dengar oleh karyawannya. Kesalahan ini bukan hanya berakibat buruk pada perusahaannya, tetapi bisa saja ia melakukan pemutusan hak kerja pada karyawannya.


Arkha kembali duduk di kursi, dia melonggarkan dasi yang terpasang di bagian leher kemejanya. “Cari ahli programmer! Kita harus menangkap pelaku itu. Dan untuk proyeknya, buat rencana lain, buat iklan dengan reklame tiga dimensi.”


"Bagaimana dengan dewan direksi? Mereka pasti akan heboh dengan harga saham yang terus menurun."


"Undang mereka semua datang, kita akan mengadakan rapat sore ini!" perintah Arkha pada sekretarisnya.


"Baik, Tuan."


Arka secara tiba-tiba mengusulkan pendapatnya. "Ram, aku ada kenalan ahli programmer. Akan kucoba hubungi dia sekarang." Tanpa menunggu jawaban Arkha, Arka berdiri dan meninggalkan ruangan itu.


Saat lelaki itu hampir sampai di ambang pintu, Arkha memanggil, "Reno, tunggu dulu! Rencanakan semua dengan matang. Bila perlu bawa dia ke hadapanku. Aku akan menilai bagaimana cara dia bekerja."


"Baiklah, aku mengerti."


Arkha menyandarkan tubuhnya, rasa penat mulai menggelayuti matanya. Ia memijit keningnya yang terasa berdenyut. Masalah ini benar-benar berat, jika ia salah melangkah sedikit saja. Perusahaan ini akan terancam bangkrut.


Para karyawan masih duduk terdiam dengan berkas masing-masing di depannya. Arkha mulai menyampaikan beberapa pesan penting dan mengatur strategi untuk mempertahankan perusahaannya. Paling utama, ia membuat peraturan penting agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.


Bersambung...


Pemandangan alam yang begitu luas terlihat dari balkon rumah sakit. Manik hitam nampak sayu tak lelah menatap awan biru yang, dihiasi berbagai gambar gedung tinggi di sana.

__ADS_1


Dera masih tak bosan melihat lukisan alam tersebut. Sebenarnya hatinya kini memang sedang gundah, pikirannya juga tak bisa berhenti memikirkan Zayn.


Menunggu dan terus berharap agar suami terkasihnya sembuh bukanlah hal yang mudah untuk Dera. Ia memang ikhlas dan sangat telaten mengurus Zayn, tetapi beban pilu seolah terus menggerogoti saat ia memandang wajah lelaki itu. Hatinya kian tak sanggup. Rasa kasihan dan tak tega selalu membuatnya sesak ketika di dalam ruangan penuh alat itu.


Apalagi, Pak Wijaya, paman dari Zayn tak bisa selalu menggantikan Dera untuk berjaga, karena ia juga harus mengurus restoran yang hampir turun omset sejak Zayn terbaring.


Sesekali Dera menghapus air yang keluar dari mata indahnya itu. Mencoba tegar walau tak ada tempat untuk mengadu. Mencoba kuat walau tak ada yang merangkul. Ia hanya butuh seseorang yang bisa menyemangatinya. Dera merasa, saat ini ia hanya sendiri dan tak ada yang mendukungnya untuk terus berjuang demi kesembuhan Zayn.


"Dera, apa dokter tidak menyampaikan apa pun soal Zayn? Aku sangat kasihan melihatnya," tanya Nayra pada Dera setelah keluar dari ruang ICU.


"Ah, apa, Ra?" Dera terkejut dengan kehadiran Nayra yang tiba-tiba.


"Kamu menangis?" Nayra memperhatikan wajah dan mata Dera yang basah.


"Nggak apa-apa kok, aku hanya ...." Dera tak meneruskan ucapannya. Ia bingung harus berkata apa.


"Dera, kita duduk di sana, yuk!" ajak Nayra, ia merangkul lengan Dera.


"Aku lelah, apa aku akan sanggup bertahan. Aku nggak tahu kapan Zayn akan sadar. Aku juga tidak tahu sampai kapan aku mampu berjuang sendirian."


"Dera, jangan berbicara seperti itu. Jangan putus asa, aku akan ada menemanimu. Mendoakan Kak Zayn agar segera cepat pulih."


"Terima kasih. Tapi aku sebenarnya masih penasaran. Kalau boleh jujur, aku sempat takut saat kamu muncul kembali si kehidupan Zayn," ungkap Dera dengan tarikan napas panjang.


"Maksud kamu?"


"Aku sangat mencintai Zayn, Ra. Dan kehadiranmu ... aku takut kamu akan merebutnya dariku," jelasnya lirih.


"Dera, itu tidak akan mungkin terjadi. Kamu lihat 'kan, sekarang statusku sebagai istri Kak Arkha. Mana mungkin aku akan menginginkan lelaki lain?" sahut Nayra, ia menatap lekat ke arah Dera yang sempat berpikiran buruk tentangnya. Walaupun ia sadar, perasaan itu masih ada di hati Nayra untuk Zayn.

__ADS_1


"Lalu, jika suatu saat nanti Zayn sadar. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku!" Nayra mengerutkan dahinya. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Aku tidak akan merebut Zayn. Sekali lagi aku tegaskan ya, Dera, aku hanya ingin melihat Zayn sembuh, itu saja. Setelah itu, aku akan pergi dari hidup kalian, jadi kamu tidak perlu takut, oke?"


"Aku harap, kamu bisa pegang ucapanmu, Ra." Dera berucap tanpa melihat Nayra. Fokusnya hanya memandang kosong ke depan.


"Tentu saja."


Ada semburat kesedihan dari raut wajah Nayra, seolah ia tak bisa memegang ucapannya kelak saat Zayn kembali sehat.


***


Suasana rumah sakit terlihat saat jam makan siang. Begitu juga di sepanjang koridor terbuka di lantai dasar yang juga Arkha penghuni. Setiap sisi koridor itu terdapat berbagai tanaman dan rumput hias nan hijau. Membuat setiap orang yang melewatinya sejenak ingin duduk di sekitar sana untuk sekadar menyegarkan pikiran.


Tak hanya perawat yang menikmati istirahat siangnya dengan berduduk santai, tetapi juga banyak para pengunjung yang istirahat di sana setelah lelah menjaga pasien yang rawat inap.


Nayra mengayunkan langkahnya melewati sepanjang koridor untuk menuju halaman depan, tempat untuk penjemputan, keluar masuk mobil.


"Halo, Pak Hasan sudah di depan? Kalau sudah, saya keluar sekarang," ucap Nayra pada sambungan telepon yang terhubung. Ia masih berada di dalam gedung rumah sakit itu.


"Iy, Bu. Saya sudah di depan sekarang," jawab Pak Hasan sambil mengarahkan kemudinya untuk mengarahkan mobil ke area drop out.


Nayra mempercepat langkahnya agar segera sampai ke depan.


Tanpa menunggu lama, Pak Hasan datang dengan tepat. Nayra pun langsung memasuki mobilnya.


"Pak, kita ke restoran, ya. Sudah lama sekali aku tidak ke sana, kangen juga rasanya," ujar Nayra.


Ia membenarkan rambut dan baju yang sedikit berantakan. Mengatur posisi duduknya agar nyaman. Atas perintah Arkha, Nayra tidak dibiarkan untuk mengemudi sendiri walaupun ia bisa. Apalagi dia baru sembuh dari operasi pengangkatan kistanya. Itu membuat perhatian Arkha semakin besar padanya.

__ADS_1


.


__ADS_2