Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Tamparan dan Makian


__ADS_3

Sementara itu, Arkha tengah berjalan ke lantai atas. Ia hendak ke kamarnya yang jarang ditiduri sejak dirinya menikah dengan Nayra, tentu saja karena dia sudah membeli rumah sendiri. Kamar itu selalu kosong, tetapi asisten rumah tangganya setiap hari selalu membersihkannya atas perintah nyonya besarnya itu.


Namun, Saat Arkha melewati kamar Fira, ia memberhentikan langkahnya, Arkha memicingkan matanya dan membuka telinganya lebar-lebar karena ia mendengar sesuatu yang mengejutkan. Arkha menempelkan telinganya ke pintu kamar tersebut, suara wanita paruh baya itu semakin keras memekik telinga Arkha.


"Perempuan macam apa kamu, hah? Dari awal pun aku sama sekali tak merestui pernikahan kalian. Kamu hanya seperti benalu yang hidup di kesuksesan anakku!"


"Ma—maafkan aku Ma, tapi aku sama sekali tidak punya pikiran seperti itu pada Arkha. Aku menikah dengannya karena dia—"


Belum selesai Arkha berbicara, kalimatnya sudah dipotong oleh Fira.


"Karena apa, hah? Karena kamu ingin menikmati harta anakku, kan? Kamu ingin menjadi orang kaya instan dan Nyonya, begitu?”


 


Seketika tak ada lagi suara Nayra di pendengaran Arkha, akhirnya Arkha membuka pintu itu dengan kasar. Wajahnya sudah merah padam karena terbakar emosi. Ia sama sekali tidak menyangka wanita yang melahirkannya, wanita yang sangat ia cintai, ternyata adalah sosok yang begitu jahat. Hanya gara-gara ia tidak menyukai Nayra, ia menghina dan menyaktinya.


 


"Ma!" bentak Arkha, seketika wanita itu terkejut dan menoleh ke arah pintu. Arkha langsung menghampiri Nayra yang berdiri lemah, menangis dengan isakannya yang semakin mengiris hati Arkha.


 


"Apa yang Mama lakukan pada istriku?" seru Arkha dengan nada tinggi.


 


"Arkha, Sayang ... Mama cuma ...."


 

__ADS_1


"Sekarang Arkha tahu, ternyata Mama tak sebaik yang Arkha pikir.”


 


"Mulai sekarang, aku tidak akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi, sampai Mama mau menerima Nayra dan bersikap baik padanya."


 


Arkha terus membela sang istri, tak peduli jika ibunya menangis sekalipun. Biasanya lelaki itu tidak akan tega melihat air mata Fira menetes. Namun, kali ini dia lebih acuh karena sikap mamanya yang keterlaluan. Dia melangkah dengan pasti seraya menggandeng erat tangan Nayra.


Dua tahun lalu, saat Arkha meminta orang tuanya untuk menikahkannya dengan Nayra, Fira memang tak pernah setuju karena Nayra bukanlah dari keluarga yang berada seperti dirinya, ia hanya menuruti Arkha yang bahkan keinginannya tak bisa dibantah pada saat itu—memilih menikahi Nayra daripada harus menikahi model terkenal.


Fira sudah lama tinggal di Singapura bersama sang suami karena mengurus perusahaan. Oleh sebab itu ia jarang sekali bertemu dengan Nayra. Hanya sempat bertemu beberapa kali sejak mereka menikah, dan selalu meninggalkan kesan buruk pada Nayra.


“Sayang, kamu tidak apa-apa? Sebaiknya kita pulang saja.” Arkha merangkul istrinya lalu mengajaknya keluar dari kamar Fira.


“Arkha, jangan dulu pergi! Sayang, kamu dengar dulu penjelasan Mama. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Arkha!” teriak Fira dengan air mata yang mengalir. Entah apakah itu benar-benar air mata penyesalan atau hanya kepura-puraan. Fira terus berteriak memanggil Arkha walaupun tak ada respons dari anak lelakinya itu.


“Arkha, ada apa ribut-ribut?” tanya Adipati penasaran, ia curiga ada sesuatu yang terjadi pada Istri dan anaknya itu, apalagi Adipati juga melihat wajah murung menantunya, pipinya memerah dan basah dengan air matanya.


"Mama sudah keterlaluan sama Nayra, Pa,” ucap Arkha memperlihatkan emosinya.


“Apa yang Mama kamu lakukan?” tanya Adipati.


“Mama mencaci maki Nayra, bahkan menamparnya juga. Benar-benar kelewatan!”


“Kenapa, ?” Adipati mengernyitkan dahinya, ia merasa heran juga kenapa istrinya berani menampar menantunya.


“Sebaiknya Papa tanya langsung sama Mama, kami pamit mau pulang dulu, Pa”

__ADS_1


“Ya sudah, kalau begitu hati-hati,” Adipati menepuk bahu Arkha. Nayra, maafkan sikap Mam, ya?” lanjutnya yang hanya dijawab anggukan oleh wanita itu.


Arkha dan Nayra pun bergegas keluar dari rumah itu dan menaiki mobilnya, membelah kota yang yang masih Arkhai walaupun tidak ada kemacetan seperti di sore hari atau pagi hari.


“Sayang, maaf ya, aku baru menyadari sikap mama yang keterlaluan sama kamu. Sejak kapan mama seperti itu terhadapmu? Kenapa tidak pernah bercerita padaku?” tanya Arkha saat berada di dalam mobil.


“Sudahlah, Ar. Aku nggak apa-apa, lagi pula aku cukup lega juga akhirnya kamu tahu sendiri. Aku hanya takut kalau aku cerita, kamu tidak mempercayaiku, atau kamu akan membenci mama. Aku nggak mau itu terjadi.”


“Sayang, apa pun yang kamu katakan aku pasti akan mempercayainya. Jadi jangan pernah kamu berpikir aku akan meragukanmu."


Arkha tak terlalu fokus dengan kemudinya, ia selalu memikirkan apa saja yang sudah mamanya lakukan pada istri tercintanya itu. Apalagi Nayra enggan bercerita kepadanya sebelumnya. Bukan saat yang tepat untuk menanyakan hal itu sekarang, apalagi Nayra sedang tidak baik-baik saja.


Arkha sama sekali tak menyangka wanita yang melahirkannya menjadi sosok yang kejam. Pikirannya juga benar-benar kalut saat ini.


Arkha menggenggam tangan Nayra dengan tangan kirinya agar sedikit bisa menenangkan hatinya.


Lelaki itu memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang besi yang tinggi di rumahnya. Satpam yang berjaga dengan sigap membukakan pagar saat mengetahui kedatangan tuannya.


Keduanya segera naik ke kamar tanpa ada perbincangan sepatah kata pun. Mereka saling terdiam. Arkha hanya merasa ia bersalah pada istrinya, karena pikirnya, ia seperti memberi peluang mamanya untuk menyakiti istrinya. Padahal Arkha sama sekali tidak tahu tabiat buruk ibu kandungnya itu.


Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama, Nayra segera menaiki ranjang untuk membaringkan tubuhnya. Sejak tadi ia hanya terdiam, meskipun Arkha mencoba mengajaknya bicara, ia tak begitu menanggapi dan menjawab seperlunya. Mungkin hatinya tengah lelah dan batinnya tersiksa.


"Sayang, sini aku obati dulu pipinya. Masih sakit?" tanya Arkha menghampiri Nayra sambil memegang krim ditangannya. Ia ingin mengoles bekas tamparan di pipi Nayra yang dilayangkan mamanya tadi.


"Nggak usah, Ar. Udah nggak apa-apa kok, aku mau langsung tidur aja," jawab Nayra seperti acuh.


Arkha pun akhirnya tak mau memaksa, ia kemudian menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu ia menaiki ranjang menyusul Nayra, ingin sekali rasanya Arkha memeluk sang istri. Akan tetapi, Nayra seperti mengabaikannya, ia hanya butuh ketenangan saat ini.


“Nayra, sudah ya ... jangan sedih lagi,” ujar Arkha sambil menyingkirkan anak rambut Nayra yang menutupi wajah cantiknya.

__ADS_1


Lelaki itu mengusap lembut lengan istrinya yang sedang di posisi meringkuk membelakanginya. Sebenarnya, Nayra juga merasa kasihan pada suaminya yang sejak tadi ia diamkan. Padahal kalau dipikir-pikir, Arkha sama sekali tidak salah, dia hanya tak tahu apa yang terjadi sebenarnya antara istri dan mamanya.


__ADS_2