Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Menemui Nayra


__ADS_3

Hubungan Zayn dengan istri bukanlah hubungan yang baik layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Mungkin Nayra sempat berpikir jika keluarga kecil Zayn adalah keluarga yang bahagia.


Saat itu, belum sempat Zayn menjelArkhan semuanya, Nayra sudah terlanjur pergi dan sampai sekarang dia selalu menghindar dari Zayn. Bahkan melihat wajah mantan kekasihnya pun, wanita itu enggan.


“Apa aku terlalu hina? Apa aku memang pantas di sebut bajingan?” Zayn memusatkan pandangannya pada tengah danau yang airnya terlihat tenang.


Kejadian saat di beberapa hari lalu, Zayn memilih jujur pada Nayra semata-mata untuk mencari jalan keluar bersama. Namun, reaksinya ternyata tak sesuai dengan apa yang diharapkannya.


Tentu saja, bodoh sekali jika Zayn masih mengharapkan reaksi baik dari Nayra, sudah pasti dia akan sangat membenci kejujurannya. Wanita mana yang tidak benci dan kecewa ketika ia di bohongi.


“Andai saja, kamu masih di sampingku saat ini, Ra. Kita tentu akan sangat bahagia, tidak merasakan sakit hati satu sama lain seperti sekarang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Ra. Aku juga tau, dalam lubuk hatimu yang terdalam, kamu juga pasti masih menyimpan rasa itu untukku. Aku bisa merasakannya.


Zayn berpikir, apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia ingin sekali mendatangi Nayra di rumah sakit. Akan tetapi, dia juga tahu akan respons yang diterima. Nayra pasti mengusirnya langsung.


"Permisi, boleh saya duduk di sini, Bang?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba menghampiri Zayn dan ingin duduk di sebelahnya.


"Silakan!" jawab Zayn dengan raut wajahnya yang dingin dan acuh.


"Abang, lagi patah hati, ya?" tanya wanita itu dengan suara yang dibuat secentil mungkin.


"Bukan urusanmu!"


"Si Abang, jangan galak-galak, nanti gantengnya ilang loh," ucapnya dengan menggoda, ia mencolek pipi Zayn dengan jari telunjuknya.


Zayn menatap tajam wanita asing itu, betapa terkejutnya ia melihat sosok wanita jadi-jadian di depan matanya, dengan raut wajah kesal setengah geli, ia segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Percuma jika meladeni wanita jadi-jadian tersebut.


Ia lalu bergegas meninggalkan wanita itu, maksudnya si lelaki tersebut. Entah, berjenis apa dia sebenarnya.

__ADS_1


"Ada saja godaannya ... nggak tau apa pikiran lagi kacau!" Dia pun gegas segera meninggalkan tempat itu.


Pagi yang cerah mengawali kegiatan Zayn di restoran. Kali ini, ia harus lebih fokus bekerja, mengecek dan menyelesaikan semua laporan akhir bulan. Beberapa berkas menumpuk di meja kerjanya, sesekali ia menatap laptop di depannya, jarinya tak berhenti menari di atas jajaran huruf di keyboard-nya. Setelah semuanya beres, ia berniat akan merampungkan semua permasalahannya dengan Nayra, ia harus mencari jalan keluar.


“Aku tidak bisa terus seperti ini. Rasanya sungguh menyiksa jiwa dan ragaku, membuatku tidak bisa berkonsentrasi. Aku harus kembali menemui Nayra.”


Beberapa jam kemudian, Zayn bergegas menuju ke ruangan pamannya untuk menyerahkan beberapa berkas laporan tentang restoran.


“Paman, ini semua laporannya sudah aku selesaikan. Apa aku boleh izin cuti?” Zayn duduk di kursi depan meja kerja Irwan.


“Mau ke mana kamu, Zayn?” tanya Irwan penasaran. Irwan adalah paman Zayn yang juga pemilik Lova Resto yang cukup besar itu.


“Aku mau menyelesaikan masalah dengan temanku, Paman."


 


“Tidak Paman, terima kasih. Ini hanya masalah sepele," jawab Zayn berbohong agar pamannya tiaak masuk campur dengan urusan pribadinya.


Tidak ada satu orang pun yang mengetahui hubungan Zayn dengan Nayra, mustahil jika pamannya akan ikut membantunya, yang ada dia akan tahu yang sebenarnya. Itu hanya akan memperkeruh suasana.


“Ya sudah kalau begitu kamu boleh pergi sekarang. Tapi ingat ya, jangan terlalu lama. Kalau masalahnya sudah selesai, cepatlah kembali," pesan sang paman.


“Iya, Paman. Zayn pergi dulu."


“Iya, hati - hati di jalan.”


Zayn pun menuju rumah sakit. Namun, sesampainya di sana—di ruangan Nayra. Dia sama sekali tak menemukan keberadaan wanita itu. Kamar tersebut sudah berganti pasien saat dia mengetuk dan dibukakan oleh orang lain.

__ADS_1


Wajah lelaki itu tampak pucat seketika dia kemudian lari menuju pusat informasi untuk mencari dan memastikan keberadaan Nayra namun ternyata Nayra sudah tidak dirawat di rumah sakit tersebut beraninya sudah pulang. Zayn mengusap kasar wajahnya dan menjambak rambut dia tampak frustrasi, lelaki itu terduduk lemas di kursi tunggu di dekat koridor rumah sakit. Zayn akhirnya memutuskan untuk pergi dan segera mencari keberadaan Rani.


Tujuan pertamanya adalah tempat kos Nayra. Dia menanyakan pada teman Nayra di sana. Berharap, salah satu dari mereka mempunyai alamat Nayra di kampungnya. Setelah beberapa menit ia menanyai satu persatu penghuni kos, hasilnya nihil. Ternyata tak satu pun dari mereka mengetahui rumah Nayra.


Zayna  mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalanan yang padat membelah kota. Pikirannya semakin kalut ketika ia tidak mendapatkan hasil sedikit pun. Zayn membawa motornya tanpa tahu ke mana dia harus pergi mencari Nayra


Tiba-tiba, dalam perjalanannya, ia teringat satu hal penting yang ia lupakan sejak tadi.


"Ah, bodoh sekali aku! Kenapa tidak dari dulu aku melihat CV-nya ketika melamar di restoran? Di sana pasti tertera alamatnya. Buang-buang waktu saja!" umpat Zayn pada dirinya sendiri. "Sepertinya alam mendukungku untuk bertemu kembali dengan Rara." Zayn mengukir senyum sambil memutar balik motornya dan segera kembali lagi ke restoran untuk mengecek data Nayra.


Sesampainya di depan restoran.


“Loh, Zayn! Kok balik lagi?” tanya Irwan yang melihat Zayn memasuki restoran sambil berlari.


“Iya, Paman. Ada yang tertinggal. Aku masuk dulu, ya!”


“Ya sudah, sana!” sahut Irwan yang sedang berdiri di meja kasir.


Zayn berlari menuju ruang kerjanya, dia ingat betul di mana ia menyimpan berkas-berkas para karyawan. Ada ratusan map coklat yang tersusun rapi di rak lemari paling ujung.


Dengan sabar, Zayn mencarinya satu persatu dengan sangat teliti. Setelah beberapa menit mencarinya, akhirnya map yang bertuliskan nama 'Nayra Zafira' ia temukan. Secepatnya, Zayn membuka lalu menulis alamat Nayra di sebuah kertas kecil yang akan ia bawa.


“Ra, aku akan segera datang. Tunggu aku!" gumam Zayn.


Zayn melangkahkan kakinya dengan mantap, berjalan dengan senyum lega yang menenangkannya. Ia lalu segera berpamitan pada sang paman.


Kurang lebih tiga jam, Zayn menempuh perjalanan untuk sampai ke rumah Nayra. Hanya berbekalan nyali dan tekat, ia memberanikan diri jika ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang sudah menyakiti Nayra secara batin.

__ADS_1


Rumah sederhana yang menghadap persis ke jalan itu membuat Zayn terpaku sesaat. Teras yang luas dengan berbagai tanaman di sekelilingnya. Bukan rumah yang besar atau mewah, tetapi cukup membuat nyaman para penghuni di dalamnya. Tanpa ragu dan dengan keyakinan hati, Zayn langsung memarkirkan motornya di halaman rumah itu, matanya tak berhenti menatap ke teras sambil melepas helmnya.


__ADS_2