
Zayn pun pergi mengantar ke sekolah Kania terlebih dahulu sebelum ia menuju restoran.
Sementara itu, Dera berlari menuju kamarnya. Ia tampak semangat mencari gaun yang akan dipakainya nanti, di acara Grand Opening di kafe milik teman Zayn.
"Aduh, pakai yang mana, ya? Bingung banget, semuanya bagus. Sudah lama aku tidak memakai gaun ini," gumamnya. Ia menimbang-nimbang gaun di tangannya yang ia keluarkan dari lemari.
"Apa aku harus pakai yang ini? Tapi terlalu seksi, Zayn pasti tidak menyukainya." Dera menempelkan gaun berwarna silver yang terbelah bagian paha, bagian punggungnya terbuka, seperti sundel bolong.
"Atau yang ini aja deh." Ia terus berbicara sendiri di depan cermin sambil menempelkan satu persatu gaun ke tubuhnya.
Saat mengantar Kania, Zayn terus terbayang wajah Nayra. Ia masih penasaran dengan wanita itu sejak terakhir kali berjumpa. Keinginannya untuk bertemu Nayra lagi semakin menggebu. Ia lalu berpikir sesaat. “Apa sebaiknya aku mencarinya di restoran kemarin? Setauku, dia hanya makan di sana. Apa mungkin dia akan kembali lagi? Argh! Rara ... kau membuatku gila!” Zayn mengumpat dalam hati.
Setelah mengantar putri kecilnya, Zayn memilih untuk membanting setir menuju restoran tempat ia bertemu Nayra kemarin.
“Semoga kali ini aku bisa bertemu denganmu, Ra.”
Mobil melesat membelah jalanan kota yang cukup padat. Beberapa menit kemudian ia memberhentikan mobilnya tepat di depan Orchid Resto. Ia segera turun dari mobil dan menemui seorang pelayan yang sedang sibuk mengantar makanan ke pengunjung restoran.
"Permisi," sapa Zayn terhadap seorang lelaki yang membawa nampan.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya hanya mau bertanya, apa Anda pernah melihat wanita di foto? Apa dia sering makan di restoran ini?" tanya Zayn seraya menunjukkan foto Nayra di ponselnya.
"Oh, itu Bu Nayra, Pak. Beliau pemilik restoran ini," tukasnya.
"Apa? Pemilik? Benarkah?” pekik Zayn tak percaya.
"Iya, Pak. Maaf, ada perlu apa, ya?"
__ADS_1
"Oh, tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu, sok saya ke sini lagi, sekarang saya buru-buru. Terima kasih atas informasinya." Nayra berpamitan, dan tak lupa ia memberikan beberapa lembar uang berwarna merah dari sakunya.
“Rara ... kamu seorang pemilik restoran mewah itu? Sungguh sulit di percaya, apa semua ini hasil jerih payahmu setelah menjauh dariku? Atau ... jangan-jangan ada seseorang di balik kesuksesanmu? Tunggu aku, Ra, besok aku akan menemuimu, setidaknya aku sudah mendapatkan informasi penting tentangmu.”
***
Gaun elegan sudah di pilih diletakkan di ranjang, Dera merasa badannya sudah lengket akibat kelelahan memilih gaun, pekerjaan itu cukup menguras tenaganya karena berulang kali mencoba beberapa baju. Tanpa ia sadari, jam menunjukkan pukul 08.30, ia terkejut dan menarik napas panjang sambil melotot memperhatikan jarum pendek di dinding itu.
Dia berlari secepat kilat menuju kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya. Kali ini, tak ada lagi ritual mandi sambil luluran. Ia seperti mengejar bom waktu yang hampir meledak. Di ambilnya handuk di gantungan untuk membalut tubuhnya yang polos setelah mandi.
Dera menyambar blus berwarna cokelat dan celana jins di lemarinya. Tetesan air dari rambutnya yang masih basah mulai membasahi lantai kamarnya, sambil mengeringkannya menggunakan handuk, ia sibuk mencari paper bag untuk memasukkan dress-nya, agar lebih mudah membawanya ke salon.
“Ya ampun! Kenapa jamnya cepat sekali berputar sih!” gerutu Allena, sesekali netranya terus melirik jam di dinding itu.
Kakinya tak berhenti berlari-lari kecil, sampai akhirnya ia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa. Dia memanggil Bu Siti dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Bi!" teriak Dera.
“Bi, minta tolong lantai di kamar saya di pel, ya. Maaf sudah merepotkan,” pesan Dera pada Bu Siti, sambil tangannya asyik memakai high heels di bawah tangga.
“Iya, Nyah, nggak apa-apa. Kan, memang kerjaan saya , Bu.”
"Terima kasih, Bi. Saya mau pergi, ada acara sama Zayn. Nanti, pukul sepuluh jangan lupa jemput Kania sama sopir, ya."
"Baik, Bu."
"Ya, sudah saya berangkat dulu, Bi. Jangan lupa kunci pintu sama pagarnya."
"Siap, Bu!" jawab Bu Siti semangat.
Dera menuju mobil sambil menenteng paper bag berisi drees dan berangkat ke salon dengan sopirnya.
__ADS_1
Wanita berwajah cantik itu semakin sempurna tatkala Make Up Artist di salon langganannya meriasnya dengan teliti. Sedikit pun hampir tak ada celah kekurangannya, matanya di pasangkan lensa berwarna abu, rambutnya yang panjang lurus terurai diubah menjadi bergelombang.
Gaun berwarna navy itu melekat sempurna di tubuhnya, ia sengaja memilih warna itu untuk menyesuaikan warna jas Zayn agar sepada sebagai pasangannya.
Ia menatap cermin di depannya, memutar badannya seperti model sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
"Perfect, Beib ...!" ucap pelayan salon.
"Thank's, Beib! I've to go, now!" Dera pun keluar dari salon tersebut.
Dentingan ponsel dari tas Dera mengejutkannya, ia segera merogoh dan menggeser gambar hijau di layar benda pipih tersebut.
“Ya, Sayang. Aku sudah selesai, aku ke depan sekarang,” cakap Dera sambil berjalan dengan langkah pasti.
Tak lama, Dera sampai di tempat parkir. Zayn tampak berdiri bersender di mobilnya menunggu Dera keluar dari salon.
Begitu takjubnya saat Zayn memperhatikan penampilan Dera dari atas sampai bawah yang tak biasa. Ia terpaku, bola matanya tak berkedip memandang wanita yang berjalan ke arahnya itu. Dulu, lima tahun yang lalu, Zayn terbiasa dengan penampilan seksi Dera, tetapi sejak ia tak pernah lagi mengenakan baju seksinya, justru Zayn merasa terkesima saat ia mengenakannya lagi.
Dera memakai gaun berwarna navy yang berbahan brokat, detail gaun itu tampak indah melekat di tubuhnya yang ramping. Bagian bawahnya sedikit mengembang dan mempunyai belahan di bagian kiri mencapai pahanya. Juga di bagian bahu yang terbuka, tetapi masih menyisakan kain pada lengannya.
“Kenapa melihatku seperti itu, Zayn Sayang? Apa aku terlalu cantik?” tanya Dera dengan nada centil.
“Sial! Kenapa dia sangat cantik!” batin Zayn.
“Kita sudah terlambat, sebaiknya cepatlah naik!” perintah Zayn tak memedulikan perkataan Dera dan berpura-pura dingin.
Dera pun masuk ke mobil dengan senyumannya yang sedari tadi terukir jelas di bibirnya. Raut wajahnya tak dapat ia sembunyikan, bahwa saat ini ia sedang sangat bahagia.
***
D’Lato Cafe.
__ADS_1
Zayn berjalan beriringan dengan Dera. Tangan wanita itu melingkar pada lengan suaminya. Mereka berjalan dan menyapa beberapa orang di dalamnya. Zayn pun kemudian menghampiri sang pemilik kafe yang mengundangnya untuk mengucapkan selamat. Sambil berbincang-bincang dengan lelaki di depannya, Zayn juga mengenalkan Dera sebagai istrinya.