
"Perlu? Sama siapa?" tanya Dera sambil melepas tautan tangannya dari lengan Zayn.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Dera, Zayn langsung melangkah cepat menuju arah mobil Arkha dan Nayra.
"Permisi, maaf. Pak Arkha, boleh saya berbicara sebentar dengan Rara?"
"Rara?"
"Ah, maksud saya Nayra. Ada yang mau saya sampaikan padanya."
"Pak Zayn kenal sama istri saya? Ada hubungan apa?"
Nayra pun memicingkan mata pada Zayn sebelum Zayn menjawab pertanyaan dari Arkha. Ia memang lelaki yang tak tahu malu, benar-benar nekat dan tak peduli dengan status Nayra sebagai istri orang.
"Arkha, sebaiknya kita pergi aja. Aku tidak ada urusan dengan orang ini."
"Benarkah? Kalau memang ada, selesaikanlah dulu, aku akan tunggu di sini."
"Tidak. Ayo, kita pergi!" ajak Nayra. Ia langsung masuk ke mobilnya tanpa menghiraukan Zayn.
Rama pun akhirnya berpamitan pada Zayn, tak lupa mereka juga saling bertukar kartu nama.
Di dalam mobil, Ranja terdiam membisu, tatapannya kosong mengarah pada kaca jendela mobil. Lamunan Nayra menggugah pikiran Arkha untuk bertanya, "Sayang, kenapa melamun? Sebenarnya, siapa dia? Sejak kapan kamu mengenalnya?"
Nayra hanya menatap Arkha, matanya sayu, ia tak tahu harus berkata apa pada suaminya itu. Lagi-lagi, bola mata itu mengeluarkan tetesan air hangat yang membasahi pipinya.
Arkha pun curiga, merasa ada yang aneh dengan istrinya, karena sejak acara tadi hanya terdiam, tak seceria dan tak sesemangat di rumah saat memilih gaunnya.
“Apa yang kamu pikirkan, Sayang?”
“Ah, aku tidak memikirkan apa pun kok,” jawab Nayra berkelit.
"Ceritalah! Aku akan mendengarnya."
__ADS_1
Nayra pun terdiam, tetapi matanya tidak bisa berbohong jika dia tengah memikirkan sesuatu. Bahkan bola mata itu kini menatap Zayn tanpa sengaja. Arkha yang menyadarinya pun mulai bertanya. “Apa kamu mengenalnya?”
“Siapa?”
“Lelaki di sana, kamu mengenalnya?”
Nayra sedikit bingung bagaimana harus menjawabnya, di sisi lain dia ingin jujur, tetapi dia juga tidak ingin membuat Arkha berpikir tentang masa lalunya yang bahkan mulai ia lupakan.
“Dia ....”
“Ceritalah, aku akan mendengarnya.”
Nayra akhirnya memilih untuk jujur mengatakan semuanya tentang masa lalu bersama Zayn.
Arkha adalah sosok lelaki yang sangat dewasa, bahkan ia sangat menghargai apa pun yang istrinya lakukan selama itu bukan hal yang negatif. Dia yang selalu ada selama ini saat Nayra terpuruk, saat ia susah, tetapi wanita itu juga heran kenapa ia tidak bisa sepenuhnya mencintai Rama. Nayra malah menganggap Arkha adalah seorang kakak yang selalu melindunginya.
"Lalu, apa ada masalah yang belum selesai? Sampai dia mengejarmu."
Nayra terdiam, ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Arkha berusaha menenangkannya, merangkul dan mengelus bahunya. Rama jarang cemburu terhadap istrinya. Ia begitu percaya terhadap Nayra kalau istrinya tidak mungkin berselingkuh. Selama ini, Nayra juga berperan sebagai istri yang baik terhadap suami.
"Apa dia menyakitimu? Sayang ... dengarlah! Apa pun masalahmu dengan lelaki itu, sebaiknya di selesaikan atau kalian berbaikan. Agar tidak menyimpan kebencian yang begitu dalam di hati kamu. Percayalah, itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri."
"Tapi As, dia jahat. Dia membohongiku selama dua tahun."
Rama semakin erat memeluk Nayra di mobil itu, isakan tangis Nayra membuatnya iba. Sesekali ia mengecup lembut pucuk rambut Nayra. Dia seolah memutar kembali ingatan lima tahun lalu bersama Zayn. Rasa sesak menyeruak di dadanya.
Mobil hitam itu memasuki pagar rumah putih yang begitu besar, Arkha membukakan pintu mobil untuk Nayra. Tangan Rama melingkar pada pinggang istrinya sambil memasuki istana rumah mereka. Betapa beruntungnya Nayra dinikahi oleh seorang pria kaya raya yang sukses, mempunyai perusahaan di bidang periklanan.
Arkha sering di undang ke berbagai acara televisi karena ia sosok yang humble dan murah hati, bahkan ia tak segan-segan menggratisi iklan seorang wirausahawan pemula yang baru merintis.
Nayra dan Arkha menuju kamar mereka. Wanita itu bergegas ke kamar mandi, mengganti gaunnya dengan pakaian santai, ia juga menghapus make-up yang melekat di wajah ayunya.
__ADS_1
Sementara Arkha, ia melepas jasnya lalu duduk di tepi ranjang. Harusnya, ia langsung pergi ke kantor setelah sopirnya mengantar Nayra ke rumah. Akan tetapi, ia berubah pikiran saat melihat Nayra bersedih, ia enggan meninggalkannya.
Arkha merogoh sakunya, mengeluarkan kertas kecil yang diberikan oleh Zayn saat tadi tempat parkir. Tertulis nama Alzayn Dirgantara di sana, ia terus menatap kartu kecil berwarna putih biru itu.
“Kesalahan apa yang pernah kau buat, hingga Nayra begitu membencimu, gumamnya dalam hati. Arkha sebenarnya begitu penasaran, tapi ia tidak ingin terlalu menekan Nayra untuk bercerita saat ini.
Begitu Nayra keluar dari kamar mandi, Rama melihat istrinya yang sayu. Ia menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.
"Sini, Sayang!" Arkha menepuk tepi ranjang yang ia duduki.
"Maafkan aku. Aku belum bisa bercerita sekarang."
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu sampai kamu mau bercerita, tapi aku tidak mau kalau lelaki itu membebani pikiranmu. Tataplah aku, saat aku bersamamu. Jangan ada orang lain lagi, mengerti Sayang?" ucap Arkha sambil tersenyum, ia mengusap pucuk kepala istrinya. Jemarinya juga selalu memainkan rambut Nayra, sesekali ia menyelipkan rambut ke belakang telinga yang menghalangi wajah cantik istrinya. Nayra pun membalas senyuman tulus dari suaminya.
"Ehm, kamu .nggak ke kantor?"
"Harusnya ke kantor, Sayang. Tapi aku lihat kamu sedang sedih, nggak tega mau ninggalin."
"Ya ampun, aku nggak apa-apa kok, sudah sana berangkat!"
"Yakin, nggak apa-apa kalau aku tinggal?"
"Iya,. Kasihan nanti kalau ada yang mencarimu, di kantor juga pasti banyak yang harus di selesaikan, kan?"
"Ya, sudah kalau begitu. Aku berangkat dulu, ya. Jaga diri baik-baik. Kalau kamu mau keluar atau ke restoran, nanti sama Pak Hasan aja ya, sayang. Jangan nyopir sendiri. Aku bawa mobil yang satunya."
"Iya, siap, Bos!" Nayra tersenyum, perhatian Arkha selalu tercurah setiap harinya.
Arkha adalah sosok suami yang begitu perhatian dan sangat menyayangi Nayra. Namun, hal itu seolah tak cukup untuk membuat Nayra jatuh cinta pada sang suami. Nama Zayn terlalu begitu melekat di hatinya, rasa itu begitu dalam tersimpan rapi di relung.
Arkha pun beringsut dari tepi ranjang, diikuti oleh Nayra yang sigap mengambilkan jas untuk suaminya. Nayra kemudian itu membantu memasangkan jas itu ke badan suaminya. Mereka berjalan menuruni tangga, sesampainya di depan pintu. Arkha berpamitan pada istrinya itu, tak lupa, Nayra mencium punggung tangan Arkha. Perlakuan Nayra sebagai istri memanglah sangat sempurna di mata Arkha. Semakin hari, Arkha semakin mencintainya.
Pukul tiga sore, matahari bersembunyi dibalik awan gelap, sepertinya akan turun hujan. Nayra merasa kesepian, sendirian di kamar tidak melakukan apa-apa, sangat membosankan.
__ADS_1
Ia lalu mengganti bajunya lagi, memakai setelan santai, dengan outer hitam menutupi lekuk tubuhnya.