
"Pikirkanlah, Nayra! Aku hanya ingin kamu melihatku seorang, aku suamimu tapi aku tidak pernah memiliki hatimu. Tolong, buka mata hati kamu, Nayra!"
"Maafkan aku, Arkha. A--aku ...." Nayra berusaha menjawab, tetapi tenggorokannya seperti tercekat. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf, ia sangat merasa bersalah pada Arkha saat ini. Benar saja, manik indah Nayra mulai mengembun dan berkaca-kaca tanpa sepengetahuan Arkha.
Andai saja ia bisa berkata 'aku mencintaimu', mungkin kata itu yang akan lolos dari bibir merah Nayra karena bermaksud meluluhkan hati Arkha. Namun, bukan itu yang Arkha mau saat ini, meskipun Nayra mengucapkan tiga kata itu, Arkha tak akan luluh dan percaya begitu saja, karena ia tahu cinta Nayra hanya untuk Zayn.
"Kenapa diam? Maaf jika aku menyudutkanmu. Tapi aku memang harus mengatakan ini agar kamu mengerti bagaimana perasaanku. Aku selalu menjaga perasaan kamu agar tak pernah merasakan kesedihan, tapi kamu sekalipun tak pernah memahamiku, Nayra."
Nayra melipat bibirnya ke dalam menahan tangis yang menuntut air matanya untuk menetes. Ia cukup terkejut dengan barisan kata yang dilont Reno n Arkha melalui sambungan telepon itu.
"Aku memang bersalah sudah menyakitimu, tapi aku ...."
"Tapi apa, Nayra?" tukas Arkha dengan nada sedikit meninggi.
"Arkha, kenapa harus membentak? Aku minta maaf. Aku memang salah, aku terlalu bodoh, tidak bisa mngerti prasaan kamu sebagai suamiku. Tapi, apa aku tidak pantas mengucap kata maaf? Kamu benar-benar nggak mau maafin aku?"
Mendengar penuturan Nayra, Arkha membatin, "Mana bisa Nayra, mana mungkin aku bisa marah terhadapmu. Melihatmu menangis saja, aku tak tega. Bahkan, sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkanmu lebih dulu."
Arkha terdiam, ia memikirkan barisan kata yang akan diucapkannya. Berniat agar Nayra paham tanpa harus menyakiti perasaan istrinya itu.
"Apa kamu nggak pernah melihat ketulusanku selama ini? Apa kasih sayang yang kuberikan tak pernah cukup? Aku selalu berusaha untuk semua itu, Nayra. Aku hanya ingin membuat kamu bahagia ada di dekatku," terang Arkha dengan penjelasan yang cukup membuat Nayra menyesal.
Nayra terus mendengar perkataan Arkha, menyimaknya dengan fokus. Ia terdiam dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Padahal, selama ini aku sudah berusaha membuatmu nyaman denganku. Meskipun aku tahu, kamu tidak sepenuhnya mencintaiku. Berterusteranglah, Nayra, apa yang tidak kamu dapatkan saat bersamaku? Bicaralah! Agar aku tahu dan bisa mengubah sikapku."
Nayra sampai membungkam mulutnya yang kini mulai mengelu Reno n isak tangis, menahannya agar tak terdengar oleh Arkha. Saat ini ia merasa dirinya adalah wanita terbodoh, karena sudah menyia-nyiakan lelaki hebat yang kini berstatus sebagai suaminya.
"Arkha, aku tidak melihat ada kekurangan sedikit pun di dirimu. Aku hanya bodoh terlambat menyadarinya. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku?"
"Aku sudah memafkanmu, jauh saat kamu sebelum meminta maaf. Sebaiknya tak perlu dibahas lagi, setidaknya kamu tahu perasaanku, dan aku berharap kamu akan mengerti, apa yang harusnya kamu lakukan ke depannya."
"Terima kasih. Aku akan berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi." Nayra pun tersenyum lega meskipun Arkha tak bisa melihat senyuman itu.
Panggilan telepon itu masih berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya, Nayra teringat akan perusahaan yang sekarang sedang ditangani oleh suaminya. Ia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di Singapura.
''Bagaimana perusahaannya?'' tanya Nayra.
"Benarkah? Jam berapa kamu berangkat dari Singapura? Aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu, nanti kamu capek. Apalagi akhir pekan ini masa cuti, jalanan pasti macet."
"Tidak apa-apa, kok. Apa salah, jika seorang istri ingin menyambut kepulangan suaminya?"
"Arkha, bisakah aku melihat wajahhmu sebentar? Aku kangen. Sudah seharian ini aku tidak melihatmu."
Sekilas, raut wajah Arkha terlihat bersemu. Ia mengulas senyum tipis di bibirnya begitu mendengar pernyataan Nayra di seberang telepon. Baru kali ini Nayra mengucap kata kangen terhadap dirinya.
__ADS_1
Arkha mengalihkan pembahasannya, karena dia merasa masih sedikit menyimpan marahnya pada Nayra, ia berpura-pura seolah ia dingin dan acuh. Padahal, dalam hatinya ia sangatt berbunga-buga saat Nayra bilang merindukannya.
"Ah, aku belum mandi, sebaiknya nanti saja kita lanjut video call-nya. Kirim dulu foto kamu, ya," pinta Arkha.
Mereka pun menyudahi teleponnya yang cukup lama. Setidaknya rasa rindu di antara keduanya sesikit terobati.
Arkha pun bergegas ke kamar mandi untuk menjalani ritual mandinya.
***
Arkha keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di pinggang. Ia berjalan menuju tepi ranjang untuk mengambil ponselnya. Lagi-lagi binar bahagia terpancar di wajah Arkha. Cinta itu terlihat dari netranya yang begitu lekat menatap foto Nayra yang dikirim ke Arkha beberapa saat yang lalu. Terlihat, wanita itu tengah berada di ranjang kamarnya, dengan mengenakan piyama berwarna pink kesukaan Arkha,.
"Cantik," gumam Arkha.
Ia kemudian mengambil gambarnya, dan mengirimkannya kepada Nayra, dengan rambut yang masih basah.
Keduanya sudah seperti remaja yang baru merasakan kasmaran, tetapi kali ini Arkha memang benar-benar jatuh cinta dan sangat terpesona pada istrinya itu. Namun, berbeda dengan Nayra yang kini memang berusaha mengambil hatinya Arkha karena ia tak tahan dengan sikap dingin suaminya.
Selama ini Arkha memang sama sekali tidak pernah memarahi Nayra walau hanya sekecil apa pun.
"Apa sebaiknya aku harus sering-sering marah, ya, agar dia bersikap manis dan menggemaskan seperti ini? Arkha tersenyum penuh kemenangan," batin Arkha.
Saat ini, ia tengah berbaring di tempat tidurnya, meletakkan tangan kirinya di bawah kepala sebagai bantal. Tangan kanannya tak berpindah dari ponselnya yang kini terus ditatapnya.
__ADS_1
Foto Nayra dengan senyum manisnya terus dipandangi oleh Arkha, seandainya saja sekarang mereka berdekatan, pasti Nayra tidak akan selamat malam ini, karena Arkha pasti akan menyerangnya tanpa ampun di atas ranjang.