Gelora Cinta Masa Lalu

Gelora Cinta Masa Lalu
Apa Dia Mencintaimu?


__ADS_3

“Saya akan mencoba bicara pada Nayra. Saya juga tidak mau melihatnya terus-terusan melamun dan menghabiskan waktunya di kamar. Dia berubah, Zayn, tak seceria dulu. Mungkin jika kalian segera menyelesaikannya sekarang, Nayra tidak akan murung lagi.”


“Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar minta maaf.”


“Ya sudah, saya bujuk Nayra dulu agar dia mau menemuimu. Selesaikan masalah kalian baik-baik, ya.”


"Iya Bu, terima kasih."


“Aku berharap kali ini Rara mau menemuiku dan mau mendengarkan semua penjelasanku.” Zayn membatin seraya menatap punggung Fatimah yang berjalan masuk ke dalam rumah.


Selang beberapa menit Zayn menunggu, akhirnya Nayra keluar seorang diri tanpa Ibunya. Dia terlihat lemah, berjalan malas seolah langkahnya berat. Ia menghampiri Zayn, kursi roda Nayra tepat berada depan Zayn yang terhalang meja kecil.


Nayra masih terdiam tanpa menatap ke arah Zayn. Namun, berbeda dengan lelaki itu, tak hentinya ia terus memperhatikan Nayra.


"Apa yang mau kamu bicarakan? Cepatlah! Aku tidak punya waktu lama," tukas Nayra dengan pandangan kosong.


"Aku ... aku mau menjelArkhan semuanya tanpa ada kebohongan, Ra." Zayn mengetukkan telunjuk jari tangannya ke meja, tanda ia sedikit grogi.


"Ra, soal perasaan yang kupunya selama ini untukmu, itu benar adanya, aku benar-benar tulus sayang sama kamu. Perlu kamu tahu, selama ini pernikahanku sama sekali tak bahagia dengannya."


"Mana mungkin? Kamu terlihat sangat bahagia dengan potret keluarga kecil yang kamu tunjukkan ke aku." Nayra tersenyum sinis, ia berusaha menutupi kesedihannya.


"Tolong Ra, biarkan aku menjelArkhan semuanya dulu. Jangan memotong pembicaraanku, agar kamu tak salah paham," pinta Zayn dengan nada yang lembut.


"Baiklah."

__ADS_1


"Dua tahun lalu, setelah aku mengenalmu. Aku di jodohkan oleh pamanku dengan seorang wanita pilihan keluarga, dia bernama Shera. Itu juga termasuk amanah kedua orang tuaku sebelum meninggal, sejak di bangku kuliah. Aku sama sekali tidak mencintainya, Ra. Bahkan, aku kira aku akan berhasil menceraikannya, makanya aku tidak pernah bercerita masalah ini kepadamu, karena aku yakin akan hidup bersamamu di masa depan."


Begitu panjang penjelasan Zayn hanya disimak Nayra tanpa menatap lelaki di depannya, ia selalu meremehkan ucapan Zayn dengan senyum sinis yang terukir di bibirnya.


Zayn menarik napas panjang dan membuangnya  perlahan sedikit tertahan. Dia merasa sesak menjelArkhannya, takut ia akan melukai perasaan Nayra lagi dan lagi.


"Pikirku, aku akan terbebas setelah aku bisa cerai dengannya dan bisa melanjutkan hubungan kita. Namun kenyataannya, dia malah mengandung sebelum aku menalaknya, padahal sekalipun aku tak pernah menyentuhnya. Aku tidak tahu dia hamil dengan siapa. Yang jelas bukan aku. Itu semua semakin menambah rasa benciku terhadapnya," tegasnya dengan sedikit emosi.


"Gampang banget kamu mau menceraikan dia setelah kamu mengucap ijab kabul di depan orang tuanya. Hebat! Lelaki macam apa itu, sama aja kamu mempermainkan pernikahan!" geram Nayra terhadap Zayn.


"Rara ... mengertilah perasaanku sedikit saja, tolong! Aku menikahinya hanya untuk menjalankan amanah dari orang tuaku, tapi aku tidak berjanji untuk seumur hidup dengannya. Aku bisa menceraikannya kapan saja jika kamu mau," ungkap Zayn dengan penuh keyakinan dan kebencian terhadap istrinya.


Sementara itu, Nayra hanya terdiam. Mencerna semua pengakuan Zayn yang entah dia pun sulit untuk mempercayainya lagi.


"Lalu?" tanya Nayra setelah Zayn menatapnya, mengharap respons darinya.


"Apa dia mencintai kamu?" Pertanyaan Nayra seketika membuat hati Zayn semakin pilu.


"Aku rasa, sama. Dia juga tidak mencintaiku," terangnya dengan sedikit keraguan. Ia tak pasti apakah Dermencintainya atau tidak, karena selama ini Dera memang bersikap biasa saja pada Zayn, bahkan ia memperlakukannya layaknya seog suami pada umumnya.


"Bagaimana kamu tahu? Atau kamu memang tak pernah menanyakan kepadanya? Mencintai atau tidak, yang jelas statusnya adalah sebagai istrimu. Dia seorang perempuan, dan aku pun juga perempuan. Aku yakin di antara kita tidak akan ada yang mau diduakan," cetus Nayra, perlahan ia mulai menormalkan pikirannya yang sempat kalut sejak tadi.


"Ra, aku memang tidak pernah menanyakan hal itu kepadanya. Tapi, jika dia berhubungan dengan lelaki lain sampai hamil, apa itu pantas disebut istri? Jangan terus menyudutkanku, aku mohon! Mengertilah posisiku saat ini, Ra.”


“Kamu ingin dimengerti, tapi kamu nggak pernah ngerti, bagaimana perasaanku diperlakukan seperti ini. Sangat lucu!”

__ADS_1


Nayra menatap tajam ke arahnya, hingga Zayn tak mampu membalasnya. Pandangan itu sulit diartikan. Entah kemarahan bercampur kesedihan atau memang tengah menahan emosinya. Di sisi lain rasa iba dan cinta menjadi alasan utamanya untuk bersimpati pada sang mantan terkasih itu.


"Mau kamu menyentuhnya atau tidak, anakmu atau bukan, aku tidak peduli dan itu juga bukan urusanku. Jadi, lebih baik kamu kembali saja ke istrimu. Hiduplah bersama keluargamu, jangan mencariku lagi!" tegasnya sambil bersender kasar ke kursi.


"Ra, sampai kapan pun, aku akan tetap berusaha mendapatkanmu untuk kembali ke pelukanku lagi. Aku sangat mencintaimu, Ra."


"Jangan terlalu berharap!"


"Ra, please maafkan aku! Kenapa setelah mendengar semua penjelasanku kamu masih marah dan membenciku? Aku berkata jujur tanpa ada yang kututupi."


"Kamu tanya kenapa? Pertanyaan yang lucu." Nayra menyunggingkan bibirnya sambil berdiri.


"Kamu pikir semudah itu melupakan kebohongan yang kamu buat? Kamu pikir mudah, memaafkan sesuatu yang sangat menyakitkan? Nggak segampang itu, Zayn!"


"Lalu, aku harus bagaimana, Ra? Apa aku harus bersujud agar kamu mau memaafkanku? Sungguh, rasa ini sangat menyiksaku. Aku terus dihantui rasa bersalah karena telah menyakitimu. Sampai kapan pun  rasa sayangku tidak akan berubah sama sekali." Zayn beranjak lalu meraih tangan Nayra dan mengenggannya.


Nayra mengibArkhan tangan Zayn, ia kemudian menjalankan kursinya, memilih untuk beranjak masuk ke dalam rumah. Namun, dengan cepat Zayn menahan kursi roda tersebut.


"Jangan dulu masuk, Ra. Aku belum selesai."


"Setidaknya aku sudah mendengar semua penjelasanmu. Bukankah itu sudah cukup?! itu 'kan, yang kamu mau?"


“Zayn, semakin lama kamu berada di sini, semakin sulit juga aku melupakanmu. Batinku sakit karena aku masih belum bisa menghapus rasa ini dari dalam hatiku. Antara benci dan cinta, aku pun tak tau mana yang lebih besar bergelut di hatiku.” Nayra terus bermonolog dalam hati.


"Ra ... aku sangat merindukanmu." Zayn berkata lirih, matanya tak bisa berbohong bahwa dia sangat menderita saat ini.

__ADS_1


Nayra hanya terdiam dengan pandangan kosong.


"Aku ingin kamu memaafkanku, Ra," mohon Zayn dengan raut wajah putus asa.


__ADS_2