
Setibanya di restoran, Nayra hanya memantau kesibukan para karyawannya. Banyak yang melarang Nayra untuk terjun membantu di dapur, termasuk sahabatnya yang menjadi manajer di restoran itu.
Arkha sudah memberi peringatan sebelumnya, untuk tidak memperbolehkan istrinya itu kecapekan saat berada di restoran. Pada akhirnya, Nayra hanya duduk dan menghabiskan waktunya untuk berbaring di dalam ruangan. Tepatnya di sofa panjang yang menjadi favoritnya.
Jam menunjukkan pukul dua siang. Cukup bosan ia menghabiskan waktu dua jam untuk bersantai. Nayra ingin pulang sekarang, tetapi ia mengurungkan niatnya untuk beranjak dari sofa tersebut. Pikirannya saat ini terfokus pada Arkha—suaminya yang sempat ia acuhkan beberapa jam yang lalu. Ia sadar ada yang salah pada dirinya. Apalagi mendengar ucapan Arkha yang sedikit cuek saat di telepon tadi. Nayra sangat merasa bersalah.
Wanita itu lalu merogoh ponselnya di dalam tas. Kemudian, ia membuka layar terkunci dengan kode angka, tanggal pernikahannya. Jari lentik itu lalu mengarah pada logo aplikasi berwarna hijau, ia membuka pesan yang tertera nama 'Hubby' di sana.
“Arkha, masih sibuk?”
Nayra mengetik pesan tersebut dan dikirimkan ke nomor Arkha.
Setelah menunggu balasan cukup lama, Nayra memilih untuk berselayar ke sosial media. Selang beberapa saat, akhirnya pesan itu di balas oleh Arkha.
“Sebentar lagi mau meeting, nanti aku telepon kalau sudah di apartemen.”
Balasan pesan itu terlihat singkat dan kaku. Perasaan Nayra semakin tak karuan. Bahkan, Arkha tak menanyakan kabar Nayra, 'sedang apa sekarang, lagi di mana', padahal biasanya ia selalu perhatian dan sangat mesra, panggilan 'sayang' pun tak pernah ketinggalan.
“Baiklah, Ar. Aku akan menunggu kabarmu.”
__ADS_1
Pesan itu hanya dibaca oleh Arkha tanpa dibalasnya lagi.
Apa Arkha marah padaku? Atau, memang dia sedang sibuk? Sampai-sampai dia mengabaikan pesanku. Masalah apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan?
Nayra terus bertanya dalam hatinya, ia berusaha menjernihkan pikirannya agar tak melulu memikirkan Arkha yang mungkin marah padanya.
***
Langkah seorang lelaki itu tampak gelisah, seiArkha dengan benturan kaki ke permukaan lantai yang terbuat dari marmer. Kaki itu kian laju saat jam menunjukkan pukul empat sore waktu bagian Singapura. Arkha berjalan tergesa-gesa, di sampingnya juga ada Reno yang selalu siaga menemaninya.
Kedua lelaki itu saat ini sedang berada di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Mereka akan mengadakan pertemuan dengan rekan bisninya di perusahaaan besar yang sangat terkenal di Singapura.
Tak sia-sia Arkha dan Reno menyatukan pikiran, mencari jalan keluar, hasilnya cukup memuaskan dan membuat mereka bernapas lega. Satu per satu masalah kini sudah bisa teratasi.
Hari ini cukup melelahkan untuk Arkha. Ia yang baru saja tiba di Singapura, harus langsung mengurus perusahaan tanpa istirahat. Bahkan, ia tak sempat makan siang hingga hari mulai petang.
Di dalam mobil yang dikemudikan Reno , Arkha duduk dengan lemas, matanya sedikit terpejam merasakan ketenangan yang ingin ia nikmati sejenak.
"Arkha, kita mau ke mana? Apa mau bertemu programmer sekarang?"
__ADS_1
"Ah, tidak. Sebaiknya kita ke apartemen saja. Nanti malam kalau dia suruh datang bisa, 'kan?"
"Bisa aja, tempat tinggalnya juga tak jauh dari kota ini."
"Baguslah. O iya, kita makan di apartemen saja, ya. Aku mau lihat keadaan mama."
"Oke."
Arkha datang ke apartemen lama miliknya yang sekarang ini di tempati oleh mamanya. Ya, Fira yang selama ini mengurus perusahaan Arkha sedang syok berat. Tekanan darah tinggi yang ia miliki kambuh. Hingga akhirnya ia harus beristirahat dengan ditemani seorang suster yang siaga mengurusnya. Jika tak segera diobati, maka ia akan terkena stroke.
Mobil hitam berhenti di sebuah basement sebuah apartemen. Mereka menekan lift menuju lantai dua puluh.
Sesampainya di sana, mereka berdua langsung memasuki apartemen tanpa mengetuk pintu, karena Arkha masih hafal dengan kode nomor pintu.
"Ma, aku datang!" sapa Arkha menghampiri Fira yang terbaring di kamarnya yang mewah.
"Arkha ... maafkan Mama, sudah merepotkanmu soal perusahaan. Mama senang, akhirnya kamu datang juga, Sayang," ucapnya terdengar lirih.
Kejadian beberapa bulan lalu membuat Arkha menjauhi mamanya, saat di mana wanita itu bersikap kasar terhadap istrinya—Nayra. Meskipun Arkha memaafkannya, tetapi ia masih enggan menemui Fira. Ia hanya ingin menghindari konflik agar tak menyakiti hati satu sama lain.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Mama?"