
Bola mata itu terpusat pada gadis berambut panjang yang sedang duduk di kursi roda, memandangi bunga-bunga yang ada di depannya. Pandangan wanita itu seolah kosong, entah apa yang dipikirkan saat ini. Zayn terpaku saat Nayra ada di hadapannya, seperti mimpi. Namun, ada semburat pilu di mata itu, wajahnya yang dulu ceria, kini terlihat begitu sendu dan pucat.
“Aku semakin ingin menghukum diriku sekarang. Melihat Rara yang terpuruk akibat ulahku, apa aku bisa membuatnya tersenyum kembali seperti sebelumnya? Aku akan terus berusaha mendapatkanmu kembali, Ra.” Zayn terus bergelut dengan pikirannya.
“Assalammualaikum,” sapa Zayn dari depan teras rumah Nayra.
Tak ada jawaban dari Nayra, ia lalu sedikit maju satu langkah dan mengucapkan salam lagi. Namun, Nayra tak kunjung menjawab, mungkin dia memang tak mendengar suara Zayn.
“Sepertinya ia masih sibuk dengan lamunannya hingga tak menyadari kehadiranku di sini,” batin Zayn.
“Assalammu’alaikum, Rara.” Ketiga kalinya, Zayn mengulangi salam dan sedikit meninggikan nada suaranya agar Nayra mendengar salamnya.
“Wa’alaikum sa—”
Sahutan salam itu terpotong seketika saat Ranja menoleh ke arah Zayn. Ia sangat terkejut melihat kehadiran lelaki itu di rumahnya. Apa dia akan menerima Zayn sebagai tamu? Zayn hanya bisa berharap Nayra akan memaafkannya kali ini.
“Ra ....” Suara Zayn terdengar lirih.
“Kenapa ke sini? Belum puas menyakitiku?” bentak Nayra dengan suara gemetar. Dadanya seolah sesak, debaran jantungnya berdegup kencang menahan amarah, mengingat sakit yang selama ini menyiksanya. Namun, ada secercah kilatan cinta di mata gadis itu.
"Aku datang ke sini karena aku ingin menjelArkhan semuanya, Ra. Selama ini aku sangat tersiksa jauh darimu. Aku tidak bisa, aku tau kamu masih marah dan benci sama aku, tapi aku mohon dengarkan aku. Kali ini saja," pinta Zayn dengan raut wajah dan nada yang memelas.
“Pergi!” usirnya dengan suara gemetar. Air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata itu mulai lolos membanjiri pipi Nayra.
“Dia mengusirku ... ya tentu saja itu akan terjadi. Aku sudah memprediksinya, dia begitu membenciku. Bahkan berbicara padaku pun dia enggan menatapku, pandangannya fokus ke arah lain,” batin Zayn. Ia pun juga tak sanggup melihat reaksi Nayra yang begitu membencinya.
“Jangan ganggu aku lagi Kak. Pergi!” Nayra masih terus berteriak pada Zayn.
“Ra, sebentar saja, dengarkan aku! Dengarkan semua kebenarannya.”
“Cukup Kak! Aku sudah lelah," teriak Nayra dengan air mata yang mulai deras.
“Ra, aku sangat mencintai kamu. Kembalilah padaku. Aku mohon ....” mohon Zayn dengan suara seraknya.
Sepertinya Zayn sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya kali ini, ia terus memohon dan mengemis cinta pada seorang gadis yang dicintainya. Hidupnya sangat tak berarti jika berpisah dengan Nayra. Apalagi, ia selalu dihantui rasa bersalah yang mendalam akibat ulahnya.
“Kamu tahu, kan? Aku tulus mencintaimu. Tapi kenapa kamu tega mempermainkanku selama ini?” Akhirnya Nayra berhasil mengatakan sepatah kalimat walau dengan hati yang sakit.
“Ra, aku juga tulus mencintai kamu. Aku benar-benar hampa menjalani hidup tanpa kamu.”
__ADS_1
“Bohong! Kamu tahu arti tulus itu apa?!”
Zayn terdiam sesaat, mulutnya seolah terkunci rapat, bibirnya kelu tak mampu berucap. Hatinya sakit melihat Ranja terisak, pipinya semakin basah akibat air mata yang enggan berhenti.
Ingin rasanya Zayn menghapus buliran itu dan memeluknya. Namun apa daya, Nayra pasti akan menolak dan semakin membencinya.
Nayra menatap tajam Zayn dan berkata, "Lelaki yang tulus, dia tidak akan tega membohongi wanitanya walau sekecil apa pun, kau tahu itu, Kak?”
“Ra, boleh beri aku waktu untuk bicara? Sebentar saja," pinta Zayn.
Ia mulai mendekati Nayra dan mencoba berjongkok, mengimbangi Nayra yang tengah duduk di kursi roda. Namun, Nayra malah memundur ke belakang. Memilih untuk menghindari lelaki itu.
“Dan kamu! Kamu tidak hanya membohongiku. Tapi juga dia ... istrimu! Apa kamu sadar yang kamu lakukan, Ha?”
Suara gemetar yang keluar dari mulut Nayra bahkan bisa menyakitkan setiap orang yang mendengarnya. Gadis itu terlihat menahan ribuan tusukan belati dihatinya, tetapi ia masih mencoba untuk tegar.
“Rara ... Ra ....” Zayn mendekati Nayra dan berusaha meraih tangannya.
“STOP! Aku nggak mau percaya lagi sama kamu, Kak. Kamu itu terlalu misterius buat aku, terlalu banyak rahasia yang kamu sembunyikan dariku. Aku nggak mau jadi orang bodoh lagi, aku nggak mau di bohongi, dan aku nggak mau lagi mengenalmu!”
Zayn hanya terdiam, ia bingung apa yang harus dikatakannya. Melihat Nayra menangis dan berteriak saja, ia tak mampu mengendalikannya.
Mendengar kegaduhan di depan rumahnya, seorang wanita yang tengah menjahit di dalam rumah pun segera keluar, memastikan apa yang terjadi.
“Ada apa ini?” tanya Bu Fatimah yang keluar dari pintu utama.
“Ibu ...." Rara menjalankan kursi roda tersebut menghampiri ibunya dengan cepat.
__ADS_1
“Bu, maaf. Sa—saya ....“
“Aku takut beliau akan sangat marah jika tau, aku sudah membuat anaknya menangis bahkan terpuruk,” batin Zayn, ia menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan sendu seolah meminta pertolongan.
“Nak, duduklah. Bicaralah baik-baik," ucap Bu Fatimah pada anak gadisnya.
“Aku mau masuk aja, Bu. Nayra nggak mau lagi bertemu dengan dia!”
“Ya sudah, kamu masuk dulu. Ibu akan bicara dengannya.” Fatimah mendorong kursi roda Ranja dan memasukkannya ke dalam rumah.
“Zayn, ada apa ini sebenarnya? Dari kemarin sejak di rumah sakit, Ibu sebenarnya ingin tahu masalah kalian. Tapi, melihat kondisi Nayra, Ibu tidak tega. Apa tujuanmu datang kemari, Zayn?"
Walaupun lidah berat untuk mengatakannya, entah kenapa Zayn bisa mempercayai Bu Fatimah untuk membantu masalahnya dengan Nayra.
“Bukannya lancang mau ikut campur urusan kalian, tapi Nayra, dia anakku. Jadi tolong, ceritakan semuanya. Kenapa Nayra jadi seperti sekarang?”
Saat ini, hati dan jantung Zayn sudah tak karuan, tangannya di bawah kursi meremas satu sama lain. Kilas raut gugup penuh keraguan ia rasakan. Mau tidak mau, Zayn menceritakan semuanya pada Fatimah meskipun ia tak menjelArkhan rinci kejadian yang sebenarnya.
“Sebelumnya saya minta maaf Bu, ini semua salah saya. Saya sudah membohongi Rara, he maksud saya Nayra. Tapi, sebenarnya saya tidak ada sedikit pun niat untuk menyakitinya. Saya juga ingin menjelArkhan kebenarannya, tetapi Rara tidak mau mendengarkannya, Bu. Jujur saya sangat mencintai anak Ibu, maafkan saya.” Zayn menunduk tak berani menatap mata Fatimah.
__ADS_1
Zayn memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya pada ibunya Nayra. Ia tak peduli bagaimana nanti respons Fatimah terhadapnya nanti, yang terpenting, ia sudah berusaha untuk berterus terang, tetapi mustahil juga kalau saat ini ia harus bercerita tentang pengakuannya yang sudah menikah. Bisa-bisa Fatimah juga akan mengusirnya.