
Dua bulan telah berlalu, Nayra kini semakin pulih pasca operasi pengangkatan kista ovarium yang di deritanya. Selama kesehatannya belum pulih, ia hanya beristirahat total dan sama sekali tidak mengunjungi restorannya karena Arkha selalu melarang dirinya, walaupun itu hanya keluar rumah sekali pun.
Namun, hari ini Nayra bebas menghirup udara segar. Ia sama sekali tidak merasakan sakit lagi dan bisa pergi ke mana pun ia mau, termasuk restoran kesayangannya. Salah satu tujuan utama Nayra saat sembuh, tak lain adalah untuk menjenguk Zayn, sang mantan terkasihnya. Meski tak dibenarkan sebagai seorang istri bersikap berlebihan pada pria lain, tetapi nalurinya masih sangat susah untuk menjauhinya. Nayra seperti dibutakan masa lalu.
"Ah, sudah lama sekali aku tidak menjenguk Zayn, apa Kak Arkha akan mengizinkanku, ya?” gumamnya saat ia sedang mengeringkan rambutnya di depan wastafel setelah ia selesai mandi.
Tak lama, Nayra pun keluar dan menemui Arkha yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Lelaki itu tampak lebih gagah dan berwibawa saat mengenakan setelan jas berwarna hitam, dengan dasi bermotif garis melingkar di lehernya.
"Arkha,” panggilnya.
"Iya, Sayang, kenapa?"
"Boleh aku jenguk Zayn di rumah sakit?"
"Kapan?"
"Setelah sarapan nanti."
“Boleh Sayang, tapi aku akan ikut denganmu.”
__ADS_1
"Bukannya kamu mau ke kantor?" Nayra duduk di tepi ranjang sambil menatap suaminya dari pantulan cermin meja rias, lelaki itu sedang sibuk menata rambutnya.
"Aku hanya mampir sebentar, Sayang. Nanti kamu kalau mau pulang biar di jemput Pak Hasan. Tidak apa-apa, kan?" Arkha menghampiri Nayra dan duduk di sampingnya.
"Baiklah. Ya sudah, kalau begitu aku ganti baju dulu, ya."
"Iya, sayang, aku tunggu."
****
Arkha dan Nayra pun menuju rumah sakit untuk menjenguk Zayn. Sesampainya di sana, mereka menemui Dera yang kebetulan sedang berada di depan ruang ICU, tepatnya di balkon rumah sakit. Ia sedang fokus menatap pemandangan kota serta taman yang terletak di bawahnya.
“Dera,” panggil Nayra sambil menyentuh bahu wanita yang berdiri membelakanginya.
“Hai, Nayra. Kalian sejak kapan ada di sini?” Dera terkejut melihat kehadiran Nayra dan suaminya.
“Baru saja, kamu kenapa di luar? Apa sedang dilakukan pemeriksaan? Bagaimana keadaan Kak Zayn?”
“Pemeriksaannya sudah tadi pagi, aku juga baru saja keluar dari sana, cari udara segar. Keadaan Zayn masih juga belum ada perkembangan, entah sampai kapan dia bisa sadar.” Dera menatap lagi ke arah alam yang luas, ia seperti orang yang banyak pikiran, pandangannya juga kosong.
__ADS_1
"Apa kalian ingin menjenguknya?" tanya Dera, ia menoleh lagi ke belakang.
"Ya, aku ingin melihat keadaan Zayn," sahut Arkha yang berdiri di sebelah Nayra.
"Tapi, dokter tidak memperbolehkan dua orang masuk, hanya boleh satu orang bergantian," terang Dera.
"Baiklah, kalau begitu kamu duluan saja, Ar. Lagi pula, kamu juga harus segera ke kantor, kan?" timpal Nayra.
"Ya sudah, kalau begitu, aku masuk ya, Dera?"
"Ya, silakan!"
Arkha pun masuk di ruang ICU tersebut, ia memang benar-benar niat untuk menjenguk Zayn meskipun dia sebenarnya tahu, lelaki di depannya itulah yang selalu membuat hatinya sedikit memanas. Jika ia tak memiliki kenangan masa lalu bersama istrinya, mungkin ia akan berteman baik dengan Zayn.
Di sebelah brankar, Arkha berdiri menatap iba pria yang sebaya dengannya itu, kondisinya yang sangat lemah dan tak berdaya membuatnya merasa kasihan. Meskipun Arkha belum terlalu mengenalnya, tetapi dia memang tipe orang yang sangat peduli dengan orang lain.
"Zayn, aku tahu kau mencintai istriku, begitu juga sebaliknya, dari tatapan Nayra, aku juga sangat bisa membaca hatinya. Ya, selama ini, kamu memang selalu ada di pikiran Nayra, bahkan kamu juga menguasai hatinya. Tapi, asal kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu merebut istriku. Aku hanya ingin kau sadar dan membuka matamu bahwa Dera adalah wanita yang baik, ia sangat tulus mencintai kamu. Berubahlah untuknya, lihatlah masa depanmu! Dan jangan terus melihat ke belakang. Masa lalumu pun kini sudah ada di genggaman orang yang tepat, jadi jangan pernah mengusiknya lagi."
Arkha terus berbicara pada raga Zayn yang notabenenya tak ada kesadaran sama sekali. Ia hanya ingin menyampaikan segala unek-unek yang di pendamnya saat lelaki itu muncul kembali di kehidupan istrinya. Kalau saja saat itu Zayn tidak mengalami kecelakaan, sudah dipastikan Arkha akan langsung berbicara tatap muka dengannya dan memperingatkan untuk menjauhi istrinya.
__ADS_1
Setelah panjang lebar Arkha mengatakan sesuatu pada Zayn, ia bergegas keluar ruangan dan menemui istrinya untuk berpamitan.